Kuncinya Belajar dan Berdoa


Dawud Ramdhani Rozali (Sosiologi UI 2008)

“Tulisan ini didedikasikan pada semua orang, terkhusus pada adik-adik kelas 3 SMA. Semoga dapat menambah motivasi teman-teman semua”

Hidup itu sederhana berani bermimpi lalu mewujudkannya
Hidup itu sederhana menggerakan arang jari lintang permata
(Silentium Para Pemimpi, OST Sang Pemimpi)

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT.  Atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya. Sehingga masih mampu untuk menulis cerita ini. Semoga tulisan ini nantinya dapat bermanfaat untuk semua para pembaca.

Sebelum cerita ini berlanjut, akan aku perkenalkan diriku terlebih dahulu. Seperti kata pepatah “Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Namaku Dawud Ramdhani Rozali, kini aku sedang menempuh pendidikan di Universitas Indonesia, tepatnya di Program Studi Sosiologi S1 Reguler FISIP UI dan akan menempuh semester 4, Insya Allah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam riwayat pendidikan ku di bawah ini.

1995 s.d. 1996                        : TK Ihsaniyyah II Kota Tegal

1996 s.d. 2002                        : SD Negeri Mejasem Barat 03 Kabupaten Tegal

2002 s.d. 2005                        : SMP Negeri 1 Kota Tegal

2005 s.d. 2008                        : SMA Negeri 1 Kota Tegal

2008 s.d sekarang       : Sosiologi S1 Reguler FISIP UI (semester 4)

Baik, setelah perkenalan di atas, akan aku ceritakan pengalamanku bagaimana aku sekarang dapat berkuliah di Universitas Indonesia. Sekali lagi ini adalah tulisan yang tujuannya agar dapat memotivasi para pembaca agar tetap fokus dan semangat dalam mewujudkan cita-citanya.

A. Berawal dari Briefing SINTESA

Saat itu aku masih di bangku kelas 3 SMA di kelas IPS 1, banyak orang saat itu yang masih memandang jurusan IPS adalah jurusan yang anak-anaknya buangan atau tidak masuk di jurusan IPA. Dan masih banyak selentingan orang yang bilang bahwa akan jadi apa nantinya kalau memilih jurusan IPS. Namun berita-berita semacam itu tidak ku hiraukan, bahkan ku anggap angin lalu saja. Aku yakin bahwa setiap orang mempunyai kemampuan sendiri dan setiap orang itu tidak bisa diasamakan. Untunglah di kelas IPS 1 teman-temanku mempunyai semangat belajar yang besar, sehingga setidaknya aku ikut terbawa untuk semangat dalam belajar pula.

Saat itu, kalau tidak salah ingat di bulan April, datanglah sekelompok mahasiswa yang berasal dari UI yang mereka namakan SINTESA kependekan dari Satu Ikatan Mahasiswa Tegal Bersaudara. Ternyata mereka akan melakukan briefing tentang UI dan SINTESA yang sudah menjadi hal yang biasa dilakukan tiap tahunnya. Maka dari itu aku tak heran dengan mereka. Saat itu yang masuk kelas ku adalah seorang yang tidak ku kenal. Dia menceritakan UI dan SINTESA dengan sebegitu menggebu-gebu. Kemudian dia bertanya kepada kami yang saat itu hanya bisa melongo dan mengangguk-angguk.

“Siapa yang ingin masuk UI?”, tanyanya.

Seisi kelas hening, untuk beberapa saat kelas diam seperti tiada penghuninya. Kemudian ku beranikan diriku untuk mengangkat tangan tak lama kemudian teman-temanku mengangkat tangannya masing-masing. Jumlahnya hanya 4 orang dari 40 orang, sungguh sangat ironis sekali. Untuk meredakan suasana, kemudian mahasiswa tersebut kepada kami yang mengangkat tangannya.

“Ya, selamat kepada kalian yang mengangkat tangan. Kalian-kalian inilah yang nantinya akan masuk UI”, tegasnya.

Pernyataannya sungguh membuat diriku kaku, bagaimana bisa diriku yang hanya siswa SMA dari daerah mengalahkan ribuan orang dari seluruh Indonesia untuk memperebutkan bangku kuliah di UI. Enteng sekali jawabannya, namun dalam hati kecilku yang paling dalam diriku tetap percaya bahwa suatu saat nanti aku pun pasti bisa dan menggantikan mahasiswa tersebut untuk briefing juga. Kusimpan impian itu dan suatu saat nanti aku yakin akan terwujud.

1. B. SBB gagal, bukanlah sebuah akhir

Saat briefing itu mahasiswa tersebut mengatakan pula bahwa SINTESA mempunyai program yang mereka namakan SBB (SINTESA BIMBEL BARENG). Program ini bertujuan untuk meloloskan anak-anak kelas 3 SMA untuk bisa masuk di UI. Program ini berformat karantina dalam satu bulan di Depok dan gratis pula. Program ini terbatas untuk 10 anak dari Kota dan Kabupaten Tegal. Oleh karena itulah, kuberanikan diriku untuk mendaftar.

Hari yang dinantikan pun tiba, para mahasiswa itu mewawancarai kami satu per satu. Sebelumnya kami mengerjakan soal-soal, mungkin tujuan mereka untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan kita. Saat giliranku wawancara tiba, diriku agak sedikit gugup, namun setelah beberapa saat ngobrol berjalan hilanglah kegugupan itu.

Hari pengumuman pun tiba, panitia SBB menginformasikan hasilnya melalui SMS. SMS telah kuterima, namun diriku hanya terpaku diam tak bisa bergeming. Ku pikir apakah ini akhir dari semuanya. Aku tidak diterima di program SBB. Namun, aku tetap semangat aku tidak akan menyerah untuk mengejar mimpiku.

Keesokan harinya, mahasiswa dari UI itu datang ke rumahku. Ternyata dia adalah seniorku saat di SMP. Dia mengatakan padaku agar tidak bersedih dan sungguh sangat tak disangka-sangka dia mengajak aku untuk berangkat ke Depok untuk belajar persiapan masuk UI. Dia langsung yang akan mengajariku bagaimana mengerjakan soal-soal SPMB. Dengan senang hati aku terima tawaran itu. Tepat pada tanggal 17 Juni 2008, aku berangkat ke Depok bersama temanku, Dwi.

Selama di Depok aku menumpang di Wisma Arjuna, sebuah rumah yang menjadi base camp anak-anak SINTESA. Mereka ini ternyata sangat baik dan ramah, bahkan mereka menawarkan padaku untuk diriku tinggal di wisma ini tanpa membayar. Subhanallah, inikah yang telah dijanjikan oleh Allah. Setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Aku pun tinggal di wisma ini selama satu bulan untuk belajar soal-soal persiapan masuk UI.

Setiap hari aku selalu untuk mencoba mengerjakan soal-soal SPMB dari tahun-tahun terdahulu sendirian. Sering kali aku melakukan try out sendiri untuk melihat sejauh manakah kemampuanku. Alhamdulillah setiap kali try out nilaiku selalu naik, aku pun menjadi lebih semangat dan yakin bahwa impianku pasti dapat ku wujudkan.

1. C. Pendaftaran UMB dimulai

Di akhir-akhir bulan Juni tahun 2008 pendaftaran UMB (Ujian Masuk Bersama) lima universitas (UI, UNJ, UIN Syarif Hidayatullah, UNHAS, USU) dibuka. Namun kadang diriku termenung, teman-temanku sudah banyak yang mendaftar, tetapi diriku belum mendaftar. Maklum uang yang kubwa ke Depok sangat ngepress sekali. Melihat gelagatku, lagi-lagi senior SINTESA itu lagi yang membantuku. Dengan ikhlas dia memberikan formulir pendaftaran UMB kepadaku. Ya Allah berikanlah dirinya pahala yang setimpal dan kecukupan rizki. Aku pun langsung mengisi formulir pendaftaran itu. Aku konsultasi dengan senior itu tentang jurusan yang akan aku pilih. Kemudian pilihan terjatuh pada Akuntansi UI sebagai pilihan ke-1 dan Sosiologi UI sebagai pilihan ke-2. Pilihan jurusan ini sudah ku perhitungkan baik buruknya untukku. Dalam pandanganku Akuntasi adalah jurusan yang paling favorit di UI dan tentunya paling banyak peminatnya. Pikir ku pula sangat sulit untuk menembusnya. Namun aku tak menyerah karena aku melihat prospek setelah lulus nanti bisa menjadi Akuntan handal di perusahaan multinasional. Kemudian, kenapa aku memilih Sosiologi, sebenarnya atas masukan dari senior SINTESA pula yang ada di jurusan Sosiologi, bahwa jurusan ini sangat menarik baik dari mata kuliahnya, teman-temannya, dan juga dosennya. Terbukti nama-nama besar muncul dari jurusan ini, seperti Gumilar Rusliwa Soemantri Rektor UI, Adyaksa Dault Menpora masa Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 1, Selo Soemardjan, Imam Budi Prasojo seorang sosiolog handal dan masih banyak lainnya. Selain itu program studi sosiologi juga tidak kalah mentereng dibandingkan dengan program studi lainnya. Terbukti dengan banyaknya lulusan yang diterima di UNDP (United Nations Development Program) yang merupakan organisasi dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), World Bank, Bapenas (Badan Perencana Nasional), dan masih banyak lagi. Dari sinilah kemudian untuk memilih jurusan ini.

Selama satu minggu penuh aku bolak-balik Depok—Rawamangun, untuk menukarkan formulir pendaftaraan UMB dengan kartu peserta. Kontan saja aku tidak mempunyai waktu untuk belajar. Namun tetap saja aku sempatkan barang beberapa jam di waktu malam untuk kembali mengerjakan soal-soal SPMB. Dengan berbekal berdoa dan belajar inilah, ku yakin dapat menembus gerbang UI untuk menjadi mahasiswa UI di tahun 2008 ini.

1. D. Inilah Hari yang Ditunggu-tunggu

Ya, tepat pada tanggal 6 dan 7 Juli 2008 saat itu hari Sabtu dan Minggu, UMB dilaksanakan serentak di Indonesia. Aku kebagian tempat tes di FISIP UI di lantai H.501. Aku sangat ingat betul, karena saat baru melihat kampusnya saja, diriku sudah merasakan sesuatu. Aku merasa cocok dengan kampus ini, dan dalam hati kecilku aku yakin bahwa aku akan kuliah di FISIP UI ini.

Tes hari pertama yaitu tanggal 6 Juli 2008 adalah Tes Kemampuan Dasar yang diujikan adalah Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris. Soal dibagikan oleh pengawas tes. Saat itu aku satu ruangan dengan temanku, yaitu Ismail, Fahmi (Cimeng), Hesti, Didi, Fera, dan Dwi. Soal telah selesai dibagikan kepada semua peserta ujian. Pengawas kemudian membacakan peraturan tes. Kemudian setelah selesai, pengawas melihat jam dan kemudian peserta pun dipersilahkan mengerjakan soal.

Aku pun terdiam sejenak. Soal belum ku sentuh sama sekali. Aku menghirup nafas dalam-dalam. Kemudian aku pandangi sekelilingku.

“Inikah orang-orang yang akan memperebutkan bangku kuliah di UI ini”, batinku.

Ya kulihat mereka sangat percaya diri. Mungkin persiapannya sudah jauh-jauh hari bahkan bulan ataupun tahun. Tapi aku tetap yakin bahwa aku akan berhasil mengalahkan mereka dan aku dapat pastikan mendapatkan satu kursi di UI ini. Masih belum ku sentuh soal hingga lima menit telah berlalu. Aku pun berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kemuduhan dalam mengerjakan soal.

Ku isi dahulu lembar jawaban, kemudian kubaca petunjuk soal. Aku sengaja mulai mengerjakan soal Bahasa Indonesia bukan Matematika. Karena kupikir soal Bahasa Indonesia lebih mudah. Aku tak mengalami kesulitan berarti dalam mengerjakan soal Bahasa Indonesia, karena sudah dapat kuprediksi tipe soal yang akan keluar nantinya. Dan betul saja, apa yang semalam aku pelajari ada yang keluar di soal ini. Subhanallah. Semua soal Bahasa Indonesia ludes kukerjakan. Aku beranjak ke soal Bahasa Inggris, ku kerjakan dari nomor paling akhir. Satu per satu soal kukerjakan dan akhirnya selesai sudah soal Bahasa Inggris.

“Alhamdulillah”, batinku.

Waktu tinggal 60 menit lagi dan aku belum menyentuh sama sekali soal Matematika. Ku buka soal Matematika, dan benar saja aku merasa gugup untuk mengerjakannya. Maklum saja saat di SMA aku ada di jurusan IPS yang tidak mahir dalam mengerjakan soal Matematika. Ku berhenti sejenak, kupandangi sekitar. Ku lihat kerut-kerut di kening para lawan ku, menandakan memang sulit soal UMB ini untuk ditaklulakan. Aku coba dari soal nomor pertama, aku hitung berkali-kali namun tidak kutemukan hasilnya. Akhirnya aku loncat di soal nomor 25.

“Wah soal ini pasti bisa kukerjakan”, pikirku.

Akhirnya hingga waktu selesai aku hanya bisa mengerjakan 11 soal Matematika saja. Namun soal Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris aku kerjakan semuanya.

Kami pun pulang bersama-sama. Aku balik ke Wisma Arjuna untuk mempersiapkan tes hari kedua. Malam itu aku mengulang kembali soal-soal pada SPMB tahun 2007.

Keesokan harinya aku telah siap untuk menghadapi hari kedua. Inilah hari penentuan setelah kemarin bergelut dengan soal Kemampuan Dasar. Hari ini aku akan bertarung dengan soal Kemampuan IPS. Aku memasuki ruangan. Pengawas telah selesai membagikan soal. Para peserta pun dipersilahkan mengerjakan soal. Ku lihat lagi wajah yang kemarin berkerut-kerut kini terlihat lebih cerah. Aku pun menjadi semangat untuk mengerjakan soal-soal itu.

Waktu tes pun selesai. Aku berhasil mengerjakan semua soal dengan yakin. Kami pulang ke kos masing-masing untuk melepaskan penat setelah bergelut dengan soal-soal. Sembari menunggu pengumuman, aku pulang ke Tegal untuk meminta doa dari orang tua agar diberikan hasil yang terbaik.

1. E. Hari Pengumuman

Aku sudah ada di Depok lagi untuk melihat pengumuman. Pengumuman dijadwalkan sekitar bulan Agustus. Tanggalnya tepatnya aku sudah lupa. Hari pengumuman pun tiba, teman-teman ku sudah ada yang merayakan kegembiraan karena diterima. Saat itu aku berada di kos tempat anak-anak SBB dikarantina, yaitu di Kutek (Kukusan Teknik). Aku sering berada di situ sekadar numpang mandi, numpang tidur, atau belajar bersama. Hasil pengumuman di buka lewat hand phone salah seorang teman. Dia membuka pengumuman untuk dirinya sendiri. Dan luar biasa. Subhanallah dia diterima di jurusan Matematika UI. Kemudian hand phone itu dipinjam oleh salah seorang teman, dia kemudian memasukkan kode pesertanya. Dia pun diterima di jurusan Teknik Elektro. Ketiga kalinya hand phone itu dipinjam oleh salah seorang temanku. Dia juga diterima di jurusan Kesehatan Masyarakat.

Aku pun makin berdebar-debar, karena aku belum berani untuk membuka hasil pengumuman. Teman ku yang lain meminjam hand phone teman ku yang sedari tadi digunakan untuk membuka pengumuman. Dia masukkan kode peserta dan tiba-tiba wajahnya muram, dia kelihatan sedih. Dan air mata pun tak bisa terbentung. Sontak saja kami temannya bingung dan kaget.

“Kenapa?”, tanya kita bersama-sama.

“Aku ga diterima”, jawabnya.

Kami pun ikut sedih dan memberikan dukungan agar tetap sabar. Hatiku pun semakin galau, sampai saat itu aku belum berani untuk membuka hasil pengumuman. Kemudian salah seorang senior datang ke kosan tempat teman-teman SBB dikarantina. Kemudian kami meminta bantuan untuk membukakan hasil pengumuman. Karena ketika aku hendak meminjam hand phone temanku itu, ternyata pulsanya sudah habis.

Senior SINTESA itu pun langsung menuju ke Asrama UI untuk membuka hasil pengumuman adik-adiknya. Dan selang beberapa menit aku mendapatkan sms dari senior tersebut. Dan Subhanallah. Aku diterima di pilihan ke dua jurusan Sosiologi FISIP UI. Aku pun langsung sujud syukur tanda syukurku kepada Allah.

Hasil pengumuman telah dibuka semua, diketahui hanya ada 2 anak SBB yang gagal di UMB, 6 orang lainnya masuk. Namun ke dua anak yang gagal itu nantinya juga masuk UI lewat jalur SNMPTN.

1. F. Pembayaran Uang Kuliah

Aku akhirnya resmi menjadi sivitas akademika FISIP UI. Namun masih ada satu ganjalan lagi yang menjadi pikiranku. Biaya kuliah di UI cukup besar, tetapi aku yakin aku pasti bisa mengatasi semuanya. Aku yakin bahwa Allah selalu ada bersama kita. Ternyata di FISIP ada program keringanan biaya kuliah. Kuberanikan diri untuk mengikuti program itu (program BOP Berkeadilan) yaitu program BOP yang didasarkan pada penghasilan orang tua.

Semua berkas sudah aku serahkan ke bagian Pusat Pelayanan Mahasiswa (PPM). Kemudian aku diwawancarai mengenai kehidupanku dan kehidupan keluargaku. Aku jawab semuanya dengan jujur. Akhirnya keputusan pun dibuat aku hanya terkena Rp 800.000,-. Uang sejumlah inilah yang harus aku bayarkan ke pihak UI. SOP ku mendapatkan keringanan hingga Rp 0,- , dan BOP hanya Rp 100.000,- , dan sisanya adalah biaya DPP dan DKFM. Namun saat itu aku tidak mempunyai uang, aku maju ke Manajer Bagian PPM. Aku ceritakan sejujur-jujurnya, dan Alhamdulillah aku sama sekali tidak membayar sama sekali alias Rp.0,-. Subhanallh inilah nikmat Allah yang tidak terkira.

1. G. Dunia Baru Teman Baru

Dunia kampus berbeda jauh dari dunia SMA. Terlihat dari cara berpakaian, cara belajar, dan juga cara berpikir. Aku merasakan benar perubahan ini, dan pada awalnya membuat diriku kaget dengan perubahan yang cepat ini. Namun, lambat laun aku sudah bisa menguasainya. Ternyata kehidupan kampus banyak tugasnya. Hampir setiap minggu ada tugas yang diberikan dari dosen baik itu tugas membuat paper, makalah, outline, dan juga presentasi. Awalnya aku merasa kaku dan jenuh, lama kelamaan ya sudah terbiasa. Pikirku ini semua dimaksudkan agar kemampuan kita dalam menganalisa sebuah kasus atau masalah menjadi lebih tajam.

Semester pertama mata kuliah masih dipaket. Aku mendapat 22 sks. Dan Alhamdulillah IP pertamaku cukup memuaskan. Di semeseter kedua pun tidak jauh berbeda dengan semester pertama, tugas semakin hari semakin banyak dan semakin menumpuk. Karena kadang aku merasa bosan. Namun untuk menghilangkan kebosanan dan kemalasan ini aku sering melihat foto dan buku impian ku. Aku selalu teringat kepada kedua orang tuaku di rumah. Aku ingin membahagiakan mereka dan membuat mereka bangga kepadaku. Kemalasan dan kebosanan itupun biasanya langsung sirna. IP semeseter kedua pun masih cukup memuaskan bagiku.

Bicara mengenai kehidupan di kampus, aku mendapatkan banyak pelajaran baik itu di kelas dengan dosen dan teman-teman maupun di luar kelas. Aku sering mengobrol dengan teman-temanku yang rata-rata berasal dari Jakarta. Aku banyak belajar dari mereka bagaimana bergaul di Jakarta. Ini semua membantuku dalam menjalani pergaulan di Jakarta. Banyak orang mengatakan bahwa Jakarta itu adalah kota antara surga dan neraka. Kalau kita dapat menjaga diri maka kita seakan-akan mendekat dengan surga, namun kalau kita kita tidak bisa menjaga diri dan terbawa arus pergaulan yang hedon maka kita seakan-akan dekat dengan neraka.

Akan tetapi, aku berada di lingkungan yang positif, aku berada di lingkungan teman-teman SINTESA yang mempunyai tujuan yang mulia. Sehingga masih bisa saling mengontrol satu dengan lainnya.

1. H. Semester Tiga, Kehidupan Kampus Sebenarnya

Ya, aku merasakan betul perbedaan di semester 1 dan semester 2 sangat berbeda dengan semester 3. Di semester tiga ini aku mendapatkan mata kuliah yang sudah khusus di jurusanku, seperti Dasar-Dasar Metode Penelitian Sosial, Statistika Sosial, Teori Sosiologi, Sosiologi Pendidikan, Sosiologi Lingkungan, Dinamika Kelompok Kecil, Sosiologi Organisasi. Mata kuliah-mata kuliah inilah yang setiap harinya di semester 3 menghantui ku dengan tugas-tugasnya.

Ya aku merasakan inilah permulaan dari kehidupan kampus sebenarnya di semester-semester mendatang. Aku menyadari akan semakin sulit mata kuliah di semester-semester depan, namun aku yakin dengan kemampuanku aku pasti bisa melewatinya. Dan pada akhirnya akan menjadi seorang sosilog yang handal di bidang pembangunan dan perencanaan sosial. Amin. Ya Allah kabulkanlah doa hamba-Mu ini.

“Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”

Tegal, 19 Desember 2010

Salam hangat

Dawud Ramdhani Rozali (Sosiologi UI 2008)

3 Comments

  1. Aslm. salam kenal🙂
    saya Ryan, dari Bogor. Alhamdulillah saya diterima Seleksi Masuk UI jurusan Sosiologi, tapi saya masih bingung diambil atau tidak krn saya masih belum dapet info banyak tentang prospek Sosiologi. Kalau kak daud berkenan, kita bisa saling sharing gak?
    bisa lewat email saya.
    atau ym: fanzz_soclose
    atau fb: Ryan Febryanto
    saya tunggu ya kak. Info dari kak dawud bener2 saya tunggu dan berarti buat masa depan saya🙂
    terima kasih banyak kak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s