Menggantung Asa di TIUI


Eka Purwani (Teknik Industri 2008)

Jika ditanya mengapa aku masuk UI, aku cuma bisa tersenyum. Tak seperti teman yang lain yang masuk UI karena pertimbangan prestasi, biaya, maupun nama besar. Aku cuma punya firasat, hidupku bakal di mulai disana! Hidupku akan lebih berwarna disana. Entah kenapa aku punya pikiran seperti itu. Mungkin kalian bertanya-tanya seperti apa ‘hidup’ku sebelumnya?
Sebagaimana anak pada umumnya, dulu aku sangat senang berteman dengan siapapun. Namun semua berubah saat aku masuk bangku SMP. Semua berawal saat masuk SMP, dimana aku mesti masuk SMP faforit pilihan orang tuaku. Aku jadi satu-satunya siswa dari SDku yang tembus ke SMP tersebut padahal sejujurnya aku ingin sekali melanjutkan ke SMP ‘pinggiran’ bersama sahabat-sahabatku yang lain. Aku iri melihat mereka daftar SMP rame-rame, berangkat rame-rame, bikin PR rame-rame. Meski aku tetap bersahabat dengan mereka tapi tak bisa sedekat dulu. Ditambah lagi, setahun kemudian aku mesti pindah rumah. Makin lengkaplah keyakinanku tuk tak lagi mempunyai sahabat. Buat apa, toh pada akhirnya kita akan berpisah juga. Seberapa pun bahagianya punya sahabat, saat berpisah semuanya hanya akan jadi seonggok kenangan di pojok ingatan. Benar-benar tak berguna! Hal ini kuwujudkan di sekolah. Aku jadi anak yang sangat pendiam, bukan karena sifatku, hanya saja aku malas punya teman baru. Hal ini terus berlanjut hingga SMA. Aku hanya berteman sekedarnya saja. Sekolah aku fokuskan untuk mengejar prestasi akademis, aku tak peduli dengan kegiatan ekskul atau OSIS.
Kelas 2 SMA aku mulai bosan dengan rutinitas sekolah. Setiap hari hidupku hanya berkutat pada hal-hal monoton. Bangun pagi, berangkat sekolah, pulang sekolah, berangkat les, bikin PR, nonton TV, tidur, dan hal yang sama berulang keesokan harinya. Hufft, aku mulai lelah dengan semuanya. Apalagi di tengah semester, ibuku mulai sakit-sakitan. Konsentrasiku terbagi, aku yang mulai jenuh dengan kehidupan sekolah, juga mesti menghadapi kenyataan ibuku terkena penyakit ginjal yang mengharuskan beliau cuci darah dua kali seminggu. Aku stress. Di sekolah aku jenuh dengan semua pelajaran yang membosankan, di rumah aku mesti sok ceria menemani ibuku (di hadapan ibuku aku harus slalu terlihat ceria, apalagi beliau sedang sakit. Aku tak mau menambah bebannya) Pelan-pelan aku mulai menyadari aku butuh sahabat. Bukan untuk tempat ‘berbagi’ (karena pada dasarnya aku tak biasa curhat pada siapapun), setidaknya tempat aku bisa ‘melupakan’ sejenak semua beban yang ada. Aku mulai  mencoba berteman lebih akrab dengan teman-teman sekelas. Ternyata aku bisa menikmati kebersamaan dengan mereka. Belajar bareng, nonton bareng, jalan-jalan bareng. Rasanya bebanku sedikit berkurang saat ngocol bareng mereka. Namun satu hal yang luput dari perhitunganku, aku mulai melalaikan kewajiban akademis hingga nilaiku merosot tajam. Akibatnya saat kenaikan kelas, aku terpental ke kelas terakhir.
Tahun terakhir di SMA aku berusaha bersikap serasional mungkin, aku berusaha mengejar ketertinggalanku dalam pelajaran. Aku mulai belajar menerima kondisi ibu yang kata dokter tak bisa sembuh (kec dengan cangkok ginjal yang mustahil sanggup dipikul keluargaku). Aku juga mulai berfikir tentang kelanjutan study ku kelak. Tapi aku tetap tak berani menentukan universitas karena kondisi keluargaku yang tak memungkinkan. Kesehatan ibu makin memburuk dan keuangan keluargaku tersedot habis untuk biaya pengobatan ibu. Aku tak ingin menambah beban keluarga dengan kelanjutan akademisku.
Saat kakak-kakak mahsiswa mulai briefing tentang berbagai universitas, aku hanya memperhatikan sambil lalu karena saat itu aku tak yakin bisa melanjutkan kuliah. Sebenarnya alasan utamaku bukan hanya masalah biaya (karena saat itu, ada beberapa universitas yang menawarkan banyak beasiswa termasuk UI), tapi karena aku tak tega meninggalkan ibu. FYI, dari dulu aku dekat sekali dengan ibu. Ibu tak hanya orang tua bagiku tapi juga sahabat, guru, sekaligus kakak yang selalu ada disampingku. Aku tak sanggup meninggalkannya disaat kondisi yang begitu memprihatinkan.
Suatu hari aku baca novel She (diangkat dari kisah nyata), berkisah tentang dua pribadi yang punya kesamaan nama namun punya kehidupan yang sangat bertolak belakang. Namanya Dhinar dan Dinar. Dhinar adalah pribadi yang sangat introvert, anti sosial, penurut, dan selalu jadi juara umum sekolah. Namun di balik itu semua, sebenarnya dia sangat tertekan dengan kondisi tsb karena segala sesuatu dalam hidupnya sudah diatur orang tuanya, bahkan sampai cita-citanya. Dinar hanyalah ‘robot’ yang mesti melaksanakan perintah mereka. Lain halnya dengan Dinar, dia anak yang ceria, troublemaker d sekolah ^^, dan punya segudang teman. Dia hidup dengan segudang mimpi yang selalu berusaha dia wujudkan satu per satu.

Namun dibalik sikap cerianya, sebenarnya Dinar juga tertekan dengan sikap orang-orang disekelilingnya yang selalu mengharapkan dia tuk mengikuti jejak kakaknya yang ‘sempurna’ (kakaknya anak kedokteran UI), bahkan orang tuanya selalu membanding-bandingkan dia dengan sang kakak bak membandingkan neraka dan surga ^^. Secara tak sengaja, mereka dipertemukan nasib dan akhirnya menjadi sahabat dekat. Diam-diam mereka saling mengagumi satu sama lain. Pelan-pelan Dhinar mulai menikmati punya seorang sahabat, dia mulai menyadari arti hidup. Dia mulai belajar banyak dari Dinar tentang arti cita-cita, prinsip hidup, dan mimpi. Dhinar mulai menata hidupnya, dia berusaha menunjukan eksistensi dirinya.
Nah, dari dua tokoh ini aku mendapat banyak pelajaran. Aku mulai menyadari pentingnya arti sebuah mimpi sebagai sayap kita meraih asa. Aku renungkan semuanya, mencoba bersikap rasional. Dengan kondisi keluargaku saat ini, apa yang bisa kulakukan. Apakah aku hanya bisa menemani ibu seumur hidup tanpa mengubah apapun?? Atau aku memilih ‘meninggalkan’ ibu (red. kuliah) dengan harapan suatu saat nanti akan mampu memberikan pengobatan yang terbaik untuknya?? Berat memang, tapi aku harus memilih. Akhirnya kuputuskan untuk kuliah. Toh dari dulu orang tuaku sangat mengharapkan aku kuliah. Aku tak ingin memupus harapan itu. Mungkin saat ini, cuma ini yang bisa kulakukan. Bismillah, aku mulai membangun keyakinan dan memilah-milah universitas masa depanku. Aku belajar seobjektif mungkin. Aku singkirkan masalah keluargaku, biaya kuliah, dan kesanggupan akademis. Aku  mencari universitas yang mampu membangun ‘karakter’ bukan sekedar membangun sisi intelektualitas. Aku tak ingin ‘sekedar’ kuliah. Hidupku terlalu berharga tuk dihabiskan sekedar ‘bacatulis’. Kebetulan saat itu, Sintesa tengah promo program “Tour d UI” yaitu tour keliling ke 10 fakultas UI yang berada di Depok. Sebenarnya saat itu aku belum tertarik masuk UI, juga belum punya rencana mo ngambil jurusan apa. Niatku hanya ingin melihat kehidupan real disana. Aku minta pertimbangan bapak dan ibu, ternyata mereka malah mendukung. Jadilah aku ikut Tour d UI.

Dari acara ini, aku benar-benar mendapat informasi dan motivasi yang luar biasa. Aku begitu antusias berkeliling ke tiap fakultas dengan berbagai penjelasan tentangnya. Aku langsung betah dengan suasana disana. Selama dua hari itu, akhirnya aku tertarik untuk masuk FTUI. Saat itu aku belum memutuskan jurusan mana yang akan aku ambil. Aku hanya tertarik dengan kehidupan fakultasnya. Semua mahasiswanya tampak bersahabat, dekat satu sama lain, dan terlihat sangat menikmati kehidupan disana. Rasanya mereka tak punya beban apa pun. Dalam penampilan mereka juga terlihat lebih santai dari dari mahasiswa fakultas lain. Selain itu lingkungan disana tampak sangat dinamis. Hal ini cocok sekali dengan pribadiku yang tak suka dikekang dan ogah ribet. Inilah yang membuatku tak lagi berfikir dua kali tuk memilih FT sebagai fakultasku kelak. Gaceb y alasanku?? Aku berfikir, untuk menghabiskan 4 tahun masa kuliah yang menyenangkan, suasana kampus sangat menentukan. Hhehehe

Di malam terakhir Tour d UI, kami disuruh memilih dua jurusan impian kami. Saat itu aku mulai menelaah satu per satu jurusan di FT tuk kupilih jadi jurusanku kelak. Aku utamakan sesuai dengan minat dan kemampuanku karena aku yakin apapun jurusannya, asal ditekuni dengan baik pasti akan berbuah manis. Aku sangat suka merancang sesuatu entah itu barang, kegiatan, atau hal lainnya. Dengan hal itu, aku berencana punya usaha sendiri di masa depan. Selepas kuliah kelak aku tetap akan bekerja, tapi itu sebatas untuk mencari modal dan pengalaman karena sebagaimana aku katakan tadi, pada dasarnya aku tak suka dikekang dan ogah ribet. Jadi bakal lebih enak kalo punya usaha sendiri, semua management nya bisa kita atur ^^.

Berdasarkan pertimbangan ini, aku pilih Teknik Industri karena  yang dipelajari adalah ilmu perancangan untuk mengoptimalkan fungsi suatu hal (bisa barang maupun system). Di TI kemampuan entrepreneurship akan kita diasah sehingga secara tidak langsung kita diharapkan mampu menciptakan lapangan usaha sendiri. Saat itu, pilihan kedua aku ambil elektro UI, namun itu sekedar alternatif ^^

Aku mantapkan hanya akan kuliah TIUI, itu aku buktikan dengan tidak mengikuti ujian masuk universitas manapun kecuali STAN (amanah orang tua ^^). Selanjutnya aku mengikuti UMB di Jakarta, bareng dengan 5 orang temanku (banyak hal gaceb saat itu ^^). Namun karena kurang serius belajar dan terlalu ‘dimanja’, akhirnya aku dan teman-temanku tak ada yang lulus masuk UI, hanya seorang teman diterima di UNJ. Sedikit banyak hal itu membuat aku kecil hati, UMB yang kuotanya 1xx (seratus sekian orang, aku lupa tepatnya berapa, Hhehe) orang aja aku nggak masuk, gimana SNMPTN yang cuma 20 orang?? Apa lagi saat itu, TIUI menempati grade tertinggi kedua setelah kedokteran UI. Namun itu tak berlangsung lama, aku mulai membangun optimisme diri. Aku harus bisa masuk TIUI atau terpaksa aku harus masuk STAN (saat itu aku bikin perjanjian dengan ortu, kalo bisa boleh daftar UI tapi kalo gagal aku harus masuk STAN) bahkan tak kuliah sama sekali.

Sesampainya di Tegal, aku konsultasi dengan guru bimbel. Saat aku bilang TIUI menjadi pilihan pertama SNMPTN, beliau bilang itu bunuh diri. Dengan kuota yang kecil dan grade setinggi itu, hampir dipastikan aku akan gagal. Terlebih lagi aku udah gagal di UMB. Aku disarankan untuk ambil TI di universitas lain atau ambil jurusan dengan grade lebih kecil di UI. Saat itu aku cuma iya iya aja, aku pilih fisika UI, geografi UI, dan management UNS (sekedar bikin beliau senang, Hhehe) tapi tetap dalam hati aku pilih TIUI. Begitu juga yang ku isi di formulir SNMPTN. Saat itu pertimbanganku cuma satu, aku nekat pilih TIUI atau aku nyesel seumur hidup gara-gara nggak berani nyoba di kesempatan terakhir. Akhirnya aku pilih TIUI, Fisika UI, dan Management UNS. Sengaja pilih IPC, karena aku ingin pilih semua di UI. Jadi untuk universitas region II aku pilih Management UNS. Itu juga soal IPSnya nggak aku kerjain sama sekali, cuma digambar-gambarin aja. Hahaha..   Alhamdulillah, berkat doa ortu (doa ortu satu-satunya harapan karena aku pas SNMPTN aku belajanya gaceb banget T.T) aku masuk ke TIUI. Yipppeeeeeeee…

Ternyata pilihanku tak keliru. Apa yang aku pelajari di TI sesuai dengan bayanganku. Disana aku belajar banyak hal baru. Kita tak hanya dibekali dengan kemampuan perancangan barang sebagaimana teknik lain, tapi kita juga dibekali ilmu management untuk mengoptimalkan kerja sistem. Belajar di TI ternyata sangat mengasyikkan karena kita dibekali banyak ilmu seperti ilmu psikologi, hukum, ekonomi, ergonomic, dan dasar-dasar ilmu teknik lainnya seperti pengetahuan bahan (Teknik Melaturgi), gambar teknik (Teknik Mesin), mekanika teknik (Teknik Sipil), dll. Sedangkan untuk ilmu TI sendiri ada fasilitas industri, quality control, operation riset, dll. Semua ilmu-ilmu ini diharapkan dapat membekali seorang sarjana teknik industri agar kompeten di bidangnya dalam dunia kerja nantinya karena pada umumnya sistem bersifat kompleks dan kita belum tahu nantinya kita akan terjun dibidang apa. Bisa di perminyakan, pertambangan, otomotif, elektronik, periklanan, jasa telekomunikasi, atau bank.

Kehidupan kampus adalah hal pertama yang membuat aku begitu tertarik masuk UI, terutama TIUI. Kehidupan sosial disana sangat menyenangkan, semua begitu dinamis. FT sangat dikenal dengan kekompakan dan solidaritas mahasiswa yang begitu tinggi, dan memang itulah yang aku rasakan disana. Dari awal kuliah, kedua hal itulah yang selalu ditekankan pada kami. Acara Mabim (red. masa bimbingan, semacam ospek fakultas) juga didesign untuk menumbuhkan kekompakan dan solidaritas angkatan. Mulai dari tugas mabim yang begitu banyak dan menuntut kerjasama tim, sampai perlombaan antar angkatan untuk memacu kekompakan angkatan. Hal ini tak hanya jadi sekedar formalitas saja dalam mengerjakan tugas mabim melainkan tanpa disadari juga berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Seperti saat seorang teman mewakili angkatanku untuk LDT (Lomba Debat Teknik). Kebetulan tim TI masuk final. Saat itu, final LDT diadakan mepet waktu libur lebaran. Temanku sudah beli tiket pulang dengan tanggal keberangkatan sebelum final LDT diadakan. Namun dengan rela hati, ia bersedia membatalkan tiketnya dan tetap mengikuti final LDT. Teman-teman TI juga tak tinggal diam, kami berusaha mencari tiket pengganti untuknya. Kebetulan saat itu di Jakarta persediaan tiket sudah habis. Terpaksa kami beli tiket keberangkatan dari bandung. Alhamdulillah dapat. Yah meski akhirnya di final TI kalah, kami tetap mengumandangkan yel-yel TI dengan bangga. Kami tidak menyesal kalah di final karena sesungguhnya LDT hanya sarana untuk menumbuhkan semangat solidaritas dan kekompakan jurusan dan kami sadar kami telah mendapat banyak pelajaran dari event tsb. Tanpa kami sadari kami jadi lebih kompak dan lebih dekat satu sama lain.

Untuk masalah akademis, sebagaimana mahasiswa pada umumnya, kami saling berlomba untuk mendapat hasil terbaik. Namun hal itu tak menjadikan kami jadi individualis. Kami sering bikin tugas rame-rame. Bila ada seorang di antara kami yang sudah bisa mengerjakan, biasanya dia akan mengajari kami. Biasanya sih kami berkelompok untuk menyelesaikan tugas, baik tugas individu maupun kelompok. Hal ini akan mempermudah kami menyelesaikan tugas yang seabreg banyaknya. Adakalanya kami bisa mengerjakan tugas hingga dini hari. Apabila dikerjakan sendirian tentu sangat berat, tapi kalo rame-rame justru seru. Di kala kantuk datang, biasanya kita pesen kopi atau camilan. Lalu rehat sejenak sekedar untuk bercanda, ngobrol, atau ngemil. Seru bukan?? Tak hanya tugas bisa kelar tapi juga bisa makin akrab dengan teman-teman.

Di FT, khususnya TI juga ada sistem kakak asuh. Jadi setiap anak di TI punya kakak asuh tempat dia bisa konsultasi masalah akademis maupun pinjem buku. Untuk pengisian IRS (pengisian mata kuliah di awal semester) di FT, setiap mahasiswa harus menyerahkan hardcopy IRS untuk ditandatangani PA. Hal ini tak dapat diwakilkan kecuali melalui surat kuasa. Enaknya di TI, untuk teman-teman yang nggak bisa datang ke depok, semuanya diurus sama ketua angkatan melalui surat kuasa. Baek bener kn?? Hhehe

Iklim organisasi di UI sangat dinamis, begitu juga di FT. Di TI sendiri sangat ditekankan untuk mengikuti organisasi karena banyak makul TI yang dapat diterapkan dalam organisasi. Misalnya makul sisqual dapat diterapkan melalui divisi Litbang. Di TI, ada organisasi tingkat jurusan bernama IMTI (ikatan Mahasiswa Teknik Industri). Organisasi lain ada BEM FT, FUSI (rohis FT), KAPA (pecinta alam di FT), TIS (sekolah informal untuk anak jalanan), robotik, dll. Aku yang dari dulu tak pernah berorganisasi jadi tertarik untuk ikut serta. Awalnya aku hanya ikut-ikutan saja, aku berfikir dengan berorganisasi aku akan berinteraksi dengan banyak orang dan bisa makin dekat dengan teman-teman. Lama-lama aku begitu menikmati organisasi, aku mendapat banyak hal berharga yang tak kudapat dari ruang kelas. Aku jadi lebih berani bicara di depan umum, aku tahu gimana susahnya bikin acara, aku juga dapat banyak pengalaman seru yang bikin ngakak dan yang paling penting aku punya banyak kenalan dari berbagai jurusan dan fakultas. Organisasi juga bisa menjadi ‘angin segar’ saat kita jenuh dengan tugas kuliah yang menumpuk. Tapi kita juga mesti pandai-pandai membagi waktu, jangan sampai kuliah kita keteteran gara-gara keasyikan organisasi. Firasatku benar! Di UI, aku merasakan hidupku lebih berwarna. Semuanya menyenangkan^^

Aku mo crita apa lagi y?? Oia, TI merupakan department terakhir di FT loh. Gedungnya juga baru selesai dibangun, ada 5 lantai. Di dept. TI ada berbagai laboratorium, perpustakaan, ruang dosen, dan satu hal yang tidak dipunyai department lain, DTI punya auditorium. Satu lagi fasilitas istimewa dari DTI, untuk dapat masuk ke DTI kita harus menggunakan kartu ases masuk jika tidak terpaksa kita mesti minta tolong orang yang sudah di dalam DTI untuk mbukain pintu. Jadi tak sembarang orang bisa masuk ke DTI. Keren kan??

Selebihnya…. Ditunggu ja deh di TIUI!
Rasakan sendiri sensasinya!!
Kalo dari crita doang nggak seru, dateng and buktikan sendiri!!
Ingat,
“setinggi apapun impianMu jika tak kau coba wujudkan, selamanya itu hanya akan jadi seonggok mimpi di sudut hati”!!

Maksiih untuk ibu yang jadi inspirasi utamaKu
Semoga sekarang engkau tengah di FirdausNya
Nantikan kami y ^^

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s