Hey, Kalian yang Beruntung Itu!


Tulisan itu masih teronggok di sudut jendela kamar yang berdebu, bersih malas menyentuh. Sejak malam pengakuan mimpi itu berakhir tanpa sebuah keputusan, kalimat senada yang tertoreh di sana semakin banyak. Sayang, hanya sebuah kalimat yang tak mampu menggubah apa pun. Setiap keinginan itu menggebu, setiap ketakutan itu menyeruak, kalimat itu berdalih semacam mengobat lara yang menjelma menjadi antibiotik.

Uwi pengen masuk UI

Sederet alfabet yang terjalin rapat dalam sambungan makna adat.

Pagi ini, aku pun baru menuliskan kalimat itu lagi. Entah berapa banyak, yang jelas satu halaman buku yang kertasnya licin itu sudah terisi penuh. Namun, sama sekali tak memuaskan perasaanku. Muskil rasanya untuk melenyapkan mimpi yang terus berkecokol di kepalaku. Koreksi, bukan melenyapkan, tapi apa ya? Semacam solusi atas masalahku ini. Melenyapkan rasa takut akan mimpi itu barangkali. Ah, apalah namaya terserah, toh aku masih tetap tidak mengerti. Keterbatasan membuatku diam, tidak beranjak, apalagi bertindak. Tidak!

Seharusnya yang kutulis pagi ini bukanlah tulisan aneh itu, melainkan untaian rumus silabus yang siap membius para ambisius. Pihak kurikulum sudah berbaik hati dengan menerapkan jam tambahan ke-0 bagi siswa kelas XII. Setidaknya, tidak ada alasan bagi kami untuk tidur selepas subuh karena harus sampai di sekolah sebelum pukul enam. Aku ini siswa tak tahu terima kasih, bukannya menghargai malah memagari. Aku melewatkan pengorbanan guru matematika yang pasti bangun pagi-pagi sekali untuk memandikan anaknya yang berdasi merah dengan kebisuan mimpi yang merajam.

Sampai selesai, teman-teman bersorak. Sebagian mengeluarkan bekal sarapan, sebagian lagi melakukan senam pagi di bangku masing-masing. Aku masih tetap di posisiku, menyangga wajah dengan tangan telapak terbuka.

“Iqbal!” sepotong suara dari ambang pintu meruntuhkan kekuatan lenganku.

Yang disebut hanya mendongak kecil, tanpa ekspresi.

“Apa?”

“Selamat yah! Kamu ketrima PPKB UI! Keren!”

Aku terkesiap. UI, Universitas Indonesia. UI, yang kalau dibaca tetanggaku yang baru kelas satu sekolah dasar berbunyi “uwi”. UI, bagian dari sindikat perombak nalar itu. Iqbal, sosok terpintar di sekolah yang menyandang gelar standar itu diterima di UI.

Tiba-tiba saja dada ini bergemuruh. Terbayang olehku jika takdir yang baru saja terlukis menjamahku. Aku, aku yang diterima di kampus perjuangan itu. Imajinasi liar menggelegak di kepala. Bayangan predikat itu hanya meloloskan satuan air mata yang kalah dalam bendungan. Di sudut bangku yang menyepi itu air mataku ingin menangis, tetapi tak kuizinkan.

UI. Ya Allah…aku ingin UI, aku ingin!

“Oh, ngilenge neng ndi?”[1] Iqbal berkata datar.

Aku menaikkan alisku setengah, tak kulihat sepintas kebahagiaan pun di wajahnya yang memintar. Bahkan, rasa syukur itu pun tak dapat dilihat mataku yang telanjang. Sedikit pun dia tak menunjukkan rasa senang. Entah, tiba-tiba saja perasaan tak terima itu menyeruak, berkoar-koar tak terkendali.

Aku ingat, dulu ketika dia dipercaya oleh guru sejarah atas nilai-nilai teman sekelas, dengan bangga ia menyebutkan satu demi satu nilai kami. Dia memuji-muji kemampuan Ari yang berhasil meraih nilai sempurna tanpa cacat sedikit pun. Sementara dirinya sendiri harus puas dengan poin 95 lantaran lupa menuliskan nama pseodium Dowwes Dekker. Pada Amira lain lagi, dia membubuhkan senyum simpul sembari berkata “Nilaimu 90.” Lalu memberi tahu nilai Andi, Jaya, Kiki, dan teman lain yang terbiasa berurutan prestasi dengannya. Saat kutanya perolehan nilaiku padanya, lelaki yang diperebutkan guru untu jadi “asistennya” itu menatapku nanar sembari berpikir.

“44, terendah.”

Aku terjangkit apnea seketika.

Semua peraih nilai berkepala sembilan yang masih berkerumun di situ melihatku dengan muka masam, kasihan. Sejak saat itu aku merasa “lain” dengan lelaki yang katanya banyak dikagumi karena prestasi. Aku tak lagi menganggap hebat setiap kehebatannya muncul. Peristiwa selepas ujian tengah semester itu membuatku seringkali melihat kekurangan dibalik pujian-pujian yang dilontarkan orang untuknya. Aku sirik, barangkali. Aneh memang, dia hanya menjawab pertanyaanku, apa salahnya? Tidak tahu, tetapi aku masih menuntut toleransinya dalam menjawab pertanyaan. Seharusnya, tahu nilaiku sejelek itu tak perlu ia jawab pertanyaanku di situ! Di hadapan peraih emas dalam sejarah! Sakit hati, jelas.

Aku sirik, barangkali.

Menyebalkan sekali! Apa dia tak sadar betapa beruntungnya dia bisa mendapatkan UI dengan cara semudah itu! Dia tidak perlu tes!

“Penggumumannya di TU, Bal.” Dela, yang tadinya sangat bersemangat latah bersikap datar. Pengaruh lelaki tak pandai bersyukur itu.

Iqbal beranjak dari bangkunya, melangkah santai seperti mau mengambil kertas ulangannya yang sudah pasti sembilan. Melangkah biasa, tanpa ekspresi. Mungkin siswa teladan ini terlampau yakin sehingga ketika keyakinannya terwujud ia hanya menanggapinya dengan seutas senyum kecil, seperti tersenyum pada mantan tetangganya yang sudah pindah rumah.

Bukan salah siapa-siapa kalau aku begitu tak suka melihat sikapnya yang biasa. Maaf, dalam hal ini aku pun tak mau disalahkan.

Teman-teman mulai ramai memberi selamat, mengakui kehebatannya. Tak perlu Tanya bagaimana reaksiku, aku masih terpaku dengan mimpiku. Toh, kurasa dia tak butuh ucapan selamat, dari siapa pun!

Kalau aku jadi dia, aku pasti sudah melonjak gembira, teriak sekencang mungkin, melompat tinggi-tinggi lalu memeluk satu demi satu teman perempuanku. Mungkin, ini ekspresi yang sedikit berlebihan—sangat berlebihan malah—menurut Iqbal. Baginya masuk UI bukanlah sesuatu yang besar dalam hidupnya. Ketika ditanya bagaimana perasaannya, mulut logaritmanya menjawab “Biasa bae,”[2]

Ah, kebahagiaan itu memeng relatif!

Aku sirik, barangkali.

Menit-menit mengalirkan sisi marah dalam batinku. Mungkin aku iri, iri yang menggulung hati. Melihat sikapnya yang terkesan biasa membuatku berpikir bahwa dia seolah tak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah atas kebahagiaan ini. Apa Allah salah memberi kebahagiaan? Kalau Iqbal tidak bahagia dalam posisi ini, mengapa keberuntungan itu menyapanya? Mengapa bukan untukku saja yang begitu mengaharapkannya?

Hahaha. Betapa piciknya aku, siapa aku yang instan berkesimpulan hanya dengan sepenggal observasi abstrak? Kebahagiaan seseorang, orang lain mana yang bisa menilai? Picik, sungguh picik aku ini.

Iqbal tidak bahagia, kata siapa? Iriku tak ayal menembus rasa yang tersembunyi di balik jeruji hatinya. Hanya dia yang tahu, tentu saja.

Bosan dengan iri, malas dengan pengakuan selamat.

Di dalam gelap sepatu, rangkaian jari kakiku menari-nari meninggalkan kebosanan yang menghampiri

Begitu keluar kelas aku seperti melihat proyeksi diriku ketika mendapatkan UI dalam genggaman. Bersorak gembira, berlari kencang, meloncat tinggi, dan memeluk satu demi satu teman perempuanku.

Apa aku sudah benar-benar gila karena UI?

“Aku ketrima UI!”

“Iyaa… selamat yaa!”

“Ya Allah… Alhamdulillah…”

Sujud syukur. Merelakan hidung mencium keramik kotor bekas sepatu anak-anak, bekas jejak gerobak sampah, bekas tapak kucing yang baru kencing.

“Aku gak mimpi kan????! Gak nyangka banget, sumpah! Ini beneran kan?”

“Iyaaa… selamat! Selamat! Selamaaaaat!!!”

Aku melihat itu, jelas. Kebahagiaan yang melesat-lesat disetiap desir angin yang bernapas. Di luar nalar. Proyeksi itu begitu kuat, sangat kuat. Nyata, benar-benar nyata. Sampai sedengung suara menyapa,

“Weh, aja ngelamun ngarep lawang. Ora ilok.”[3]

Proyeksi kebahagiaanku menghilang ketika aku menoleh.

“Hehe, bisa aja…”

“Kantin yuk!”

“Gak ah, masih kenyang.”

Aku menoleh lagi, berharap proyeksiku belum luput.

Hwaaaaaaaaaaaaaaa…

Teriakan-teriakan itu masih kencang dan ini bukan proyeksi. Aku benar-benar perlu koreksi indrawi, sudah terkontaminasi khayalan tingkat tinggi.

“Del!” panggilku sedikit berteriak,

“Iqbal, sama tuh Ari… heboh banget yah!”

Ternyata yang bersorak gembira, berlari kencang, meloncat tinggi, dan yang memeluk satu demi satu teman perempuannya itu dia, bukan aku!

Mereka yang beruntung itu, betapa bahagianya aku bila berada di posisi mereka.

“Ya Allah, jika Engkau mengizinkan, berilah hamba kesempatan untuk turut sedikit mencicipi kebahagiaan mereka.”

Allah, aku pengin masuk….

Ponselku bordering,

“Mbak, ntar cepet pulang! Bu Manah ke rumah, nagih utang!”

[1] “Oh, lihatnya di mana?”

[2] “Biasa saja”

[3] “Hey, jangan melamun di depan pintu. Tidak baik.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s