Sintesa: Tolong Jangan Padam


Dulu, ketika saya masih MABA, saya belum merasa Sintesa sebagai bagian yang penting dari hidup saya. Memang, saya sudah tahu Sintesa sejak SMA, atau lebih tepatnya saya kenal satu-dua senior SMA yang sudah ikutan Sintesa.

Bahkan saya terinspirasi untuk ingin masuk UI gara-gara briefing dari Sintesa. Namun tahunya saya itu belum cukup membuat saya selalu “deket” ke Sintesa sejak pertama jadi mahasiswa UI. Meskipun, saya ikutan datang juga pas Try Out Sintesa waktu itu yang mas Openk jadi PO-nya. Ya bantu bersihin sampah, bantu ikut ngabisin duit panitia karena ikutan makan-makan bareng, bantu ngerusak pemandangan karena ikutan foto-foto bareng,dll. Maklum lah MABA, pokoknya tahunya seneng sama rame.

Namun saya masih sering ilang-ilangan dari Sintesa, sampe acara biding PO Tour d UI pun saya nggak datang, padahal waktu itu ada training motivation juga katanya. Saya lupa apa alasannya, apa memang saya memilih nggak datang atau karena saya emang nggak dikasih tahu. Tapi yang jelas, saya kira itu terjadi karena saya masih “jauh” dari Sintesa. Saya baru mulai agak dekat ke Sintesa atau agak intens ikutan kegiatan Sintesa setelah jadi panitia halal bihalal Sintesa, katanya acara itu merupakan acaranya MABA, hajatannya MABA, acara angkatan, jadi ya sudah, saya tidak menemukan alasan untuk tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Apalagi teman-teman seangkatan rajin mengajak-ajak saya. Kini, tidak bisa saya pungkiri Sintesa sudah jadi bagian dari hidup saya. Kalau pake bahasanya pak Obama : “Sintesa adalah bagian dari saya”. Minimal, orang-orang yang saya kenal lebih dekat melalui Sintesa kini telah menjadi orang-orang terdekat saya, meskipun mungkin hanya satu-dua orang. Sekarang, kalau saya melihat, mengingat-ingat, menganganangan Sintesa, pikiran saya seringkali langsung berangan-angan betapa cerahnya masa depan Tegal kalau seandainya orang-orang Sintesa atau para alumni Sintesa ini nanti banyak yang pulang untuk membangun Tegal. Atau tidak harus pulang deh, tapi di dalam kandungan hati dan pikirannya tetap ada sebagian yang disisihkan untuk “mikiri” Tegal.

Saya sering mengkhayal kira-kira apa yang akan dilakukan oleh orang-orang ini 10-20 tahun lagi. Khususnya apabila ketika itu ikatan emosi, kedekatan, kehangatan dan “idealisme” komunitas ini masih kuat dalam diri kita yang mungkin sudah ada yang jadi walikota, bupati, pejabat dinas anu, departemen ini, atau pengusaha ini dan direktur/manager perusahaan itu.

Mungkin ada juga yang jadi ustad mushola/masjid di desa anu, jadi aktivis LSM ano, jadi orang yang kerjanya di luar negeri, serta tidak lupa juga yang tetap jadi orang biasa-biasa saja. Jadi “orang biasa” pun itu sangat tidak apa-apa karena bukan biasa atau tidak biasanya yang saya tekan dan pentingkan disini. Tapi ketika kehangatan dan kebersamaan serta idealisme komunitas ini tetap terjaga hingga saat medan yang kita “gupaki” sudah merupakan medan realitas masyarakat, bukan hanya dunia “gelembung” yang bernama kampus dan perkuliahan. 10-20 tahun lagi adalah saat dimana kemauan berbuat sesuatu sudah berdampingan dengan pengetahuan, pengalaman dan kemampuan yang memadai.

Saya selalu bergairah kalau membayangkan betapa kira-kira apa yang bisa kita lakukan bersama ketika itu, khususnya untuk Tegal. Apakah kita akan bikin yayasan A, sekolahan B, atau apalah, yang kira-kira positif untuk Tegal, artinya untuk kita bersama juga. Saya semangat ngomong begini karena saya salut sama orang-orang Sintesa. Orang-orang Sintesa itu, sudah nggak dibayar, nggak ada yang nyuruh, tapi dengan sukarela mau, bahkan dengan antusias, mengorbankan harta, pikiran, dan tenaga untuk “ngurusin” Tegal. Saya optimis orang-orang ini adalah orang-orang yang didalam kalbunya terkandung hasrat besar menjadi manusia baikbaik.

Dan sangat mungkin ada satu-dua, atau tiga, empat, lima atau lebih yang mendambakan bisa menjadi manusia yang turut serta membangun, memperjuangkan kemaslahatan masyarakat. Di samping itu, kebersamaan Sintesa saat ini saya rasakan menjadi hal yang semakin penting, lebih penting daripada yang saya rasa sebelum-sebelumnya. Saya kira, hati/jiwa-nya Sintesa itu ya kebersamaan dan kekeluargaan, otaknya intelektualitas, kaki dan tangannya keikhlasan dan rela berkorban, warna kulitnya kemurnian dan kepolosan, dengan wajahnya adalah -hendaknya- kegembiraan dan kehangatan. Saya pun sangat berharap hati/jiwa itu jangan sampai tidak diikutkan dalam gerak hidup Sintesa, karena kalau hati/jiwa ditinggal nanti Sintesa jadi kering dan hambar.

Kalau menganggap Sintesa adalah hanya masalah belajar profesionalitas, organisasi, bisa-bisa nanti lama-kelamaan muncul anggapan bahwa kawan-kawan dan pengalaman Sintesa adalah masa lalu. Yang tidak begitu menyenangkan dan lebih enak untuk dilupakan. Karena sejauh pengetahuan saya, sampai saat ini Sintesa kayaknya lebih merupakan medan “memberi” daripada “menerima”. Lebih terasa “menanam” daripada “memetik”. Dan mohon maaf, bagi saya pribadi, orang yang belum selalu “tune in” sama frekuensi akhirat, jalan hidup “menanam” belum menjadi sesuatu yang saya jadikan prioritas utama. Terus terang saja itu karena saya diajari ilmu ekonomi sejak smp. Bayangin, kita dididik untuk berprinsip “dengan modal sekecil-kecilnya, memperoleh laba sebesar-besarnya”. Maaf Med, saya tidak sedang nyalahin.

ilmu ekonomi, cuma ya kayaknya kita perlu memperluas cakrawalanya. Bahwa kita hidup tidak hanya di Dunia ini, jadi laba itu tidak harus kita peroleh di sini. Kesimpulannya, di Sintesa kita belajar tidak menerapkan prinsip ekonomi, atau bisa sih tetap dipakai cuma interpretasinya diperluas. Atau Sintesa nggak begitu-begitu amat mungkin, jangan-jangan Sintesa adalah hanya merupakan kumpulan orang-orang kesepian di tengah kota besar. Yang merindukan belaian kehangatan kampung halaman. entahlah, silakan anda ukur sendiri.

Kalaupun memang demikian, ya nggak apa-apa. Saya kira kita tetap sangat butuh kebersamaan dan kehangatan khas “desa” dalam kehidupan kota besar ini. Dan tetap, saya tegaskan, saya salut sama Sintesa, sama orang-orangnya, aktivis-aktivisnya. Bayangin, mau ngadain kegiatan, panitia nggak ada cukup duit, kas Sintesa pun tidak bisa diharapkan, tapi toh kegiatan tetap bisa jalan. Ada yang demi Sintesa rela menjadikan Jakarta-tegal jadi “kece-an”, tiap minggu bolak-balik Tegal-jakarta. Pembubaran panitia cukup makan bareng, tanpa reimburse yang sepadan dengan pengeluaran pribadi ketika menjalankan kepanitiaan. Makan bareng itu pun untuk semua anggota Sintesa, bukan hanya panitia. Pokoknya orang-orang Sintesa itu sangat tidak itungitungan. BEM UI atau organisasi-organisasi “resmi”di UI saya kira kalah dalam hal ini. Dan juga, kebutuhan kebersamaan itu, jujur saja, saya singgung karena saya sadar dan yakin diri kita ini bukan Superman atau Gatotkaca.

Sehebat apapun kita, kita tetap seorang manusia yang memiliki cacat, kekurangan, dan kelemahan. Apalagi, bagi orang-orang yang ingin “bertahan” dan mengisi hidup dengan ideologi “memberi/menanam” itu, jelas perlu kawan. Lebih apalagi, bagi mungkin satu-dua orang Sintesa yang hatinya mendamba bisa ikut “mengubah keadaan”, dengan level yang sudah lumayan luas, level kabupaten atau kota Tegal

Misalnya. Saya kira orang-orang ini sungguh-sungguh butuh teman sevisi dan seperjuangan. Contohnya gampang, bayangin, masak dibilang korupsi sudah menjadi budaya kita, betapakah maksudnya itu?? Jadi, saya rasa kebersamaan ini menjadi sangat penting dan akan sangat bermanfaat. Minimal untuk saling mengingatkan, karena kalau sendirian, sangat mungkin bukan kita yang mengubah, bisa-bisa malah kita yang diubah, mohon maaf ini saya ngomong begini. Tapi ah itu nantilah kita serius pikirkan, ini sekedar lintasan saja. Sekarang kan kita masih kuliah, masih ingusan dalam hidup. Kita belajar saja. Belajar apa saja, pokoknya yang penting sesuatu yang kita pelajari itu adalah sesuatu yang kita yakini positif untuk diri kita sendiri-sendiri dan kita bersama-sama. Sambil, kita terus hidup-hidupkan kebersamaan dan kekeluargaan itu dalam diri kita. Batin kita terus berangkulan dalam idealisme, biar tidak gampang padam api “memberi/menanam” itu oleh dahsyatnya angin zaman (jiaah bahasanya..).

Ya kadang kiyip-kiyip nggak papalah, namanya manusia ya kadang capek. Tapi mudah-mudahan jangan sampai padam. Bagi yang sempat padam atau belum menyalakan, mari kita belajar nyalakan dan semoga kita sanggup menemukan kegembiraan didalam prosesnya.

(ditulis oleh Adi Jaya : Elektro 2006)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s