Saya Senang Ditanya Kalian!


Bicara soal mimpi, mengadakan sebuah lomba menulis untuk adik-adik di Tegal adalah salah satu mimpi saya. Mimpi yang  terlintas beberapa tahun  lalu. Meski saya tak sendiri, tapi dibantu teman-teman SINTESA, lihatlah, Kawan, mimpi itu terwujud bukan?

Melawan Keterbatasan untuk Meraih Cita-cita. Sebuah tema yang diam-diam menyalurkan semangat adik-adik melalui torehan kalimat yang sangat memikat. Dahsyat! Barangkali saya tidak akan mengetahui bakat-bakat dan semangat kalian jika SINTESA tak mewadahi saya melaksanakan mimpi saya. Ah, rasanya saya semakin ingin menambah deretan mimpi saya. Apalagi setelah membaca karya-karya luar biasa kalian!

Dua minggu belakangan, ponsel saya sontak dirayapi oleh jajaran nomor asing yang bertubi-tubi menelurkan pertanyaan. Tahukah kau, Kawan, saya ini termasuk spesies  yang tidak terlalu suka ditanya. Akan tetapi, dalam hal ini saya justru merasakan nikmatnya sensasi menjawab pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan kalian yang membanjiri kotak masuk ponsel saya sedikit banyak membuat saya semakin mencintai dunia kompetisi. Sedikitnya ada lebih dari tiga puluh nomor yang menanyakan hal-hal terkait teknis pelaksanaan lomba.

Adik-adikku tersayang, tahukah kalian, betapa terharunya saya menerima puluhan semangat yang tersirat dari kalimat-kalimat tanya itu. Di usia semuda kalian, jiwa kompetisi sudah melekat erat. Sementara saya baru semangat berkompetisi setelah memasuki dunia kuliah. Kalian hebat, pertahankan semangat itu ya, Kawan-kawan kecilku🙂

Saya senang sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian. Tentang persyaratan, bagaimana bentuk narasi, sampai pertanyaan tentang karakter. Iya, Kawan, karakter itu tidak sama dengan kata. Satu karakter sama dengan satu huruf yang juga sama dengan satu spasi di komputer. Banyak sekali dari kalian yang tidak memenuhi syarat khusus ini. Mungkin ada beberapa dari kalian yang memang tidak tahu, atau malah tak memperdulikan jumlah karakter lantaran saking semangatnya bercerita. Tidak apa-apa, lain kali diperhatikan lagi ya? Tapi, saya tetap menjunjung profesionalitas, pelanggaran itu tetap mempengaruhi skor kalian🙂

Saya tahu, makhluk bernama keterbatasan itu terus mengikuti kita bahkan sampai pada batas kita harus menuliskannya untuk mengikuti lomba. Ada dilema yang mendera saya sebagai seorang yang bertanggung jawab atas terselenggaranya lomba. Hari terakhir batas penerimaan naskah, mendekati pukul sembilan malam, seorang adik mengirimkan pesan singkatnya.

Assalamualaikum Mb Suci?

Ngapunten, mau tanya..

saya ngirim email lomba

narasinya besok gpp? di sini

hujannya belum berhenti. td

siang di sekolah bnyk tgs

bgt…

Nurani saya terhenyak, teringat masa-masa saya berjuang menyelesaikan karangan di detik-detik terakhir pengumpulan. Mengadu seru antara jemari yang menekan keyboard dan pikiran yang melesat loncat dengan detik jam yang lebih cepat merayap. Saya ingat itu, saya ingin menjawab Iya. Namun, mendadak saya berpikir, bukankah saya menyayangi kalian? Bukankah saya ingin mengajak kalian memasuki dunia kompetisi yang penuh persaingan? Lalu kenapa saya harus mendobrak aturan?

Akhirnya dengan berat hati saya membalas pesan teman kalian dengan sikap profesional. Semua itu saya lakukan semata-mata demi kebaikan kalian. Banyaklah belajar dari kejadian, karena setiap kejadian adalah pesan🙂

Suci Indriyani, Sastra Indonesia 2010

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s