“Get The UI Spirit”


Mohammad Rofi’i (Teknik Elektro 2006)

Syukur Alhamdulillah kepada ALLAH SWT yang senantiasa menunjukkan jalan yang lurus terhadap hambanya. Semoga kita berada dalam selalu lindungan dan rahmatNya dalam setiap aktifitas hidup, terutama perjuangan hidup untuk mencapai Ridho Illahi. Amin.

Sebuah makna hidup dari perjuangan untuk meraih cita-cita yang Insya Allah takkan lekang ditelan waktu. Kesempatan yang indah ini akan saya goreskan tetesan tinta pesan damai bagi setiap mereka yang akan menatap masa depan. Sebuah tulisan berisi tentang pengalaman hidup penulis tentang perjuangan meraih cita-cita (memasuki perguruan tinggi UI). Tulisan ini berjudul “Memaknai hidup dengan kegigihan dan keoptimisan dalam berusaha”

Penulisan ini mudah-mudahan dapat memberikan makna bagi adik-adik yang masih duduk di SMA, orang tua, guru, dan setiap pembaca. Berikut biodata diri saya :

Nama : Mohammad Rofi’i
Tempat, Tanggal Lahir : Tegal , 03 januari 1988
Agama : Islam
Status : Mahasiswa UI angkatan 2006,
Riwayat pendidikan :
• SDN Kejambon 3 Tegal (1994-2000)
• SMPN 2 Tegal (2000-2003)
• SMAN 1 Tegal (2003-2006)
• Universitas Indonesia (2006- insya Allah 2010), Teknik Elektro

“Memaknai Hidup dengan Kegigihan dan Keoptimisan dalam Berusaha”
Bagian satu : Jikalau harapan terhalang oleh keterbatasan
Waktu itu semester 2 kelas 3 SMA, berbondong-bondong siswa memasuki ruang Tata Usaha (TU) SMA 1 Tegal. Dengan berdiri tegap dan penuh kepercayaan diri mereka mengantri satu-persatu. Seperti akan menanti kebahagian hidup. Yah benarlah, mereka akan mengisi formulir pendaftaran kuliah melalui jalur PMDK bagi siswa yang berprestasi. Satu persatu seakan mau berebutan mereka mengisi formulir, maka kegaduhan pun mulai bersahut-sahutan. “Wehh nyong dong form PMDK Undip, “ (A), “Insya Allah nyong PMDK UGM bae”(B), “ eh gentian donk”.
Entah kenapa suasana yang semula teratur berubah menjadi kegaduhan, layaknya sebuah pasar ada pedagang yang menjual, dan ada pembeli yang membeli. Jikalau sekolah adalah pedagangnya, siswa-siswi adalah pembelinya maka tak lain form pendaftaran kuliah seperti barang dagangannya. Sehingga terjadi hiruk pikuk selama hampir satu jam, yah inilah saatnya seorang siswa mencoba menawarkan, memilih atau memasrahkan masa depannya lewat selembar form tersebut.
Hanya saya dan segelintir teman dengan masa depan yang tak tahu entah kemana tujuan hidupnya, hanya menatapi suasana tersebut tanpa perlu banyak komentar. Masing-masing dari kami saling menatapi hingga mulai muncul suasana lirih dan berbisik-bisik. “Eh kowen pan mlebu ndi yen arep lulus SMA? Kyeh bocah rame-rame rebutan Universitas, lah kowen ora melu-melu”, kata Gazali, seorang teman dekat saya. “Aku tak tau, bingung, pengin juga sih tapi apa aku mampu ?” Kata saya.
Semenjak kejadian itu, saya mulai memikirkan matang-matang tentang masa depan diri saya sendiri. Saya merasa perlu melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Itu karena rasa cinta saya pada pengetahuan dan keinginan dalam untuk meraih pekerjaan lebih baik sebagai lulusan sarjana dibanding dengan lulusan SMA. Saya merasa amat sayang jikalau prestasi saya hanya setingkat lulusan SMA. Saat itu banyak pandangan yang begitu meremehkan lulusan SMA untuk dapat bisa bekerja. Apalagi jikalau teringat ucapan guru “Bahwasanya SMA itu bukan suatu Terminalnya pendidikan, maka biasanya jangan berhenti meraih pendidikan di tingkat SMA saja. Usahakan diri kita mampu melanjutkan ke perguruan tinggi.”
Malam itu, saya memberanikan diri berbicara baik-baik dengan kedua orang tua saya. Saya sampaikan keinginan dan impian saya untuk meneruskan ke pendidikan tinggi. Ibu saya hanya tersenyum kecut, ayah saya hanya mengerutkan dahi sejenak dan mulai berpikir agak lama. Dari bibir ayahanda mulai bergetar tipis seakan-akan akan keluar kata-kata, tapi tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Sejenak kemudian terlemparlah sepenggal kata yang begitu mendebarkan “tidak mampu nak”. Saya mencoba menatap untuk mencari tahu apa yang dibalik pemikiran ayahanda. “Ayah tak sanggup jikalau harus membiayai pendidikan yang mahal itu ampe jutaan, kan tahu lah gaji ayah ini…” Akhirnya saya tertunduk malu, betapa tak tahu diuntungnya saya sebagai anak.
Saya merasa akan menjadi beban hidup keluarga jika memaksakan diri melanjutkan ke perguruan tinggi. Sementara adik-adik saya yang masih kecil dan perlu bersekolah, kebutuhan hidup yang pas-pasan, ataupun gaji orang tua yang tak menentu. Akhirnya kupendam dalam-dalam keinginan saya. Diam-diam ibunda menaruh harapan dengan membaca doa kepada Allah SWT, “Bahwasanya ibu ridho jika anakku melanjutkan perguruan tinggi. Ibu juga ingin anakku jadi guru atau profesi apapun yang sukses. Moga-moga ada jalan dan rizki dari Allah” Saya hanya terdiam, dalam hati saya mengucapkan amin.
Ternyata ibunda sangat mengharapkan jikalau saya bisa menjadi guru, namun apa daya kemampuan hamba ini ya Allah. Segala upaya kucoba upayakan untuk bisa membahagiakan orangtua tersebut. Sadar bahwasanya kondisi perekonomian keluarga yang lemah (karena saat itu banyak rumor yang menyebutkan kuliah itu mesti bermodal uang puluhan hingga ratusan juta), lemah secara potensial dll. Namun jangan sampai kita lemah dalam berusaha. Maka kutambatkan semangat untuk terus belajar menuju UAS dan SPMB meski, pikiran ini terus dibayangi dengan segala keterbatasan.

Bagian kedua : Kegigihan berusaha untuk Merintis jalan kesuksesan
Mendekati tengah semester 2, saya mencoba mencari informasi mengenai dunia perkuliahan. Misalnya melalui internet untuk mengetahui dunia perkuliahan, melalui buku-buku PTN atau sejenisnya. Sebagai bentuk usaha saya mencari informasi dari seorang teman yang tahu banyak tentang UNNES, Semarang. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman dari teman-teman UNNES, diantaranya kebutuhan mengenai dunia kuliah memang relatif mahal namun dapat disiasati dengan hidup mandiri seperti bekerja part time, atau mencari beasiswa.
Nah apalagi mengenai biaya hidup di Semarang yang relatif hampir sama dengan Kota Tegal. Seiring dengan akan diadakannya ujian masuk Unnes (UM UNNES), saya mencoba memberanikan diri mengikuti ujian tersebut. Terlebih dengan motivasi ibunda yang menginginkan saya menjadi seorang guru. Saya rasa ini momentum yang tepat, dan tidak akan pernah terlewatkan.

Saat itu biaya pendaftaran hanya Rp200.000,00 ditambah dengan biaya transportasi dan makanan kurang lebih Rp100.000,00. Jadi hanya bermodal uang tiga ratus ribu, saya mengikuti ujian. Bersama 5 orang teman saya yang sama-sama memilih Unnes sebagai pelabuhan pendidikan selanjutnya setelah SMA. Ujian akan diadakan besok, saya dan gerombolan teman telah sampai di Semarang H-1 ujian. Sesampai disana, kami transit di kontrakkan alumni SMA 1 Tegal yang sangat ramah menyambut kami.
Kunikmati sejenak pemandangan tembalang Semarang, malam itu udara sangat dingin karena wilayah ini dekat dengan Gunung Ungaran, Semarang. Kulihat dengan seksama gaya hidup teman- teman mahasiswa Unnes. Diantaranya ada yang main game nih, katanya “Game makanan sehari-hari mahasiswa loh (sambil tertawa), jadi jangan canggung kalau tidak biasa main game”, Kata salah seorang teman memotong pembicaraan. Saya lihat juga ruangan yang penuh dengan buku-buku tebal berjudul Kalkulus, Aljabar Liniear, dsb
Nah ini seharusnya makanan sehari-hari mahasiswa, bukannya main game (dalam hati menyeletuk). Setelah menunaikan Shalat Isya, beberapa teman mahasiswa memberikan sambutan atas kedatangan kami. Kemudian dilanjutkan dengan salah seorang yang memberikan motivasi perkuliahan terutama nih untuk lulus ujian masuk Unnes besoknya. Tidak kalah penting adalah berbagi informasi mengenai dunia kuliah sebenarnya. Malam makin larut, sembari berbaring saya terus membayangkan diri saya sebagai mahasiswa Unnes.
Setiap hari saya akan bergelut dengan buku-buku yang tebalnya hampir lima sampai sepuluh kali tebal buku SMA. Kugenggam buku-buku pelajaran fisika erat-erat sambil berdoa semoga saya bisa menjadi guru fisika yang berguna bagi nusa bangsa, saya mulai larut dalam angan-angan dan sejurus kemudian mata ini tak sanggup menahan gejolak kantuk yang luar biasa berat.
Hampir sebulan lamanya kutunggu dengan hati berdebar-debar pengumuman UM UNNES. Kini tiba waktunya saya membuka lembaran informasi pengumuman lewat internet, eemmm…. Alhamdulillah lulus juga yah. Kusampaikan kabar gembira ini kepada kedua orang tua. Ibunda sangat senang terlihat dari wajahnya tersenyum manis. Sementara ayah hanya tersenyum cemas. Bagaimana tidak? Beliau masih paranoid dengan biaya kuliah yang mencapai ratusan juta. Untuk itulah saya memberanikan diri tuk menjelaskan baik-baik dengan ayah. Akhirnya beliau menyepakati dan men-support penuh perjuangan saya. Yah, inilah mulai muncul terangnya jalan perjuangan hidup meraih cita-cita. Sebuah rintisan jalan yang saya sendiri masih ragu akan jalan tersebut. Namun sekali lagi if there is a will there is a way (jika ada keinginan pasti akan ada jalan).
Bagian Ketiga : Menelusuri Jalan Dengan Penuh Keoptimisan
Kelas selalu riuh seperti biasanya karena telah selesai pelaksanaan ujian mid semester. Ada yang duduk depan kelas, kongkow-kongkow, ada pula yang serius membahas hasil ujian. Tak lama kemudian sekumpulan orang dengan berjaket kuning, berdiri tegap, dan gagah berdatangan memasuki kelas tiga. Yah inikan ada briefing dari mahasiswa UI. Semua siswa mulai masuk berduyun-duyun ke kelas. Saya yang duduk dibelakang sangat kagum dengan jaket kuning yang dikenakannya. Ini khan jaket yang kelak akan saya kenakan sebagai mahasiswa tapi, ehmm…
Mahasiswa Unnes bukan UI. Dua orang mahasiswa UI memperkenalkan diri masing-masing, salah seorang jurusan Ilmu Komputer satu lagi jurusan Teknik Metalurgi. Wah kayaknya jurusan yang elit yah, UI lagi… Mereka mulai menerangkan tentang kampus UI mulai dunia perkuliahan, kegiatan mahasiswa, biaya hidup. “Ehh perhatikan nih baik-baik tentang biaya hidup dan kuliah di UI“ Mahasiswa Fakultas Ilkom tersebut menerangkan sejelas-jelasnya.
Singkat cerita dapat saya tarik kesimpulan biaya bukan jadi persoalan untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya di UI. Loh kok begitu, awalnya saya sangat tidak yakin ,”Wah ini omong kosong nih”, dalam hati saya berusaha menampiknya. Pada sesi yang terakhir mereka menjelaskan tentang biaya kuliah, hidup mandiri untuk bisa eksis di ibukota, Jakarta. Sangat unik, karena teman-teman mahasiswa UI sangat kreatif dan mandiri dalam berusaha, belajar, dan bekerja. Selanjutnya mereka membagikan lembaran booklet. Kulihat lembaran booklet serba berwarna kuning, bergambar rektorat UI yang dikelilingi danau.
Sebuah pandangan yang indah untuk sekelas Universitas terbaik di Indonesia itu. Lembaran pertama menjelaskan tentang rincian biaya Universitas Indonesia dari berbagai jurusan. Weh sambil terkaget melihat biaya dari 5 juta sampai 30 juta untuk uang pangkal. “Yah inikan sepadan dengan reputasi UI itu sendiri” Kata teman sebelah saya. Kulanjutkan dengan membuka lembaran berikutnya yaitu tentang pernyataan rektorat UI: “Bahwa tidak akan ada mahasiswa UI yang harus drop out karena permasalahan ekonomi” sebuah komitmen dari rektorat UI yang saya rasa tidak sembarang sebuah pernyataan saja. Kalimat ini selalu terngiang-ngiang dalam benak saya. “Apakah UI seperti itu?, betapa mulianya UI”
Rasa penasaran ini mendorong saya untuk lebih menggali lebih jauh tentang UI. Bagaimana tidak, UI merupakan Universitas terbaik di Indonesia, tentunya dengan iklim kompetisi yang ketat akan sangat memacu saya dalam meraih prestasi. Apalagi setelah tahu bahwa UI sangat toleran terhadap masalah ekonomi mahasiswanya. Sampai-sampai rektor UI sangat menjamin kelangsungan studi mahasiswanya terutama permasalahan biaya kuliah. Nah apakah semua ini benar? dalam hati seakan menyangkal ini semua, tapi apa salahnya jika saya mencari kebenaran ini. Sungguh amat sayang jika saya menjadi seorang yang sangat skeptis. Sungguh dorongan dari orang tua sangat menumbuhkan optimisme dalam jiwa saya.
Mahasiwa UI dari alumni-alumni SMA Tegal yang tergabung dalam Sintesa (Satu Ikatan Tegal Bersaudara) secara rutin melakukan kegiatan briefing untuk memberikan informasi perkuliahan. Kedatangan teman-teman Sintesa turut memacu tingkat belajar saya. Hanya sayang, saya tidak bisa bertemu langsung dengan mereka. Setidaknya saya bisa mengeksplorasi tentang informasi UI tersebut. Karena mereka harus kembali ke ibukota Jakarta untuk melanjutkan studinya.
Suatu kesempatan emas, tepat 3 hari setelah pelaksanaan UAS, teman-teman Sintesa mau menjembatani adik-adik kelas 3 yang ingin mengikuti bimbel Nurul Fikri yang letaknya sungguh sangat dekat dengan UI. Kesempatan ini saya anggap sebagai momentum yang tepat untuk tahu lebih banyak tentang teman-teman Sintesa ataupun eksplorasi tentang UI itu sendiri. Kemudian setelah mendapat ijin dari orang tua, saya berangkat ke Jakarta untuk mengikuti bimbel Nurul Fikri. Awalnya saya hanya meminta ijin kepada orang tua untuk menenangkan diri (refresh) pasca UAS dan jalan-jalan ke ibukota. Namun dibalik itu semua ada sebuah skenario besar dari Allah SWT yang menunjukkan jalan kesuksesan saya.
Perjalanan sungguh melelahkan, kini jejak rumah saya telah tertinggal. Rombongan kami terdiri dari 20-an siswa SMA 1 Tegal , akan mengikuti bimbel esok harinya. Sehingga mereka beristirahat penuh melepas penat. Sesampai di kost masing-masing kami merapikan dan kembali meluruskan tujuan kami semula. Kini hanyalah teman-teman yang setia menemani dalam suka, duka, sepi, dan kerinduan. Disini saya mulai menjadi manusia yang mandiri. Mulai dari makan sendiri, nyuci, dan tidur sendiri.
Ternyata teman-teman Sintesa sangat ramah, sangat unik dan kreatif. Walaupun mereka berasal dari golongan berbeda, dari yang kaya sampai yang amat miskin ada di situ memberikan sambutan motivasi kedatangan adik-adiknya. Hanya saja saya makin heran, kok benar sih, ada teman Sintesa yang amat kurang ekonominya ? bagaimana mereka bisa eksis di kampus? Bagaimana juga mereka harus memenuhi tuntutan hidup yang mahal? Beragam pertanyaan menyerbu pikiran saya bertubi-tubi.
Dalam waktu yang singkat saya cukup bisa beradaptasi dengan teman-teman Sintesa. Saya lihat teman Sintesa sangat semangat belajar, berusaha, sampai bekerja part time. Inilah kenapa mereka bisa sukses di lingkungan yang keras. Tapi benar juga disini ada pembentukan mental yang tinggi sebagai manusia yang mampu berkompetisi.
Dari penuturan teman-teman Sintesa, memang benar bahwa UI begitu care dengan mahasiswanya sampai-sampai terbitlah pernyataan rektor tersebut sebagai janji terhadap seluruh mahasiswa se-nusantara.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa saya makin tersentuh dengan teman-teman Sintesa terutama dari golongan kurang mampu, sangat optimis dan percaya diri dalam meniti kesuksesan. Apalagi bisa dibandingkan dengan tingkat kompetisi studi, pergaulan, gaya hidup, di Jakarta/Depok lebih baik ditimbang di Semarang. Malahan saya sampai memahami seluk beluk UI dengan menggali informasi dari teman-teman Sintesa dan mahasiswa lain. Begitu dalamnya spirit UI tersebut hingga membuat saya ingin memilih UI sebagai pilihan pendidikan tinggi. Hingga suatu hari pertemuan saya dengan mahasiswa Teknik, Ardi. Beliau menjelaskan banyak tentang jurusan teknik meliputi prospek kerja, job, pemahaman matakuliah dsb. Dari beragam informasi tersebut mengingatkan saya akan impian saya semenjak dulu yaitu menjadi insinyur/engineering.

Bagian keempat : Berpasrah kepada Allah SWT
Sepertinya pilihan saya akan menentang pilihan orang tua yang semestinya menjadi guru. Tidak mungkin saya harus mendusta nurani jikalau saya tetap pada pilihan menjadi seorang guru sementara jiwa ini memilih teknik. Celakanya lagi ujian masuk perguruan tinggi (SPMB) berbarengan dengan waktu administrasi mahasiswa baru Unnes. Sebuah pilihan pahit, tak mungkin saya harus mengambil keduanya. Hal yang paling parah terjadi jika saya memilih SPMB maka saya siap dengan dua kemungkinan. Pertama saya akan lulus masuk UI dengan meninggalkan status mahasiswa Unnes. Kedua saya tidak lulus masuk UI dengan meninggalkan status mahasiswa Unnes dan mengecewakan orang tua. Jelas-jelas seperti memakan buah simalakama.
Sekali lagi saya tidak bisa memilih kecuali engkau yang memilihkan jalan yang terbaik bagi hamba-Mu ini. Inilah doa yang saya hajatkan setiap harinya di masjid perjuangan teman-teman, Masjid Mardhotillah. Jika teringat nama masjid (Ridho Allah) tersebut maka ingin air mata ini serasa meleleh. Hamba ini benar-benar mengharap ridho-Nya. Jikalau saya masuk UI maka ridhokanlah. Jikalau tidak, saya tidak ingin mendapat laknat-Mu karena melawan harapan orang tua. Berhari-hari dalam kebimbangan sementara ujian SPMB tinggal sepekan lagi. Maka kuputuskan untuk pulang kerumah, Tegal, demi mencari ridho orang tua.
Sungguh kaget orang tua mendengar permintaan anaknya ini. Semua terdiam, tanpa banyak kata ayah mengatakan, “ikutilah nuranimu, ayah selalu ridho jika itu jalan yang terbaik bagimu”. Sementara ibu hanya termanggut-manggut. Saya pun menetes air mata betapa takutnya saya dalam mengambil putusan besar yang menyangkut masa depan saya dan kebahagian orang tua. Sungguh sekali lagi hambamu ini tak ingin menjadi orang yang zalim. Terus kupanjatkan do’a, Shalat sunah kujalankan, Shalat Tahajud, witir, infaq shodaqoh, dan amalan-amalan sunah ku kerjakan demi memperoleh jalan yang lurus. Hingga akhirnya telah mantap pada pilihan saya yaitu ; UI pilihanku so get the UI spirit. Ini kelak menjadi jargon semasa perjuangan menuju SPMB.
Kuukirkan kata-kata indah tersebut di dinding kost. Tiap hari saya baca, dan bila perlu saya meneriakkan keras-keras. Teman sebelah hanya berkata sambil tersenyum geli, “Gilaa lo.., pagi-pagi dah teriak, oversemangat tuh”
Takkan ragu lagi, kini semangat telah memuncak, optimisme telah membakar dalam dada. Maka kukerjakan soal-soal SPMB dengan sepenuh jiwa. Setelah dua jam lamanya bergelut dengan soal-soal saya terus berdoa agar tidak tergelincir dalam kesalahan.
Satu bulan lamanya saya menanti pengumuman SPMB. Kini saya terdiam bego didepan internet. Cukup lama loading, suasana yang sepi karena saat itu jam 12.15 malam, jantung mulai berdetak kencang seperti berlari menempuh jarak jauh hingga melelahkan, nafas mulai tak karuan dan… “Selamat anda dengan no kode 2200469858 diterima “ Kurang lebih pernyataan yang terpampang dilayar komputer. Sujud syukur kepada Allah SWT yang telah menunjukkan jalan yang lurus bagi hambanya.
Kini penulis telah menginjak semester lima saat tulisan ini dibuat. Penulis mampu membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan jalan hambatan meraih impian. Buktinya, hanya terbayar uang pangkal dan BOP senilai 2 juta dari total uang pangkal dan administrasi 30 juta. penulis mendapatkan beasiswa Karya Salemba Empat selama 2 tahun senilai Rp. 500.000,00 perbulan dan beasiswa pengembangan akademik PPA senilai Rp. 250.000,00 perbulan selama dua tahun.
Di UI kita bisa mengukir prestasi, pengalaman, iklim kompetitif, pembentukan mental mandiri dan usaha. Saat ini penulis sibuk dengan aktifitas mengajar murid privat (kurang lebih delapan puluh ribu per pertemuan). Kesibukan lain riset wasp (riset tentang wireless ), pengembangan proyek melalui kegiatan Exercis.

to be continue…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s