UI Bukan Zona Nyaman


Faiq Miftakhul Falakh (Ilmu Komputer 2009)

Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam…

Paradigma

Sejak SD saya lebih suka santai dalam hal pendidikan. Saya tidak terlalu ambil pusing dengan pencapaian prestasi sekolah, menang dalam kejuaraan, atau jadi bintang kelas. Saya tidak terlalu berpikir untuk membanggakan orang tua dengan hal-hal semacam itu. Saya rasa Bapak dan Ibu saya (keduanya guru SD) sudah sangat senang ketika saya rajin sholat lima waktu, tilawah setiap hari, pergi ke madrasah sepulang sekolah, nurut sama guru di sekolahan, rukun sama adik saya, dan tidak membantah ketika disuruh. Dengan dasar peringkat 1 selama 6 tahun di SD pun, saya lebih memlih masuk SMP 3 dibanding SMP 2 Tegal yang favorit.

Alasannya karena saya tidak mau bertemu anak-anak yang lebih pintar dari saya dan bisa-bisa saya tidak dapat rangking 1 lagi. Ternyata perkiraan saya benar. Tiga tahun di SMP 3, saya selalu mendapat peringkat 1 tanpa adanya perlawanan yang berarti. Selanjutnya, masuk SMA N 1 Tegal yang katanya sekolah nomor satu pun bukan karena saya ingin mendapat rival akademis yang lebih hebat, melainkan karena jarak SMA 1 yang dekat dengan rumah saya di Mangkukusuman. Alhamdulillah, peringkat saya masih bisa bertahan di 2 besar selama di SMA.

Alhasil, dengan pola pikir semacam itu, menjadikan saya sangat jarang mendapatkan Juara di luar sekolah. Setiap kali ikut lomba, ada saja anak lain yang lebih cerdas dan pastinya bisa mengalahkan saya. Bahkan Bapak saya sempat bergurau, “Di antara sing paling bodo, koen sing paling pinter. Tapi di antara sing paling pinter, koen sing paling bodo.”

Inspiration and Awakening
Tour de UI yang diadakan oleh para senior SINTESA ketika saya kelas XII  benar-benar membuat saya tertarik untuk memilih UI sebagai universitas yang akan saya tuju. Kali itu saya melihat kemegahan kampus UI, keindahan danau dan aliran airnya, serta hijaunya hutan kampus membuat sejuk udara sekitar. Kampus UI sungguh nyaman sebagai tempat belajar.

Melihat berbagai fasilitas di dalamnya dan menyaksikan para mahasiswa UI dengan berbagai aktifitas belajar dan pengembangan dirinya  menjadikan saya yakin, setelah lulus SMA, saya harus masuk UI. Momen foto bersama di UI-wood saat itu seolah mengutuk supaya saya harus benar-benar menjadi mahasiswa UI suatu saat nanti. Ketidakacuhan saya tentang pendidikan pun sedikit mulai berkurang, meski orang tua saya juga tidak terlalu memaksakan saya mau kuliah di mana.

UI memang sudah mantap menjadi pilihan, tetapi belum untuk program studinya. Sama seperti sebagian teman yang lain, saya juga  bingung untuk menentukan program studi. Banyak sekali hal yang harus dipertimbangkan, karena satu pilihan tersebut menentukan masa depan saya. Pengorbanan uang, tenaga, dan waktu tidak mau saya sia-siakan hanya karena memilih jurusan yang tidak sesuai dengan minat dan kemampuan saya. Yang sering saya dengar, banyak senior yang pindah jurusan karena tidak betah di jurusan yang dipilih sebelumnya. Sungguh saya tidak mau seperti itu.
Beruntung, saya kenal Mas Afif, Ilmu Komputer 2004.

Berawal dari sekedar konsultasi tentang permasalahan OSIS (mas Apip dulu ketua OSIS SMA 1 juga), lama-kelamaan saya juga konsultasi tentang jurusan-jurusan di UI. Menurut beliau banyak program studi yang bagus dengan prospek yang menjanjikan seperti Kedokteran, Teknik Elektro, Teknik Industri, dan Ilmu Komputer. Saya pun hanya bertanya banyak tentang jurusan yang beliau ambil saat itu, Ilmu Komputer. Hasilnya, saya terdoktrin untuk memilih Ilmu Komputer. Akan tetapi, alasan sebenarnya saya menetapkan Ilmu Komputer sebagai pilihan adalah karena saya cenderung enggan melakukan praktek yang berbelit-belit. Saya tidak minat kedokteran karena saya tidak mau ‘ngutak-utik’ jasad manusia. Saya tidak memilih teknik elektro karena saya tidak mau jadi ‘tukang soldier’. Dan saya tidak ambil teknik industri karena saya tidak mau ‘kerja neng pabrik sing isine oli’. Kalau Ilmu Komputer, prakteknya hanya menggunakan alat musik (keyboard) dan tikus (mouse). Bedah mayat, rangkaian listrik, dan mesin pabrik saya pikir bisa disimulasikan dalam satu bunyi ‘TOR’ (moni-tor) komputer. Itulah asumsi ngaco saya waktu itu.

Sepulang dari Tour de UI, saya baru sadar ternyata SIMAK UI tinggal dua bulan lagi, dan saya benar-benar belum mempersiapkan segala sesuatunya. Modal awal saya hanya keyakinan bahwa mimpi saya pasti akan terwujud. Saya langsung membuat rencana dan time schedule belajar saya sampai Serangan  Umum 1 Maret 2009 (SIMAK UI) tiba. Mulai awal Januari 2009 saya berusaha mengulang materi pelajaran kelas X dan XI. Saya coba mengerjakan soal-soal SPMB tahun-tahun sebelumnya. Beberapa pekan sekali saya ikut try out untuk menguji kemampuan. Saya kurangi waktu tidur, yang tadinya saya tidur pukul 23.00; untuk menghadapi SIMAK, saya undur jadi pukul 01.00 dini hari.

Pulang sekolah saya tidak langsung pulang, melainkan berlatih mengerjakan soal di Mushola Baitul Ilmi (MUBI) sampai ashar. Tiap hari saya membawa soal-soal SPMB untuk dikerjakan di kelas jika ada jam kosong atau untuk didiskusikan dengan teman-teman yang lain. Nilai yang saya peroleh saya evaluasi sendiri, saya ukur kemajuan yang saya dapat dan saya coba kurangi kelemahan-kelemahan saya dalam materi-materi tertentu. Tidak mudah memang, dan butuh pemaksaan dari diri sendiri. Akan tetapi, yang saya pikirkan selama dua bulan perjuangan itu hanyalah ‘saya harus masuk Ilmu Komputer UI’.

Ahad, 1 Maret 2009 pun tiba. Sudah tidak ada beban dalam pikiran saya. Pukul 05.00 pagi saya melaju dengan KA Kaligung menuju ke Semarang, tempat tes SIMAK UI. Sebelum berangkat, saya pandangi selembar formulir pendaftaran SIMAK UI seharga dua ratus ribu milik saya. Di formulir tersebut terpampang foto dan biodata saya beserta pilihan program studinya; pilihan pertama Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Komputer dan pilihan kedua Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer. Dalam pikiran saya terlintas, “seperti apa ya rasanya, kuliah di Fasilkom UI?”.  Sesampai di SMAN 3 Semarang, tes kemampuan IPA sudah dimulai. Saya pun hanya duduk-duduk di mushola menunggu teman-teman keluar setelah mengerjakan soal. Ya, saya tidak ikut mengerjakan tes SIMAK karena tiga belas hari sebelumnya saya sudah diterima di jurusan yang saya idamkan, Ilmu Komputer UI lewat jalur PPKB (Program Pemerataan dan Kesempatan Belajar). Lagi-lagi episode kehidupan saya mengalir dengan penuh kenyamanan. Saya bisa masuk UI hanya dengan beberapa lembar fotokopian Rapor dan selembar fotokopian piagam yang bertuliskan “Juara III Lomba Keteladanan Siswa tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2008”.

***

Alhamdulillah, saya mempunyai orang tua yang tidak terlalu memaksakan anaknya untuk menuntut ilmu di sekolah atau jurusan yang mereka inginkan. Semua pilihan ada di tangan saya. Ketika saya menceritakan tentang formulir PPKB yang baru datang di sekolah dan meminta pendapat tentang jurusan apa yang baik untuk saya, Bapak saya hanya berkata, “Karepe koen pan milih apa, sing pan sekolah kan koen, dudu Bapa.” Kemudian ketika saya bilang ke orang tua saya memilih ilmu komputer, Ibu saya berkata, “jurusan ilmu komputer sih engko dadi apa? Tukang serpis? Apa jaga warnet?” Saya pun hanya tersenyum mendengarnya. Bapak Ibu saya memang seperti itu, paling tidak dengan melihat prestasi saya, mereka tidak memaksakan saya untuk kuliah di kedokteran.
Uang pangkal sebesar 25 juta dan BOP per semester sebesar 7.5 juta memaksa orang tua saya untuk meminta keringanan. Setelah tawar menawar via email dilakukan, pihak Fasilkom menetapkan UP menjadi 12.5 juta dan BOP 3.5 juta. Ibu saya masih merasa keberatan dengan biaya sebesar itu. Beliau lalu meminta saya langsung menemui bagian kemahasiswaan Fasilkom untuk menawar biaya pendidikan. Hanya ditemani Mas Afif, saya menghadap langsung Direktur Mahalum Fasilkom. Setelah tawar menawar selesai, uang pangkal hanya turun sedikit menjadi 10 juta, dan BOP hanya turun 500 ribu menjadi 3 juta rupiah. Ketika saya tanya kepada Bapak saya, “Pak, ora kelarangen?” Bapak hanya menjawab, “Kuliah neng mbayar oh. Apa maning koen kuliah neng UI. Rega semono kue esih murah nggo kualitas pendidikan selevel UI. Masa pan njaluk gratis? Ra sah kuliah bae oh. Rejeki ndilalah ana sing gusti Allah, kalem bae.”

Ilmu Komputer adalah Pola Berpikir
Namanya saja prodi ilmu komputer, maka akan sangat mustahil jika ada mata ajar kimia dan biologi. Dari buku pedoman Fasilkom 2009 yang baru saya baca ketika membuat tulisan ini – maklum, saya baru semester awal, – beberapa mata ajar yang ditawarkan oleh Fasilkom di antaranya Dasar Dasar Pemrograman, Desain dan Pemrograman Berorientasi Objek, Pengantar Sistem Digital, Basis Data, Struktur Data dan Algoritma, Matematika Diskret, Kalkulus, Fisika, dan Sistem Cerdas (AI). Menurut senior seperti Mas Afif dan Mas Ricky Bastiar, kalau kita suka dengan matematika dan logika, maka ilmu komputer adalah pilihan jurusan yang tepat. Beliau-beliau juga mengatakan bahwa inti dari ilmu komputer adalah cara kita berpikir untuk menyelesaikan suatu masalah.

Cara berpikir kita itu kemudian diimplementasikan pada software dan rangkaian logika computer. Lulusan Fasilkom UI biasanya bekerja menjadi software engineer, system analyst, dan programmer. Tidak sedikit pula yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (S2 dan S3) di dalam maupun di luar negeri, yang penting jangan jadi penjaga warnet.
Saya sendiri pun merasakan, betapa kemampuan otak kita dalam berpikir matematis, sistematis, dan logis, sangat dibutuhkan untuk bertahan di Fasilkom. Kesenjangan akademis pun sangat terlihat di antara mahasiswa di Fasilkom. Yang sudah berpengalaman dalam ngoding (membuat kode program) seperti anak-anak OSN, akan menjadi sosok-sosok ‘dewa’ dengan nilai ujian kisaran 90 sampai 100. Sedangkan orang-orang awam yang belum tahu menahu tentang pemrograman, seperti saya, akan menjadi bulan-bulanan sulitnya materi kuliah. Akan tetapi, tidak jarang para ‘dewa’ tersebut terlalu sombong akan kecerdasan mereka, sehingga menggelincirkan mereka di beberapa mata kuliah. Yang sukses di Fasilkom adalah mahasiswa yang konsisten dan istiqomah dalam belajar. Maka, semua mahasiswa mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi cumlauder Fasilkom. Saya pun tersadar betapa Fasilkom ini bukanlah zona nyaman yang hanya dengan belajar semaunya bisa mendapat hasil yang memuaskan.
Epilog
Suasana dan pergaulan di Fasilkom benar-benar mendukung untuk rajin belajar. Satu sama lain saling support untuk mengajar dan diajar tentang materi yang belum dimengerti. Laboratorium Fasilkom selalu ramai setiap hari dipenuhi oleh para mahasiswa untuk belajar atau sekedar refreshing. Laptop pun bertebaran di setiap sudut gedung Fasilkom karena hotspot Fasilkom katanya hotspot dengan sinyal terkuat dan kecepatan download tercepat di UI yang online 24 jam. Saya pun memanfaatkan fasilitas yang ada dengan maksimal untuk download lagu, manga, atau anime. Dan ternyata, banyak juga teman-teman Fasilkom yang lain yang maniak anime seperti saya. Transaksi pengkopian anime dari hardisk ke laptop atau sebaliknya pun sering terjadi di sela-sela kuliah. Bahkan, beberapa orang bersedia urunan untuk membeli hardisk eksternal dengan kapasitas 2 Tera untuk menyimpan sebanyak-banyaknya serial anime lalu dipinjamkan bergiliran untuk dikopi.
Kembali ke topik awal. Intinya butuh perjuangan yang tidak sedikit untuk bisa berprestasi di UI.

Butuh pengorbanan, rekasa, dan keprihatinan mendalam supaya orang tua tidak kecewa, dan supaya Tegal bisa bangga mempunyai putra bangsa yang kelak akan membangun kota dan negerinya. Tidak mungkin dengan leha-leha, kesuksesan tiba-tiba menghampiri kita. Perjuangan saya berbeda dengan perjuangan teman-teman SINTESA yang lain. Saya pun akan berusaha keras untuk membantah gurauan Bapak saya dengan membuktikan bahwa saya juga bisa menjadi orang yang paling pintar di antara orang pintar lainnya.
Terakhir, mengutip tulisan Mas Afif, “…tidak untuk gagah-gagahan…”

9 Comments

  1. *Numpang nyusup (gpp kan??? ntar knp2 lagi.. hehe)*

    mantep iq artikelnya!!! ^^b
    ternyata jago nulis jg y si faiq.. hehhe]

    stuju bgt, klo di ilkom cuma butuh matematika dan logika. klo udh kuat di dua itu, bakal survive bgt..

    kpn nih balik ke depok?
    ga ikut tutorial java?

  2. *ga boleh nyusup di sini, bukan blog gw pin, hehe*

    makasih ya, tulisan ini disuruh sama senior, jadinya mau gak mau harus bikin.

    tapi masalahnya kalau belum/ agak gak kuat gmana? (kaya ane), mesti harus banyak belajar, hehe

    gak ikut pin, kangen ya?😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s