Jalan Menuju Impian


Sisca Ellyanto (Jepang 2008)

Pendidikan adalah sesuatu yang mahal di negeri ini. Dari SD hingga Perguruan Tinggi (PT) membutuhkan uang yang tidak sedikit. Memiliki kesempatan melanjutkan sekolah sampai ke PT adalah impian semua anak di negeri ini. Namun, karena mahalnya biaya kuliah banyak generasi muda yang tidak mampu mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Aku termasuk salah satu orang yang beruntung yang bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dan aku sangat bersyukur kepada Tuhan akan hal itu.

Sebelum melanjutkan cerita ini, aku akan mengenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Sisca dan aku adalah anak tunggal. Mungkin orang-orang akan berpikir bahwa hidupku penuh dengan kebahagiaan karena aku adalah anak tunggal dimana semua keinginanku akan terpenuhi dan perhatian orang tua hanya tercurah padaku. Namun, kenyataannya tidak seperti itu,orang tuaku bercerai saat aku berusia delapan tahun. Sejak saat itu, aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Ibu harus berjuang sendirian untuk mencukupi kebutuhan kami, termasuk biaya sekolahku.

Setelah orang tuaku bercerai, aku dan ibu tinggal di rumah kakek dan aku pun harus pindah sekolah. Di sekolah yang baru, aku mendapat peringkat III di caturwulan I dan peringkat I di caturwulan berikutnya. Hal itu berlanjut sampai aku kelas enam. Aku terkejut dengan nilai-nilai yang aku dapat karena di sekolah yang sebelumnya aku tak pernah mampu menempati peringkat lima besar. Mungkin ini rencana Allah. Dia membiarkanku mencicipi sukses untuk menambah semangatku mewujudkan takdirku. Ibu selalu bangga terhadapku. Aku selalu melihatnya tersenyum saat hari penerimaan raport. Aku pun ikut bahagia karena aku bisa membuat orang yang paling aku sayangi tersenyum bahagia, walaupun apa yang aku berikan untuknya belum cukup untuk membalas semua pengorbanan yang telah ia lakukan untukku.

Sayangnya, senyum itu memudar saat aku duduk di bangku SMP karena aku tak mampu memberikan yang terbaik untuknya. Sakit rasanya melihat kekecewaan di mata ibu. Tuhan… aku ingin mengembalikan senyuman itu. Namun, manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan. Aku telah berusaha semampuku untuk memberikan yang terbaik untuk ibu tetapi aku tak pernah mendapat posisi teratas di kelas. Aku yakin ini adalah yang terbaik untukku. Tidak selamanya menempati posisi teratas adalah yang terbaik.

Saat duduk di bangku SMA pun nilai pelajaranku biasa-biasa saja tetapi label bahwa aku adalah seorang anak yang pintar tetap melekat dalam anggota keluarga dan teman-teman dekatku. Mereka seolah-olah berharap lebih padaku. Aku adalah harapan mereka. Itulah yang tertanam dalam benakku, bahwa aku harus menjadi pelita bagi keluargaku, terutama bagi ibuku dan aku tidak ingin mengecewakannya.

Sejak kecil ibuku selalu mengatakan bahwa setelah lulus SMA aku harus kuliah di sekolah kedinasan karena biasanya sekolah kedinasan tidak memungut biaya kuliah. Aku hanya menerima saja perkataan ibuku tanpa tahu maknanya karena saat itu aku masih duduk di bangku SD dan belum memikirkan tentang dunia perkuliahan. Karena telah tertanam sejak kecil, hal itu mengakar kuat dalam ingatanku bahwa aku harus meneruskan pendidikan di sekolah kedinasan. Sampai aku duduk di bangku SMA pun aku tidak pernah berpikiran untuk kuliah di tempat lain. Selain karena ingin mewujudkan impian ibu, aku juga tidak ingin membebani ibu dengan biaya kuliahku jika aku memutuskan untuk kuliah di tempat lain.

Lagi-lagi, manusia boleh berencana, Tuhanlah yang akan menentukan. Saat aku duduk di kelas tiga SMA, ada kakak-kakak yang datang dari berbagai universitas untuk mengenalkan universitas masing-masing kepada siswa-siswi kelas XII, salah satunya kakak-kakak dari Sintesa yang mengenalkan Universitas Indonesia. Saat itu, belum terlintas dalam benakku untuk kuliah di UI, yang aku tahu, UI adalah tempat kuliah bagi orang-orang berduit. Oleh karena itu, aku bahkan tidak berani bermimpi untuk kuliah di UI. Aku takut tidak bisa mewujudkan mimpi itu. Selain karena aku sadar akan kemampuan akademikku yang pas-pas an, aku juga tidak ingin membuat ibu semakin memeras keringat untuk membiayai kuliahku di UI.

Saat teman-teman bersuka cita akan ikut acara Tour d’ UI yang diadakan oleh Sintesa, aku hanya bisa ikut berbahagia tanpa bisa ikut pergi karena saat aku memberitahukan tentang Tour d’ UI kepada ibu, beliau berkata: “Untuk apa ikut acara itu, kamu kan ga akan kuliah di UI” padahal aku tidak mengatakan bahwa aku ingin ikut, aku hanya ingin memberitahukan hal itu pada ibu. Sejak saat itu aku tidak membicarakan tentang UI lagi di depan ibu. Satu hari sebelum keberangkatan teman-teman ke Depok, tiba-tiba ibu membolehkanku untuk ikut Tour d’ UI.

Aku tidak tahu apa yang membuat ibu berubah pikiran. Sebenarnya aku senang saat mendengar hal itu tetapi karena aku tidak punya persiapan untuk berangkat esok hari, jadi aku memutuskan untuk tidak ikut. Ternyata, ibu mendapat info tentang UI dari teman kerjanya yang mempunyai keponakan yang kuliah di UI. Sepertinya sejak saat itu ibu membuka hatinya sedikit untuk merelakanku kuliah di UI. Aku pun tak tahu kenapa tiba-tiba aku ingin kuliah di UI, seperti ada kekuatan yang meyakinkanku bahwa dengan kuliah di UI aku tetap bisa mewujudkan impian ibuku dan kuliah di UI mampu mengantarkanku menuju takdirku. Padahal sebelumnya, seperti yang sudah aku ceritakan, aku tidak pernah punya niat untuk kuliah di UI. Mulai saat itu, aku berani bermimpi untuk kuliah di UI karena aku yakin Tuhan akan memeluk mimpiku, seperti ucapan Arai dalam buku Sang Pemimpi: “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi itu.”

Karena niat untuk kuliah di UI mulai tumbuh, aku mencoba mendaftar beasiswa seribu anak bangsa. Aku tidak terlalu berharap bisa mendapat beasiswa tersebut karena pasti ada ribuan siswa yang memperebutkan beasiswa itu. Ternyata, aku dan teman-teman yang mendaftar beasiswa tersebut tercantum namanya sebagai penerima beasiswa seribu anak bangsa tetapi hal ini tidak berarti kami pasti lolos masuk UI. Kami harus lolos seleksi ujian masuk UI terlebih dahulu untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Beasiswa ini berupa keringanan biaya kuliah.

Setelah mendapat restu ibu, aku memutuskan untuk ikut bimbel di Jakarta bersama teman-teman yang juga ingin kuliah di UI. Kami berangkat setelah UN selesai. Ternyata, tahun ini (2008) UI membuka jalur masuk baru yaitu UMB (Ujian Masuk Bersama). UMB diselerenggarakan oleh lima universitas (UI, USU, UNHAS, UNJ, UIN Jakarta). Hal ini baru kami ketahui tiga minggu sebelum ujian UMB. Pendaftaran dimulai tanggal 19 Mei – 30 Mei 2008 dan ujian dilaksanakan tanggal 7-8 Juni 2008. Kuota untuk UMB mencapai 50,89% sedangkan SNM-PTN hanya 20% dan sisanya untuk jalur prestasi olimpiade/seni dan KSDI (Kerjasama Daerah dan Industri). Oleh karena itu, aku berharap dapat diterima melalui jalur UMB. Selain karena kuotanya lebih banyak, aku tidak perlu belajar lagi untuk SNM-PTN. ^^
Akhirnya tiba hari dimana aku harus berangkat ke Jakarta. Melihat semua anggota keluarga melepas kepergianku, aku menangis.

Aku tak bisa menahan haru. Tuhan… lihatlah wajah-wajah itu. Wajah-wajah yang penuh dengan harapan. Wajah-wajah yang selama ini telah mendukungku, yang telah membantuku dan ibuku, yang memberi kekuatan saat aku labil. Aku tak mampu mengecewakan mereka. Harapan mereka padaku begitu besar. Mereka selalu menganggapku sebagai orang yang mampu membawa perubahan dalam keluarga ini. Tuhan… aku tidak ingin harapan mereka luluh lantah. Aku ingin mewujudkan harapan mereka. Mulai saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak boleh pulang dengan tangan kosong. Aku harus pulang dengan status sebagai mahasiswa UI.

Perjalanan ke Jakarta tidak berjalan dengan lancar. Mobil yang kami gunakan mogok dua kali dan kami terpaksa berhenti di Cirebon dan menunggu mobil diperbaiki sampai pagi. Kira-kira pukul 07.00 kami melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah, perjalanan kali ini berjalan lancar. Sesampainya di tempat tujuan, kami langsung menuju basecamp Sintesa (Wisma Arjuna). Disana kami bertemu dengan teman-teman yang sudah berangkat lebih dulu. Setelah itu, kami menuju tempat kos. Tempat itulah yang menjadi saksi bisu perjuangan kami untuk memperoleh status sebagai mahasiswa UI. Tempat kami menggapai impian. Semua hal terjadi di sini, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan. Kami belajar, belajar dan belajar. Sepertinya tidak ada hari tanpa belajar. Selesai belajar di bimbel, kami belajar bersama kakak-kakak Sintesa.

Saat pengisian formulir aku belum tahu jurusan apa yang akan jadi pilihan utama. Karena aku memilih IPC, aku dapat memilih tiga jurusan dan aku memutuskan untuk mengambil dua jurusan IPS dan satu jurusan IPA. Aku sudah punya pilihan yaitu Psikologi UI dan Sastra Jepang UI tetapi aku tidak tahu jurusan mana yang harus jadi pilihan utamaku. Karena passing grade psikologi lebih tinggi, maka aku memutuskan untuk memilih psikologi menjadi pilihan utama tetapi setelah mendapat “wejangan” dari kakak-kakak Sintesa akhirnya dengan berat hati aku harus melepas psikologi.
Mereka mengatakan bahwa aku terlalu berani jika memilih kedua jurusan tersebut karena bedanya terlalu tipis. Saat itu, nilai nasional yang dibutuhkan untuk bisa lolos jurusan psikologi adalah 799 sedangkan untuk sastra jepang adalah 783 dan nilaiku selama mengikuti bimbel belum mampu menumbus angka 700. Aku bimbang. Aku tidak tahu jurusan mana yang harus dilepas. Pilihan yang sulit tetapi terkadang kita memang harus memilih. Setelah meminta pendapat ibu, aku akhirnya memutuskan untuk melepas psikologi dan menjadikan sastra jepang sebagai pilihan utamaku.

Hari ujian pun tiba. Berbagai macam perasaan bercampur jadi satu. Bersemangat, takut, khawatir. Kami harus bangun pagi-pagi karena tempat ujiannya cukup jauh. Bus yang ditunggu tidak kunjung datang. Hal ini membuat mental kami kacau. Kami takut tidak sampai di tempat ujian tepat waktu. Akhirnya, setelah satu jam menunggu, bus datang. Selama perjalanan kami berharap agar tidak telat. Tuhan mendengarkan doa kami. Kami sampai di tempat ujian tepat waktu. Di sana ada begitu banyak orang yang mempunyai mimpi yang sama denganku. Aku berkata dalam hati: “Tuhan, begitu banyak lawanku untuk memperebutkan bangku kuliah di UI. Mampukah aku?. Tuhan, Engkau tahu usahaku, jerih payahku. Hari ini aku serahkan semuanya pada-Mu.”

Selama dua minggu aku menunggu pengumuman. Hari-hari seakan berjalan dengan lambat. Aku tetap berada di Depok walaupun ujian UMB sudah usai dan tetap melanjutkan bimbel. Persiapan jika ternyata aku tidak diterima melalui jalur UMB. Akhirnya, hari penentuan pun tiba. Hari yang menentukan masa depanku dan teman-teman. Hari yang akan menjadi salah satu hari yang bersejarah dalam hidupku. 21 Juni 2008. Pengumuman UMB dibuka pukul 18.00 dan menunggu setiap detiknya terasa begitu lama. Menjelang pukul 18.00 suasana menjadi riuh. Semuanya membicarakan pengumuman. Semuanya berharap nama mereka ada dalam daftar orang-orang yang diterima. Ada yang langsung menuju warnet sedangkan sebagian yang lain memilih untuk membuka lewat HP tetapi aku hanya diam saja, takut melihat apa yang terpampang di sana. Tiba-tiba aku mendapat sms dari temanku.

Isinya mengabarkan bahwa AKU DITERIMA DI SASTRA JEPANG UI. Saat itu juga aku tak mampu menahan haru. Aku menangis. Aku tersungkur dalam sujud panjang, memuja nama-Nya, berterimakasih atas segala nikmat-Nya. Aku langsung menyampaikan kabar gembira itu pada ibu. Karena saat itu aku masih ada di Depok, aku tidak bisa melihat ekspresi ibu saat menerima kabar ini tetapi aku yakin ibu pun merasakan kebahagiaan yang sama. Ibu memintaku untuk melihat sendiri pengumuman itu. Karena saat itu dapat dipastikan warnet penuh, aku memutuskan untuk ke warnet esok harinya. Dan, aku melihat namaku terdaftar sebagai salah satu mahasiswa UI. Sekali lagi aku mengucap syukur pada-Nya.

Saat daftar ulang, ibu menemaniku padahal kaki beliau sedang sakit dan beliau tidak dapat berjalan dengan baik. Secara tidak sengaja aku melihat ibu menangis saat melihatku sedang berkumpul dengan teman-teman menunggu giliran untuk daftar ulang. Aku tak tahu arti tangisan itu tetapi semoga saja itu tangisan kebahagiaan.
Biaya kuliah memang selalu menjadi kendala bagi orang-orang yang keadaan finansialnya pas-pas an, termasuk diriku. Alhamdulillah aku dapat tinggal di asrama yang biaya sewa per bulannya tidak semahal kos.
Saat aku akan pindah ke asrama, ibu mendapat kecelakaan. Tulang kaki kanannya retak. Beliau tidak dapat berjalan untuk kurun waktu beberapa bulan. Jadi, aku membawa barang-barang dari Tegal menuju Depok sendirian. Karena kuliah belum mulai, aku tidak berlama-lama di asrama. Selain itu, aku harus menemani ibu. Karena kecelakaan tersebut, ibu tidak dapat bekerja untuk beberapa bulan. Itu berarti tidak ada pemasukan sedangkan pengeluaran yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Biaya kuliahku, biaya pengobatan ibu, dll. Tetapi, aku yakin Tuhan akan memberikan jalan keluar. Dia tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. Aku mencoba mencari informasi tentang beasiswa. Suatu hari, aku bertemu dengan seorang teman yang mempunyai tujuan yang sama denganku. Mencari beasiswa. Singkat cerita, kami akhirnya memperoleh beasiswa setelah melewati banyak prosedur.
Dari meminta formulir, menemui pembimbing akademik, bolak-balik ke rektorat, sampai ijin kuliah karena harus mengikuti wawancara. Semua usaha itu terbayar dengan beasiswa yang aku dapatkan. Biaya kuliahku selama empat tahun dibiayai oleh yayasan tersebut. Sekali lagi aku tersungkur dalam sujud panjang. Rencana-Mu begitu indah. Beasiswa tersebut tidak diberikan dengan begitu saja. Ada harga yang harus dibayar. Aku harus belajar dengan giat agar IP ku memenuhi syarat yaitu min 3,00. Alhamdulillah hingga saat ini aku mampu memenuhi syarat tersebut dan semoga saja bisa bertahan hingga aku lulus kuliah.

Perkuliahan

Hari pertama masuk kuliah tidak banyak teman yang aku kenal. Semakin aku mengenal mereka, semakin besar rasa kagumku pada mereka. Banyak diantara mereka yang sudah mahir berbahasa Jepang. Awalnya aku merasa minder tetapi akhirnya hal itu membuat aku tertantang untuk belajar lebih baik lagi di kampus perjuangan ini. Di program studi (prodi) jepang tidak hanya belajar bahasa Jepang tetapi juga mempelajari masyarakat, budaya, kesusastraan, linguistik, dan sejarah Jepang.
Hal ini membuat mahasiswa prodi Jepang tidak hanya menguasai bahasa Jepang tetapi juga memahami kehidupan, kebiasaan, cara pandang, dan pemikiran orang Jepang.

Di semester awal kami mempelajari bahasa Jepang I, pengantar sejarah Jepang, pengantar linguistik umum sebagai mata kuliah wajib jurusan serta MPK Terintegrasi dan MPK seni/olahraga sebagai mata kuliah wajib universitas. Jika ingin mengambil bahasa Jepang II di semester berikutnya harus lulus bahasa Jepang I, begitu seterusnya sampai bahasa Jepang VI. Jika tidak lulus bahasa Jepang I, maka di semester dua tidak boleh mengambil bahasa Jepang II dan harus mengulang bahasa Jepang I di semester berikutnya bersama mahasiswa baru. Jika tidak lulus bahasa Jepang dua kali maka akan di DO (droup out). Ini bukan untuk menakut-nakuti adik-adik SMA yang akan mengambil prodi Jepang ataupun prodi lain di FIB tetapi untuk memberi gambaran bagaimana kuliah di FIB UI, untuk memberi semangat pada kalian agar belajar lebih giat karena impian diperoleh dengan niat yang lurus dan usaha yang tidak mengenal lelah.

Ada banyak beasiswa untuk ke Jepang tetapi mungkin tidak sebanyak dulu. Salah satunya adalah monbukagakusho. Beasiswa ini dirancang khusus bagi para mahasiswa/i yang sedang kuliah di jurusan Jepang untuk meningkatkan kemampuan bahasa Jepang dan memperdalam pengertian kebudayaan Jepang. Program ini adalah program non-gelar dan lamanya adalah 1 tahun. Beasiswa ini memberikan  fasilita berupa:
1.    Tiket kelas ekonomi p.p. Indonesia (Jakarta) – Jepang.
2.    Bebas biaya ujian masuk, biaya kuliah, dan uang pendaftaran.
3.    Tunjangan bulanan sebesar ¥ 134.000 per bulan (ada kemungkinan mengalami perubahan).
4.    Peserta disediakan asrama yang pembayarannya diatur sendiri oleh penerima beasiswa.
Untuk bisa memperoleh beasiswa ini ada beberapa tahap penyeleksian: ujian tertulis dan wawancara. Bagi yang lulus wawancara akan direkomendasikan ke monbukagakusho dan yang lolos seleksi di monbukagakusho akan menjadi penerima beasiswa.

Kehidupan Kampus

Fakultas ilmu pengetahuan budaya (FIB) adalah fakultas yang penuh warna. Berbagai macam festival –yang diadakan oleh setiap program studi– ada di sini, mulai dari Korean Culture Day (prodi Korea), CultureFest (prodi Jerman), ChinoFest(prodi Cina), hingga Gelar Jepang (prodi Jepang). Gelar Jepang merupakan festival terbesar dibanding festival-festival lain. Acara ini diadakan satu tahun sekali dan biasanya selama tiga hari. Ada berbagai macam acara dalam gelar jepang seperti omikoshi, odori, cosplay, workshop (chanoyu, igo), lomba karaoke, permainan tradisional (kingyo,otoshidama,dll) dan yang paling ditunggu-tunggu adalah hanabi (kembang api).
Pada bulan Desember 2009 diadakan festival budaya (fesbud) dimana setiap prodi harus menampilkan ciri khas jurusannya. Acara dalam fesbud terdiri dari:
1.    GSR (Gelar Sastra Raya)  setiap prodi harus menghias stand seunik dan sekreatif mungkin
2.    PSPB  setiap prodi menampilkan tarian tradisional dan modern
3.    Arak-arakan
4.    PK (Petang Kreatif)  mahasiswa baru dari setiap prodi diwajibkan mempersembahkan sebuah drama. Acara ini diadakan sore hingga malam hari. Oleh karena itu, disebut petang kreatif.
Selain fesbud, FIB juga mengadakan olimbud (olimpiade budaya), FIB klasika, baksos, dll. Semua kegiatan ini diadakan untuk mengasah softskill para mahasiswa agar mereka tidak hanya pandai dalam hal akademik tetapi juga di bidang non-akademik.
Begitulah kehidupan kampus. Sebenarnya, tidak jauh berbeda dengan kehidupan SMA. Banyak hal yang dapat kita peroleh dari belajar di kampus. Kita tidak hanya belajar di kelas tetapi juga belajar berorganisasi, mengenal sifat dan karakter orang, mengasah kemampuan kita untuk tampil di depan umum, menjadikan kita lebih dewasa.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi adik-adik kelas XII yang akan memasuki dunia baru, dunia perkuliahan. Selamat berjuang. Jangan pernah takut untuk bermimpi. If you can dream it, you can do it & it is a dream when you try to reach it.

Tegal, 19 Januari 2010
Pukul 22.45

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s