Menelepon Pagi


DIA membuka mata pagi ini, sudut matanya mengkilat. Jemarinya reflek mengoles “kotoran” pagi itu diiringi semburat muka aneh yang malas. Sesuatu di balik bantalnya berdering. Bukan weker.

“Ididih, katanya calon mahasiswa UI, jam segini masih ngringkel[1] kaya gitu. Di mana letak ke-UI-annya?” kata mama di seberang sana.

Dia mengendus bantal zebra dengan muka masam. Ponselnya dibiarkan tergeletak, fasilitas loudspeaker pun dimanfaatkan.

“Aaah, Mama. . .ini kan hari Minggu, lagian capek belajar mulu. Istirahat dulu lah,”

suara mama mendekat, hampir mendekap.

“Hey, kalau soal istirahat, bukan sekarang saatnya. . .nanti sayang, sekarang kamu harus terus berjuang!” tidak ada jawaban yang menyembul, sepi. Sepertinya ada yang telah meninggalkan alam sadar. Lagi.

“Masih pengen masuk UI gak? Dari sikapnya sudah tidak meyakinkan.”

“MAU MAMA!!!”

Tubuh yang daritadi berkelakar dalam senyuman springbed itu terangkat mantap. Sorot matanya tajam, terisi semangat yang mendobrak malam. Ia lantas cepat beranjak, siap mengusir peluh dengan upacara basuh diri di kamar mandi.

Ponsel yang sengaja mengantuk di ujung kasur bicara sendiri

***

NAMANYA SENO, Seno Prasetyo. Suara bapak-bapak dari langgarlah yang membangunkannya pagi ini. Ia terbelalak, sudah subuh.

Sosok dirinya berjas kuning dengan lambang makara Univesitas Indonesia yang tergantung dalam sebuah bingkai menyapanya. Sebetulnya itu foto kakak kelasnya, Dia mengedit muka kakak kelasnya itu dengan foto KTP miliknya. Dibantu photoshop.

Seno duduk, menatap “foto”nya. Lalu merapatkan mata.

“Aku mahasiswa UI. Aku mahasiswa UI. Aku mahasiswa UI!” Desahnya pelan, takut ketahuan, disangka gila.

“Seno!!” suara melengking ibu membuyarkan konsentrasinya. Di tangan ibu tergenggam sebuah cungkir[2].

mau apa ibu ini?

“Bapakmu sakit, gantiin kerja bakti ya”

“Yaaah ibu. . .mas Sentot aja deh bu,”

“Kakakmu itu habis lembur semalam, kasian. Capek.”

Semalam aku juga lembur dengan soal matematika bu, capek. Ibu gak kasian?

“Aaah. .males bu,”

“Uda cepet sana! Mandi, subuhan terus berangkat!”

Ibu meninggalkan Seno berdua bersama cungkir di atas kasur kapuk. Seno bersungut-sungut menikmati “keromantisan” ini.

Kesal.

Dia menatap cungkir tiyengen[3] itu dengan wajah iba lalu melemparkannya ke tegel hitam kamar hingga menimbulkan suara kelontang. Pagi yang menyebalkan.

Untung, cungkirnya pintar, dia jatuh tepat di bawah foto imajiner yang dibuat Seno. Membuat sebisik suara muncul,

“Hey, anak UI gak boleh marah.”

Seno menatap fotonya, lalu nyengir.

Kerja bakti yang dipimpin Pak RT itu cukup menyenangkan. Sebenarnya tidak, tetapi saat sebuah kejadian menyebalkan menimpanya suara itu selalu muncul:”Anak UI gak boleh marah” dan dia dengan cepat mengelus dada. Sabar dalam sebingkai senyum.

“Seno, Seno!” ibunya, berlari kecil, menyincing daster batiknya yang sedikit lusuh. Tangan kanannya digetarkan oleh sebuah benda yang sering membuat anaknya tertawa sendiri: HP.

“Ini ada telpun, Mas Danu Sintesa.” baca perempuan tua berlesung pipi itu.

Seno malu-malu menampanya.

“Halo Assalamu’alaikum.”

“Oh iya Kang, hmm. .iya iya”

“Tapi kan nyong dudu eh durung dadi bocah Sintesa, isin oh. . .”[4]

“Karuan sih wong-wonge dewek.”[5]

“Apa? Oh. .iya iya, semangat tah nemen oh Mas, dongane bae ya. .”[6]

“Yo. Wa’alaikumsalam.”

Seno menyimpan HP-nya di saku. Ibu sudah sudah tidak setempat dengannya, mungkin sudah pulang, ia tidak memperhatikan tadi. Kalau sudah bicara dengan kakak kelas yang jadi anggota Sintesa dia suka lupa diri. Sepertinya dia benar-benar sudah terjangkit virus kuning stadium pungkas.

Seperjalanan pulang HP-nya berdering lagi. Kali ini dari Iqbal,karibnya.

“Sen, aja klalen klambine disetrika.”[7]

“Ha?”

“Ngesuk dewek pan nrima penghargaan seka Pak Kepala Sekolah ya…”[8]

“Oh iya, penyerahan piala juara olimpiade ngesuk ya, bar upacara! Ya ya pan ta setrika kiye klambine.”[9]

Klik, wajahnya sumringah. Sampai rumah Seno langsung mencari seragam terbaiknya, yang sudah setia menyerap keringatnya hampir tiga tahun terakhir.

Ia siap menyetrika. Beberapa menit setelah lampu setrika menyala merah, speaker aktif di kamar mas Sentot yang sejak tadi mengoarkan lagu cinta itu mendadak bisu. Di ruang tamu adiknya yang sedang menonton doraemon berteriak.

“Ibu. . . TV-nya matiiii!!”

Anjlog![10]

***

[1] Tertidur dengan posisi memeluk lutut

[2] Jenis alat bangunan yang dipakai untuk mengoleskan adukan semen ke tembok. Biasanya dipakai juga untuk menebas rumput.

[3] berkarat

[4] “Tapi aku kan bukan eh belum jadi anak Sintesa, malu dong..”

[5] “Emang sih sama orang-orang sendiri.”

[6] “Apa? Oh. .iya iya, semangat itu sangat Mas, doanya aja ya. .”

[7] “Sen, jangan lupa bajunya disetrika.”

[8] “Besok kan kita mau menerima penghargaan dari Kepala Sekolah.”

[9] “Oh iya, penyerahan piala juara olimpiade besok yah, habis upacara! Ya ya bajunya mau kusetrika.”

[10] Ketika daya listrik turun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s