RSS

Arsip Kategori: Dari Sintesa Buat Adik

Dua Belas tulisan tentang cerita pengalaman sintesa’ers menembus tes masuk Universitas Indonesia

“UI dan Takdir Seorang Dari Desa”

Muhammad Budi Mulyawan (Geografi 2007)

“Untuk semua junior yang menjadi BEST FRIEND dan teman-temanku yang terus memberi semangat, I LOVE YOU FULL”


“Ada proyek ya Mas?” Kata tukang ojek. Jawabku: “Proyek apaan?” Dia menjawab santai: “Proyek bangunan”. Dalam hatiku berkata: “Ini tukang ojek keceplosan amat, masa mau kuliah di UI dikira mau nglamar jadi kuli bangunan”. “Memang banyak proyek di sini Bang?” Lanjutku. Abang itu menjawab enteng: “Banyak orang daerah yang proyek disini”. “Lumayan juga nih. Tar kalo jadi kuliah di sini bisa nyambi jadi kuli bangunan” Batinku. Setelah kuperhatikan, rupanya aku salah memakai topi, posisi depan topi kubalik ke arah belakang. Ditambah dengan dandanan seadanya saja. Rupanya imej inilah yang membentuk imej seorang kulproy alias kuli proyek.

Meniru Mas Apip, Prolog ini tidak untuk “Gagah-gagahan”. Prolog tersebut kutulis untuk memberikan gambaran bahwa perjuanganku mungkin berbeda dengan cerita-cerita lain di buku ini yang memunculkan heroisme belajar keras, perjuangan tak kenal lelah, atau memori mengesankan lainnya. Mengingat kekurangan itulah, kemudian aku tertarik untuk menuliskan sisi lain perjuangan ketika aku masuk kampus ini dan hidup di dalamnya. Kelucuan demi kelucuan disertai dengan perjuangan tak kenal ampun terus aku dapati. Ampun dah…

Singkat cerita, di pagi-pagi yang buta, tibalah aku di Depok, Jawa Barat. Setelah turun dari Bus Dewi Sri, aku dan bapak langsung bingung mencari Basecamp SINTESA yang katanya nang ngisor jembatan. Bayangan negatipku keluar lagi, “Nelangsa amat anak-anak Sintesa hidup di bawah jembatan”. Segera saja kunyalakan hp dan langsung mau nelpon salah satu personil Sintesa yang ditugasi untuk menjemput kami. Eh jebule pulsaku tidak cukup buat nelpon. Rupanya aku lupa mengisi pulsa sebelum berangkat. Masya Allah…

Aku dan bapak menyeberang jalan ke arah yang salah. Melewati dua jalan raya dan dua rel kereta api. Sudah salah menyeberang, lalu ada sopir taksi yang sotoy dengan alamat ini. Dengan pedenya supir taksi itu berlagak mengerti alamat Sintesa yang kami tanyakan. Kami pun masuk ke dalam taksi. Kemudian taksi melaju ke arah Pasar Minggu, muter-muter dan tentu saya… Nyasar!

Kami terus menanyakan alamat SINTESA ke orang-orang di sepanjang jalan. Banyak orang yang menjawab nggak tahu. Taksi lalu berjalan perlahan mencari orang yang bisa ditanyai di pinggir jalan. Kemudian tampaklah seorang ibu-ibu. Kami segera keluar dari taksi dan bertanya lagi, ibu separuh baya itu mundur dan tampak ketakutan. “Waduh apa dikira mau ngrampok?” Batinku. Sekejap kami saling bertukar pandang dengan ibu itu. Lalu dia menjawab tidak tahu.

Ternyata aku baru sadar, basecamp SINTESA itu memang benar terletak di gang tepat di jembatan waktu kami turun dari bus. Di Jembatan Biru. Nah, akhirnya bisa ditebak. Taksi berbalik ke tempat semula. Sebelnya minta ampun, tetapi aku harus positive thinking (baca: positip ningkring). Kuanggap naik taksi dengan ongkos puluhan ribu itu jalan-jalan santai di pagi-pagi buta. Esih petheng ndedet soale.

Akhirnya Kami masuk Gang Material lalu memasuki rumah kontrakan. Namanya “Wisma Arjuna” (Wismanya lelaki). Tiba-tiba keluarlah penampakan senior dari dalam kontrakan itu. “Eh lagie bocahe” Batinku. Sebut saja Rofi’i (Teknik Elektro 2006), dia keluar mengenakan sarung dengan kondisi yang masih awut-awutan. Kukira aku mau disambut dengan karpet merah dan ucapan selamat datang diiringi kuntulan, eh ternyata dia cuma menanyakan “Anda siapa ya?”

Aku akhirnya harus menjelaskan bahwa inyong kuwe kandidat untuk karantina SBB. Susah memang ngobrol sama orang kriyep-kriyep. Oh ya, sebentar. SBB adalah satu program SINTESA yang dibuka pertama kali pada angkatanku. Sintesa merekrut sekitar 10 anak yang dipilih se-Kota dan Kabupaten Tegal untuk menjalani karantina di kosan terpencil, di Kukusan Kelurahan alias Kukel. Program ini dibiayai oleh Pemerintah Kota. Biaya kontrakan, formulir SPMB, dan fasilitas lainnya ditanggung oleh Pemerintah Kota Tegal. Harapanku, mudah-mudahan tiap tahunnya Pemerintah Kota dan Kabupaten bisa menyiapkan anggaran yang besar untuk program karantina persiapan SPMB ini. Amin.

Setelah bergas ora kriyep-kriyep maning, senior itu lalu mengantar ke jalan yang tadi. Kami menyeberang jembatan lalu naik ojek Kami naik ojek sampai ke Kukel (lihat paragraf awal). Muzani yang belum adhus menyambutku di gerbang pintu perjuangan. Pintu Kukel. Setelah mengantarku, bapak langsung mampir ke saudara yang berada di sekitar Monas.

Di kontrakan inilah setiap hari kami digembleng dengan soal-soal SPMB selama sebulan lebih. Ratusan bahkan ribuan soal harus kami lahap tanpa kenal lelah. Setiap Minggu kami mengikuti Try Out untuk mengasah skill. Sintesa telah menerjunkan anggota-anggota khusus, para pengajar ahli SPMB beserta pakar bimbingan konseling dan jurusan. Tidak lupa sarana seperti modul, alat belajar mengajar, kompor, panci mini, dan rice cooker disiapkan. Tentu agar kami menjadi “Keminclong lan moncer pikirane”

Di karantina yang mirip “Akademi Fantasi” ini, aku tidak sepintar teman-teman lain. Mereka kuanggap banyak yang jenius. Kemampuanku pas-pasan. Tapi bagiku itu tidak masalah. SPMB itu bukan hanya masalah pintar tapi juga strategi. Lama kelamaan aku menyadari ada sebuah “kemonotonan” dalam teknik pembuatan soal SPMB. Soalnya serupa tapi tak sama dengan soal-soal tahun kemarin. Itu kuncinya.

Setelah kuliah, barulah aku tahu yang bikin soal SPMB itu kadang ada yang males bikin soal. Seorang manusia tidak akan mengurusi pembuatan soal SPMB saja. Dia mempunyai istri yang harus diurusi, rekening telepon, listrik, cicilan mobil, cucian yang numpuk (subyektif, tapi menurut aku ini realitas). Bukalah mata, banyak urusan dibalik pembuatan SPMB. Sehingga “copy-paste” kadang menjadi jawaban para pembuat soal. Itu yang membuat optimisme aku terus bergerak. “Masak udah ngehafal trus mahamin ratusan ampe ribuan soal nggak ada yang keluar sih. Gila kali Ndro?”

Terbukti banyak soal yang sama persis dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalo udah paham dan hapal, ngerjain soal seperti ini bisa sambil “merem-melek” saja. Aku hanya bermodalkan menghapalkan soal, memahami materinya, kemudian menguasai konsepnya. Sederhana tapi canggih. Aku menyebut itu strategi. Orang pintar itu sudah banyak, tapi kadang saking sombongnya, orang pintar lupa ada orang yang punya strategi. Rasain lu…

Kembali ke tempat karantina, di tempat karantina itu aku mulai mengenal banyak Senior. Senior Sintesa rata-rata baik hati. Mereka juga sangat perhatian saat membantu dan mengajar kami. Dulunya Sintesa pernah membantu mereka. Mereka ingin membalas kebaikan Sintesa sebagai wujud terima kasih mereka pada Sintesa. Aku ngefans pada senior seperti Mas Udin (Matematika 2005) yang terus membantu aku sampai saat ini, Mas Pandhu (Fisika 2005), Mas Ipin (Sipil 2005), dan Mas Novel (Hukum 2005). Mas-Mas serta Mbak-Mbak lain yang tidak bisa disebutkan jasanya satu persatu. Semoga Allah membalas kebaikan mereka. Lancar jodoh. Amin.

Dari begitu banyak senior di sana, aku terinspirasi pada seorang senior yang bernama Casmito (Geografi 2005). Dia pernah berkata “Sungguh Sayang sekali ahli Geografi masih sangat sedikit di negeri seluas negeri kita”. Dari kalimat itulah aku teringat bahwa dari SMP sampai SMA, pelajaran yang sangat kucintai adalah pelajaran Geografi, maka aku memutuskan untuk memilih Geografi sebagai jalan hidup aku. The Way of Life…

SPMB tiba, aku mujur 100%. Dapat tempat di dekat kontrakan. Tinggal mencolot sebentar langsung sampai ke lokasi SPMB di Fakultas Teknik. Ada satu pantangan sebelum SPMB. Jangan memakan makanan pedas atau kopi di malam harinya. Kenapa? Karena aku melanggar itu dan merasakan akibatnya. Aku hampir ditinggal kandidat lain karena paginya terlalu lama di kamar mandi. Bahasa Tegale “wetenge mules”

Singkat cerita, akeh nemen pria dan wanita yang mau ikut test SPMB. Ada yang rambutnya dicat, ada yang dandanannya kayak artis. Rupanya ada yang sempet ke salon sebelum SPMB. Marshanda pada waktu itu test bareng aku (meski beda tempat). Sangat membanggakan test bareng artis. Bisa buat cerita di kampuang nan jauh di mato. Di hari-hari selama SPMB tidak lupa aku terus berdoa.

Hari pengumuman (beberapa Minggu setelah SPMB) datang. Aku rundag banget. Aku takut jawabanku salah, aku takut mengecewakan orang tua, aku takut mengecewakan Tegal tercinta, aku takut gagal, dan hanya bisa berpasrah kepada Dzat yang menghilangkan ketakutan, Gusti Allah. Setelah penantian panjang di Tegal, dengan Rahmat Allah Subhanahu Wataa’la akhirnya…

Sujud syukur kulakukan setelah mendengar kabar dari Muzani. Alhamdulillah keterima di Geografi UI !!! Sedihnya banyak teman-temanku yang tidak diterima. Baik yang belajar di NF maupun yang dikarantina bareng aku. Dari 10 orang, hanya beberapa yang lolos. Aku bersyukur kepada Gusti Allah yang telah memberikan kesempatan ini. Peserta SBB 3 orang masuk UI, satu orang masuk IPB (Muzani sing lagi kae durung adhus). Kejadian ini semakin menyadarkan aku bahwa pintar bukan merupakan jaminan.

Beberapa hari setelah pengumuman, tibalah waktu registrasi. Aku disuruh berangkat sendirian dari Tegal ke UI oleh bapak. Katanya biar mandiri. Lalu diberi uang tunai seadanya (ya memang adanya segitu). Kata bapak, “Hati-hati kalo bawa uang tunai ke Jakarta”. Saking hati-hatinya Bapak menyuruh aku menaruh uang di sepatu. Duite bapak mung-munge sekitar tiga setengah juta nempel di sepatu aku buat registrasi. Mantap…

Wow, bayangkan seorang dari desa ke Jakarta sendirian dan membawa uang tunai sebanyak itu karena belum punya ATM. Naik bus Dewi Sri jurusan Kampung Rambutan dan kurang beruntungnya, ternyata bus itu tidak masuk Terminal Kampung Rambutan. Aku diturunkan di jalan yang bercabang-cabang namanya Pasar Rebo di pagi-pagi buta. Setelah diturunkan, aku hanya mlongo bagaikan kebo mau naik lift. Ini Jakarta, mlongo sedikit duit bisa melayang pikirku. Bisa gak jadi kuliah gara-gara dirampok nih. Dengan sedikit sotoy aku berlagak nunggu. Nunggu dan nunggu membuat kecurigaan tukang Ojek.

“Mau kemana Mas?” Kata tukang ojek. “Depok” Jawabku singkat. “Naek ojek aja ayo Mas!” Katanya. Waduh, kebayang berita patroli seorang calon mahasiswa UI tergeletak di tengah kebon dengan kepala ilang. Dengan agak takut-takut aku mengiyakan ketimbang berada di jalan ini ntar tambah runyam. “Berapa duit Pak?” Tanyaku. “Dua lima deh Mas, Depok jauh Mas”. Lalu kutawar “Wah, lima belas ribu aja Pak, gimana?” Tukang ojek itu kemudian mengiyakan setelah lamaaaaaaa berpikir. Tanpa mengenakan helm, terpaksa berang berang makan coklat. Berangkaaaaat…

Dalam hatiku: “Kasian amat ini Bapak, ayam di kandangku belum kukuruyuk dia udah mencari nafkah buat anak istrinya”. Di perjalanan, aku ngobrol banyak dengan bapak ini, sempat hati mungilku merasakan iba. Setelah sampai di depan gang Material, aku membayar tukang ojek ini 15 ribu sesuai perjanjian. Lalu aku menambah 2 ribu lagi karena merasa iba. Aku ceritakan pengalaman ini pada Mas Emil Yakun (Kimia 2005). Aku kaget dan terperangah mendengar pernyataannya. Kata Mas Emil, “Kalo naik angkot dari tempat kamu turun paling cuma bayar 3000 perak”. Waduh, sekali lagi aku menjadi korban transportasi Jakarta.

Kemudian datanglah hari simulasi kuliah yang sudah dimulai sejak awal Ospek. Simulasi ini namanya OBM. Jumlah anak dalam satu kelas sekitar 40 anak bercampur dari berbagai Fakultas dan jurusan. Hari pertama aku tidak masuk karena mengurus keringanan uang pangkal. UI sangat perhatian pada mahasiswanya yang mengurus keringanan uang pangkal sebagaimana pengalaman senior-seniorku. Kemudian hari kedua aku masuk telat dan satu lagi ganjalan, letak kelasku di Engineering Center dan harus naik lift. Tidak kebayang olehku saat itu bagaimana menggunakan lift.

Bisa ditebak, aku hampir putus asa karena hari sudah mulai siang. Di depanku ada satu benda kotak aneh, namanya lift. Aku biasa melihat lift tapi tidak bisa mengoperasikannya. Tiba-tiba ada seorang gadis (pasti gadis mau OBM) berlari-lari dan membuka lift dengan nafas tak beraturan. Aku masuk ke dalamnya. Dia memencet-mencet tombol. Disitu kami saling berkenalan. Adegan ini mirip-mirip iklan Axe. Sayangnya aku gak pake parfum, natural aja. Belajar dari kejadian ini, aku sering berlatih menggunakan lift di Rektorat UI dengan baik dan benar. Sekarang aku sudah expert memakai lift.
Ketika masuk kelas, semua anak melihat ke arahku (maklum telat). Dosennya lalu bertanya: “Dari mana Mas?” Kujawab dengan keras “MIPA Pak!” Dosennya bertanya lagi: “Bukan, dari kota mana maksudnya?” Aku menjawab “TEGAL” (dengan aksen tebbbal). GERRRR… Spontan semua anak yang ada di kelas tertawa terbahak-bahak. “Wong Tegal, Wong Tegal, Warteg, Warteg…” Kata mereka agak meledek.

Ingin rasanya berteriak “Weh, Kalau nggak ada warteg, orang Jakarta bisa mati kelaparan!!!” Dalam hati, aku tetap selalu optimis. Sebentar lagi jangan-jangan yang jaga warteg kuliahnya harus S2. Mungkin itu adalah pertanda jika Warteg akan menguasai dunia.

Aku menjadi terkenal di kelas itu sampai sekarang karena aku orang Tegal yang menurut mereka cukup pede dan unik mungkin. Jadi mereka tertarik denganku. Ada cewek yang sampai histeris tertawa–tawanya dan terus mendekatiku waktu itu. Berusaha memastikan apakah aku memang polos alami atau polos dibuat-buat dan hasilnya aku memang polos alamiah. Selanjutnya kami semua di kelas itu bersahabat sampai sekarang.

“Kamu sih tinggalnya di lantai pira?” Keceletot alias keceplosan sangat sering terjadi mengingat keceletot merupakan proses yang wajar. Tidak jarang kalimat “Daning kamu ke sini?” atau “Perut gue ngelih, mangan dulu yuk!” Kadang keluar dari lisan tanpa sadar. Beginilah transisi bahasa Tegal ke Jakarta. Harap maklum. Ini adalah proses awal wong Tegal hidup di Jakarta.
Aku tinggal pertama kali di asrama UI selama sebulan. Mengingat kata senior, akan banyak kenalan dan pengalaman hidup di asrama. Asrama UI memiliki lebih dari seribu kamar. Menampung ribuan mahasiswa dari Sabang sampai Merauke, dari Jongor sampai desa Jejeg Bumijawa. Aku akrab dengan teman-teman dari berbagai daerah. Berteman dengan siapa saja termasuk penjaga warung.

Saking akrabnya sama si penjaga warung, aku selalu makan tepatnya di belakang etalase lauk pauk. Sementara teman temanku makannya di meja makan asrama. Mungkin teman-temanku mengira aku adalah penjaga warung itu. Mbuh baen yah, Bagi aku, kenal dengan penjaga warung adalah aset yang berharga. Bisa dikasih murah kalo bayar. Jadi ingat tukang ketoprak yang kadang membisikkan: “Biasanya aku jual 5 ribu, tapi karena kita daerahnya sama, buat kamu 4 ribu saja. Aku wong Krandon lho Mas”

Saking penampilannya ndesa mungkin, pernah aku disangka tukang fotokopi. Pada waktu ospek, tempat fotokopian ramai sekali. Aku berada di belakang etalase memakai kaos oblong ukuran L. Lalu ada seorang cewek yang menyuruh aku untuk memfotokopikan kertasnya. Kujawab dengan enteng “Bukan aku Mbak yang foto kopi, itu yang lagi di dalem”. Gadis itu ngacir kabur malu sama aku. Mungkin kalo dilanjut bisa kaya cerita di sinetron-sinetron. Cinta bersemi di fotokopian.

Di asrama aku cuma satu bulan. Nggak betah karena asrama rame banget. Berisik. Kemudian lanjut ngontrak sama temen-temen di Wisma Arjuna, Basecamp Sintesa yang murah meriah. Ada jargon yang mengatakan “Penghuni Wisma Arjuna adalah calon orang sukses”. Memang terbukti. Aku melihat mantan penghuni Wisma yang sudah alumni banyak yang sukses.

Berkaca pada masa lalu, dulu aku sempat kepikiran UI hanya buat kaum borjuis dan konglomerat. Banyak anak pintar dengan kacamata besar dan tebal. Hal-hal seperti inilah yang membuatku mengeluh: “UI itu cuma buat orang kaya, orang desa kayak saya gak mungkin kuliah di situ. Itu sekolahnya artis. Saya mana mungkin bisa jadi artis?” tapi tetap saja kubantah dalam hati, hal yang jaiz, tidak akan berubah menjadi mustahil aqli. “Lha wong Gunung saja bisa njeblug kok, masa gak mungkin kuliah di UI” Batinku.

Lha setelah aku kuliah, anak UI itu ternyata biasa-biasa saja. Kacamatanya nggak setebal yang kubayangkan dulu. Temanku ada yang datang dari Nusa Tenggara Timur (untung dia nggak naik kuda liar ke Jakarta), ada juga dari pucuk gunung di Wonosobo, ada anak tukang bangunan, ada anak nelayan. Ada yang harus lewat belantara hutan di Sumatera buat kuliah di UI. Ada juga yang harus naik pesawat pengangkut barang kalau mudik, macam-macam ras dan suku dari berbagai daerah.

Banyak hal baru dan menarik yang kutemukan di UI. Aku senang sekali bisa kuliah di sini dengan berbagai fasilitas yang sangat lengkap. Ana bis sing bisa muter-muter kampus Jon! Angger nang kampus liya pada bangga nganggo BMW ato Mercy, Kyeh, aku kuliahe nganggo bis len, kancane aku sing Citayam malah mangkat kuliah nganggo sepur…” (tapi tak rasa esih kalah karo nang Tegal, padahal cah wadon, kancane inyong ana sing mangkat SMA-ne MBECAK loh)

Aku jadi lupa masa SMA. Dulu aku termasuk siswa yang gaulnya “cupu”. Aku menyadari keterbatasan dan kekurangan aku dalam beberapa hal termasuk “cupu”. Tapi, di tengah semua keterbatasan yang ada, aku mempunyai satu mimpi yakni bisa kuliah di UI dan menjadi orang yang tidak “cupu” (nggak cupu = ”Berguna bagi nusa dan bangsa”)

Aku seperti sebagian teman-teman di Sintesa, mengajar privat untuk menambah pengalaman dan juga mendapatkan tambahan penghasilan. Mengajar Geografi untuk SIMAK-UMB-SNMPTN menjadi hobiku di sana. Mengajar privat sangat populer di kalangan Sintesa. Nyatanya, memang murid-murid SD sampai SMA di Jakarta banyak yang membutuhkan guru privat. Jumlah murid peminat privat lebih banyak dari guru privatnya. Tidak sebanding. Jadi sangat mudah mendapatkan murid untuk privat. Ini jelas menjawab pertanyaan anak-anak SMA di Tegal yang bingung bagaimana biaya hidup di Jakarta nanti.

Di akhir cerita ini aku teringat desa kecilku. Seperti di Gembong, desa Mas Openg, Orang-orang di desaku sangat sedikit memberikan perhatiannya pada dunia pendidikan. Seakan-akan sudah menjadi budaya bahwa setiap kali lulus SD atau paling banter SMA anak-anak mereka langsung diterjunkan untuk kerja. Laki-laki ke rumah juragan logam, ngepon atau mbubut. Yang perempuan kadang di rumah saja, nunggu dilamar orang. Sungguh memprihatinkan.

Satu waktu, kadang waktu Bapakku cerita ke orang-orang desa, anake inyong kuliah nang UI, mungkin orang-orang hanya mlongo, karena banyak yang tidak tahu UI. Apalagi MIPA, apalagi Geografi. Seolah mereka berkata “So what? This is not my business!” (wong Tegal jebule akeh sing bisa bahasa Inggris)

Aku sangat menyarankan kepada adik-adik yang masih di SMA, kuliah itu tidak harus di UI. Sekarang banyak pondok pesantren, akademi, ikatan dinas, dan Universitas yang bagus serta prospeknya cerah. UI bukan satu-satunya pilihan untuk berkuliah. Tetapi bila sekali lagi UI adalah keyakinanmu dan pilihan hidup yang harus ditempuh, maka persiapkanlah ini baik-baik. Kalau bisa latihan mengerjakan soal SPMB itu harus dimulai dari kelas 3 atau bahkan 2 SMA. Karena semakin ke depan persaingan yang akan terjadi akan semakin berat

Aku mulai latihan mengerjakan soal SPMB semenjak kenaikan kelas 3. Saking asyiknya sampai-sampai aku pernah ketahuan guru sedang mengerjakan soal matematika SPMB padahal saat itu bukan jam pelajaran Matematika. Untung gurunya baik. Aku cuma dinasehati agar jangan membuka buku pelajaran lain di luar jam belajarnya.

Menurut aku, UI itu adalah sebuah menjadi sebuah takdirku. Takdir seorang dari Desa Talang. Dari awal, nggak pernah membayangkan bisa kuliah di UI. Tetapi doa-doa orang tua, guru ngaji, keluargaku, teman-teman, sahabat, dan orang-orang sekitar mengiringi usahaku dalam belajar. Doa diri sendiri dan orang lain itu penting. Tidak bisa dipisahkan dari sebuah usaha. Tidak lupa aku kepada orang tua-tua dulu yang menyuruh banyak bersilaturrohim dan bersedekah. Biar dapet ridhonya Gusti Allah dan cita-cita dipermudah.

Tidak lupa pula dulu aku bersekolah di TK Masyithoh, SD Talang 1, merantau ke SMP 2 Tegal, kemudian ke SMA 1 Tegal. Masuknya aku ke UI tidak lepas dari peran penting guru-guru yang membimbing aku nggambar gunung (waktu TK) sampai belajar Biologine Bu Susi bab pembuahan (SMA). Sungguh guru-guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Apalagi guru yang mengajarnya ikhlas tanpa tendensi. I Love You Full…

Cita-citaku sendiri sederhana. Ora pengin dadi dokter karo pilot kaya jaman SD. Aku ingin pulang, berkontribusi, dan bermanfaat dalam pembangunan Tegal tercinta. Bentuk kontribusinya apakah menjadi seorang ahli masterplan hidrologi, ahli remote sensing, seorang pakar kajian lingkungan hidup strategis (KLHS), ahli pembangunan wilayah dan perkotaan atau menjadi seorang dosen di kota tercinta, semua itu terserah Gusti Allah. Kewajiban aku hanya berusaha maksimal dalam mempelajari Geografi secara holistik dan komprehensif.

Akhir kalimat, mudah-mudahan cerita aku tentang sedikit pengalaman ndesani ini bisa menghibur dan bermanfaat, khususnya bagi yang wong ndesa yang mempunyai cita-cita melanjutkan kuliah di UI. Semangat! Semangat! Tidur! (Semangat terus lupa tidur)

“…dari TK Masyithoh ke UI. Belajarlah, manusia tidak terlahir dalam keadaan pintar”

 
13 Comments

Posted by pada Desember 5, 2009 in Dari Sintesa Buat Adik

 

Kaitkata: , , , , ,

“Berawal Dari Mimpi”

Eka Kumala Sinta (Kesejahteraan Sosial 2006)

24 Nopember 2008 (7:10 AM)
Mimpi, adalah kunci..
Untuk kita menaklukan dunia
(Nidji, Laskar Pelangi)

Mimpi, mungkin memang benar bahwa semua ini berawal dari mimpi. Terkadang, saya sendiri masih sulit mempercayai bahwa apa yang saya impikan kini menjadi nyata. Dulu, ketika SMA saya termasuk siswa yang biasa-biasa saja, jauh dari kesan siswa yang populer, pintar dan berprestasi. Saya menyadari keterbatasan dan kekurangan saya dalam beberapa hal. Tapi, ditengah semua keterbatasan yang ada, saya mempunyai satu mimpi yakni bisa kuliah di UI.

Berawal dari mimpi itu, saya mulai mempersiapkan diri sejak dini. Kelas 2 SMA, ketika teman-teman yang lain mungkin belum kepikiran SPMB, saya sudah minta dibeliin buku latihan SPMB. Yaa..meskipun tentu belum bisa mengerjakan soal-soalnya, setidaknya saya sudah buka-buka dan mendapatkan sedikit informasi mengenai liku-liku SPMB. Dan sejak itu saya terus berusaha mencari informasi mengenai SPMB dan UI tentunya. Setiap kali ke warnet, hampir bisa dipastikan bahwa www.ui.ac.id adalah website utama yang saya kunjungi. Gambar rektorat dan balairung serta stiker UI mejeng di berbagai sudut kamar dan buku-buku pelajaran, sebagai pengingat dan motivator.

Di samping motivasi yang selalu saya jaga dan informasi yang saya update, saya juga berusaha meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan soal-soal SPMB. Mulai dari mencoba disiplin latihan soal, bimbel dan ikut try out. Terasa berat dan sulit memang, kadang saya sering merasa buntu dan lelah menyelesaikan soal-soal itu. Seringkali, saya merasa sudah berusaha sekuat tenaga tapi tak juga bisa menyelesaikan soal-soal itu.

Target jumlah soal terjawab yang saya terapkan tak kunjung tercapai. Saya menyadari kemampuan akademis saya terbatas, dan hampir ingin menyerah. Saya pikir, sekuat apapun motivasi saya dan sebanyak apapun informasi yang saya miliki, itu tidak akan cukup jika saya masih tidak bisa menguasai teknik penyelesaian soal-soal SPMB. Tapi, saya memilih untuk bertahan dan tetap berusaha. Saya memilih untuk terus melangkah, meski sekecil apapun kemajuan yang saya capai. Saya bertekad untuk tidak akan berhenti, karena berhenti berarti mati.

Alhamdulillah, saya mempunyai kedua orang tua yang sangat mendukung dan setia membesarkan hati saya. Dengan keyakinan dan dukungan tersebut, saya berusaha dan tidak ingin mengecewakan mereka. Tetap bertahan, melangkah dan berprasangka baik padaNya adalah pegangan saya ketika dalam masa-masa sulit perjuangan SPMB.

…………..
Kalau kau kejar mimpimu
Salut!
Kalau kau ingin berhenti
Ingat tuk mulai lagi
Tetap semangat!
Dan teguhkan hati
Di setiap hari
Sampai nanti
Sampai mati
………..
(Letto,sampai nanti sampai mati)

Meskipun banyak hambatan dan kesuliitan yang dihadapi, saya menyadari bahwa mimpi saya terlalu berharga untuk dilupakan. Merupakan sebuah kerugian besar jika saya menyerah di tengah jalan. Maka dari itu, ketika menghadapi berbagai hambatan yang saya alami, maka yang saya lakukan adalah mengubah strategi. Ketika hasil try out saya masih jauh dari jurusan yang saya harapkan, maka saya mengikuti saran dari pembimbing dan senior untuk menurunkan target jurusan yang sesuai dengan kemampuan saya namun tetap sesuai dengan minat, bakat dan keinginan saya. Keputusan untuk merubah pilihan jurusan saya komunikasikan terlebih dulu dengan kedua orang tua, hal ini bertujuan untuk meminta pertimbangan sekaligus menyampaikan kesulitan yang saya hadapi. Akan lebih baik, ketika kita akan memutuskan sesuatu terlebih dulu mengkomunikasikan dengan orang tua.

Dan akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya dan teman-teman mempersiapkan diri sejak pagi untuk mengikuti SPMB. Kebetulan, Alhamdulillah tempat SPMB saya dekat dengan lokasi kos-kosan yang saya dan teman-teman tempati selama ini. Sementara sebagian besar teman-teman harus menempuh jarak berkilo-kilo meter dan menggunakan angkot beberapa kali serta harus berangkat pada pagi buta, saya dan beberapa teman seperjuangan lain mendapat tempat di UI, tepatnya di gedung perkuliahan Fakultas Psikologi.

Ketika mengerjakan soal-soal SPMB, saya menyadari bahwa saya tidak bisa menyelesaikan semua soal dengan baik dalam waktu yang disediakan. Maka dari itu, saya menggunakan strategi mengerjakan soal yang mudah terlebih dahulu serta hanya menjawab pada jawaban yang saya yakin benar. Saya berhati-hati untuk tidak menjawab sembarangan dengan menebak atau berspekulasi, karena satu kesalahan akan mengurangi nilai saya. Untuk itu, soal-soal yang terlalu sulit atau meragukan bagi saya, lebih baik tidak saya jawab. Selain itu saya juga mempunyai target minimal soal yang harus yakin saya jawab dengan benar.

Dua hari yang menentukan itu pun berlalu, peperangan awal telah usai, dan yang tertinggal adalah kepasrahan akan hasil yang akan didapatkan. Ketika kita telah mengusahakan yang terbaik, maka yang diperlukan selanjutnya adalah berprasangka baik padaNya serta mempersiapkan diri akan hasil apapun yang diperoleh.

Setelah SPMB usai, saya mengikuti beberapa tes seleksi perguruan tinggi lainnya, seperti USM STAN dan Ujian lokal UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Saya mengikuti keduanya, sebagai persiapan seandainya SPMB saya tidak diterima.

Sebulan setelah SPMB merupakan hari yang ditunggu-tunggu. Hari itu merupakan hari yang menegangkan, karena pada pukul 23.59 WIB akan diumumkan hasil SPMB tahun 2006. Penerimaan SPMB merupakan hal yang penting bagi saya dan keluarga, karena hal tersebut merupakan sesuatu yang kami sekeluarga perjuangkan, dan terutama itu adalah salah satu mimpi ayah saya yaitu, anaknya bisa kuliah.

Berhubung saya tinggal di kampung dan belum ada warnet, maka satu-satunya cara untuk mengetahui hasil SPMB secara cepat adalah dengan menggunakan koneksi internet HP. Maka dari itu, detik-detik setelah menonton malam final Indonesian Idol waktu itu merupakan salah satu momen menegangkan bagi kami sekeluarga. Menjelang pukul 23.59, kami sekeluarga berkumpul di ruang tamu untuk mengetahui hasil SPMB. Tepat pukul 23.59 saya mulai menyalakan HP dan memasukkan nomor peserta SPMB.

Sebelum saya meng-klik tombol proses, Bapak dan Ibu mendekat ke arah saya untuk mendampingi dan menguatkan apapun keputusannya. Dan saat itu, tak kan terlupakan dalam hidup saya…. Ketika 7 buah huruf berwarna biru muncul di HP saya menunjukkan kata SELAMAT, nomor peserta XXXXX diterima di jurusan XXXXXX…. Alhamdulillahirabbil’alamiin, aku keterima! Dan dua kecupan pun mendarat di kedua pipi saya, Subhanallaah… Allahuakbar!!! Meskipun waktu sudah menunjukkan tengah malam, saya tak bisa menyembunyikan rasa gembira yang dirasakan, Alhamdulillah….. Rasanya senang sekali ketika apa yang kita inginkan dan perjuangkan dapat tercapa dan tidak sia-siai. Alhamdulillahirabbil’alamiin….

Malam itu, Ibu mengingatkan saya untuk sujud syukur dan langsung istirahat. Akan tetapi setelah menunaikan sujud syukur, saya tidak bisa istirahat melainkan langsung menelpon teman-teman seperjuangan dan meminta nomor peserta mereka untuk mengetahui hasil SPMB mereka.

Setelah mengetahui hasil SPMB, saya dan beberapa teman lain yang diterima di UI langsung berangkat ke Depok untuk melakukan proses daftar ulang, pendaftaran asrama, dsb. Alhamdulillah semua proses tersebut berjalan lancar, hingga saya bisa menjalankan perkuliahan sebagai mahasiswa baru Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI.

Saya bersyukur, bahagia dan bangga menjadi bagian Universitas Indonesia. Saat ini saya sedang melanjutkan perjuangan dengan menikmati aktivitas perkuliahan agar bisa segera menyelesaikan perkuliahan dengan baik dan tepat waktu, serta berusaha selalu mempersambahkan yang terbaik untuk orang tua. Amiin….
SEMANGAT…!!!

 
Leave a comment

Posted by pada Desember 5, 2009 in Dari Sintesa Buat Adik

 

Kaitkata: , , , , ,

“Binder Book Uncovered”

Erlinda Perdana Putri (Psikologi 2007)

Di suatu pagi kesembilan belas bulan Maret, matahari nyorotnya keterlaluan, terik banget! Untung aja aku ga nguli (baca : kuliah, red.) hari ini. Dalam kecerahan yang terlalu di kamar kost, aku harusnya udah intim banget sama Psychological Testing by Anastasi & Urbina karena deadline dan bahan UTS udah menggila. Tapi jiwa procrastinator (suka menunda, red.) menguasai tanpa ampun, aku malah cari-cari kerjaan lain buat alasan menjauhi si Anastasi & Urbina itu.
Jadilah sebuah binder book uncovered jadi pelarianku. Begitu buka-buka halaman awalnya, otakku dengan gesit merecall catatan-catatan dari long term memory aku (jangan pusing bacanya, intinya cuma mau bilang aku langsung inget hal-hal jaman dulu, hehhe).

20 Mei 2007
Tema hari ini : Jalan-jalan seharian sama pacar & YMC. Walopun ga full banget seneng-seneng karena sepagian tadi pacar malah ngambek berat sampe bikin hati galau (cie…). Untung aja begitu aku ancem, pacar baik lagi, hahhaa.. Jadilah, seneng-seneng sesiangan sampe malem. Tapi pas mau pulang malah sedih banget banget banget! Aku harus pamitan sama mereka.. Besok pagi-pagi banget aku udah harus ke Jakarta buat ikutan bimbel intensif SPMB. Huuh, kenapa siy musti segininya nyiapin diri buat SPMB?

21 Mei 2007
Aku udah nyampe Jakarta, harus siap ikutan bimbel intensif di sini. Iya, aku harus repot berat buat ngadepin SPMB 2 bulan lagi. Harus rela jauh dari rumah, dari mama-papa, dari pacar, dari temen-temen..
Hiks, sedih siy, tapi ya udahlah, mau bilang apa. Sebenernya hari ini hari perdana masuk bimbel, tapi aku malah bolos karena belum nyampe Jakarta, hehhee.. Jadi deg-degan ngadepin besok, kaya apa temen-temen yang bakal aku temuin di sini, kaya apa beratnya bimbel buat SPMB, kaya apa juga rasanya jauh dari rumah buat waktu yang lama. Hhh..

23 Mei 2007
Aku abis dari UI!!! Wets, aje gile, gede bgt kampusnya..! Hari ini jadi adventure day banget, soalnya hari ini pertama kalinya aku naik motor di sadisnya jalanan ibukota dan langsung aja gitu disuruh jalan dari Utankayu sampe Depok (baca : kampus UI)! Emang siy, ditemenin sama mama, bude dan sepupuku tercinta. Tapi tetep ajaaaa, NGERI! Pegel banget bolak-balik JakTim-Depok demi liat calon kampus aku (amiiin). Oiya, hari ini bimbelnya libur karena emang tiap Rabu jatahnya libur.

2 Juni 2007
Gila, gila, gila…! Hidup aku penuh banget sama pelajaran!! Parah, seumur idup baru sekarang aku ngerasain jadi anak yang rajin belajar, ga pernah main keluar rumah, trus begaul akrab banget sama buku-buku pelajaran. Bimbel 6 hari seminggu & tugasnya bikin aku kerja keras, banting otak 7 hari seminggu. Kangen rumah, kangen mama-papa, kangen pacar, kangen ade-ade aku… Aku pengen pulaaaang! Hiks.. Untung aja, mama & pacar sering banget telfon. Seneng!

8 Juni 2007
Alhamdulillah, nilai tryout SPMB aku naik! Berasa ga sia-sia belajar mati-matian.. Oiya, tadi aku jatoh dari motor! Sial banget diseruduk orang dari belakang, udah gitu aku yang diomelin sama yang nabrak. Bener-bener ibukota itu kejam (alah, apaan siy! hehhe). Untung aja aku udah siap pasang muka galak & gantian ngomelin si abang ga tau diri itu! Huuh..! Perjuangan… perjuangan… demi UI, aku emang harus rela cape pulang-pergi dari rumah bude sampe ke tempat bimbel pake motor 25 kilo tiap hari…

16 Juni 2007
LULUS..! LULUS..! LULUS..!!!!!! Alhamdulillaaaah…. Huwwwa, seneng banget! Walopun sempet ada perasaan ngganjel juga buat hasil UAN, tapi ya udahlaaah, yang penting udah lulus… Hmph, besok pagi-pagi banget aku udah harus balik lagi ke Jakarta niy.. MAAALLEES!!! Enakan dirumah gini.. Bisa sama mama-papa, ketemu pacar, maen sama temen2… Oiyaaa, ada kabar bagus lagii, hampir lupa kan bilangnya… Nilai tryout aku udah lewatin passing grade psikologi UI! Yippiiee.. Moga aja sampe ntar pas SPMB beneran nilainya juga begini bagusnyaaa…

22 Juni 2007
Cinta marah-marah muluuu… Curigaaaaa mulu…. Kita berantem terus belakangan ini.. Hari ini juga lagi marahan, heboh banget niy marahannyaaaa… Aku sampe ga bisa belajar malem ini… Haaaduuuu,, capenya dicemburuin terus kaya ginniii… Hiks,, Aku pengen dingertiin.. Aku juga kangen diaaa, aku sayang diaaa,,, aku ga akan macem2 kuq disini.. Kan aku cuma pengen masuk UI, buat mama-papa, buat masa depan aku… Kenapa dia ga ngerti2 siy! Katanya sayang akuuu….

26 Juni 2007
Parah dehhh… aku mulai ga bisa kerjain soal-soal tryout! Gimannnaaaa innniii…?!!! SPMB makin dekeeeet… Ahh, ga suka deh kalo kaya giniii… Aku udah mulai jenuh banget! Cape banget idup monoton kaya gini… Cuma makan, tidur, ngebimbel, belajar lagi, gituuuuu terus tiap hariii! Aku boseeeennnnn………

30 Juni 2007
Nyata kan hasil tryout aku makin amburadul… Hiks… Sampe anjlok lagi kaya pas pertama ikutan bimbel coba! Haduuuhhh, SPMB udah deket bangeeeet… Mana cinta juga masih begituu, sekarang malah dia udah ngancem mau putus! Haaah, mau jadi apa aku pas SPMB ntar!!! Hmph… Aku cuma bisa nangis & ngerenungin keadaan, semoga semua cepet jadi baik-baik lagi..

3 Juli 2005
Jam 11 pagi mama & dinda nyampe Jakarta. Mereka khusus dateng buat temenin aku SPMB besok. Ga lama setelah mereka nyampe, kita langsung bermotor-motor ria di daerah Salemba, Jakarta Pusat buat survei tempat aku SPMB besok. Untungnya ga jauh dari rumah Pakde, yaaaa cuma sekitar 10 menitan gitu kalo pake motor.

4-5 Juli 2005
SPMB!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Huwa… ga bisa boong kalo aku deg-degan banget ngadepin dua hari ini.. Dua hari yang udah bikin aku repot setengah mati, bikin aku jauh semua yang aku sayangin, bikin aku mampus belajar muluuu… Akhirnya aku hadepin juga! Ternyata emang SPMB itu susaaaaah banget! Aku ngerasa suma yang aku pelajarin itu jadi blur. Begitu selesai SPMB, aku udah tinggal berdoa banyak2 ajaaa… Sempet dibilang ga lulus tuh sama si tempat bimbel, katanya prediksi nilaiku masih ga cukup buat tembus ke UI… Udah nangis2 kejer dirumaahh.. Ngerasa sia2 belajar segitu keras… Tapi, Allah emang LUARBIASA baiknya sama aku… Pas hari pengumuman SPMB, aku cek pake internet, notifikasi yang keluar itu “SELAMAT! Anda diterima dalam program studi ….. (nomor prodi Psikologi UI yang aku lupa berapa, hehe).” Sempet ga percaya tapi nyatanya sekarang aku udah kenal baik sama buku-buku pelajaran psikologi yang ribet tapi seruuu… ALHAMDULILLAH…

 
1 Comment

Posted by pada Desember 5, 2009 in Dari Sintesa Buat Adik

 

Kaitkata: , , , , ,

“Kereta Kenangan”

Zulhanief Matsani (Akuntansi 2005)

“Tulisan ini (sesungguhnya) ditujukan kepada teman-teman kelas 3 SMA
yang akan memasuki jenjang perkuliahan”

Dari Sebuah Kesadaran
Ada sesuatu yang kadang aku lupa syukuri ketika itu. Ketika aku memulai menggambar masa depan setelah sekolah menengah. Ketika tidak lagi menjadi siswa dan akan beranjak memasuki dunia baru yang aku sendiri sama sekali belum mengenalinya. Dunia itu bernama kampus.
Pertama, kesempatan untuk hidup dan terus diberi karunia berupa kesehatan dan kesempatan serta kemampuan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Aku yakin, tidak semua orang memilikinya. Memiliki teman-teman komunitas yang mendukung untuk aktif dalam kegiatan organisasi di SMA (waktu itu, aku aktif di OSIS dan Rohis).
Aku memiliki teman-teman yang sangat bersahabat untuk diajak berdiskusi dan sama-sama mengerjakan tugas serta mau dan sangat kooperatif untuk diajak belajar mempersiapkan UAN (Ujian Akhir Nasional, mungkin sekarang namanya sudah berubah, pen.) dan SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, mungkin sekarang namanya juga sudah berubah juga, pen.). Tidak lupa, detik-detik itupun, aku sangat bersyukur menemukan pula teman-teman yang baik dan selalu sama-sama melakukan hal yang positif, entah kegiatan itu bernama doa bersama menjelang ujian, saling ajak untuk salat dhuha di Mushala Baitul ‘Ilmi, sampai sekedar kumpul bareng tiap pekan untuk sekedar silaturahim satu sama lain.
Kedua, kesempatan untuk diberi kesadaran. Bahwa hidup tidaklah berarti selesai setelah kita lulus SMA. Lebih dari itu, kehidupan sesungguhnya mungkin baru dimulai ketika kita selesai menamatkan bangku sekolah menengah atas tersebut. Kehidupan yang sebenarnya. Ketika kita nantinya dituntut untuk lebih mandiri dan menghilangkan perlahan tetapi pasti ketergantungan terhadap orangtua dan orang-orang lain di sekitar kita. Maka, apa yang ada di benakku ketika itu adalah, berarti harus ada yang dipersiapkan untuk menghadapi tangga tersebut, tangga yang nantinya membawa kita menuju dewasa. Bangku kuliah namanya: kelak aku menemukan nama itu beberapa saat setelahnya.

Menimbang-nimbang Pilihan
Maka, berbagai rencana pun disusun. Mau kuliah di mana? Jurusan apa? Taktik dan rencana pun mulai disusun. Ada berbagai pilihan jalan yang terlintas ketika itu. Masuk STAN, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, atau kuliah di Jakarta/Depok, di PTN terbaik macam Universitas Indonesia, ataupun cukup kuliah di PTN biasa saja yang relatif dekat dengan dengan kota Tegal, semisal kuliah di Purwokerto (Universitas Jenderal Soedirman, Unsoed) ataupun di Semarang (Universitas Diponegoro, Undip). Beberapa kali juga sempat terlintas untuk kuliah di Yogyakarta, UGM, Universitas Gadjah Mada.
Beberapa pertimbangan pun dibuat. Masuk STAN pertimbangannya sangat jelas. Jadi pegawai negeri, setelah lulus langsung dapat kerja, kuliahnya tergolong lebih mudah menurutku ketika itu dibandingkan dengan kuliah di PTN tentunya. Minusnya, ketika itu saya berpikir tentang bagaimana membentuk semangat untuk berkompetisi jika kuliah pada tempat yang cenderung birokratis. Mungkin aku tak akan dapat merasakan pengalaman-pengalaman yang begitu berharga ketika nanti kuliah di sana. Tak ada masa yang menggelorakan semangat dan pengalaman yang luar biasa yang bisa dihadapi di sana. Itu pikirku secara sederhana ketika itu.
Di Jogja, aku tidak melihat ada jurusan yang tepat di sana. Kalau masuk teknik sementara kemampuanku sendiri tidak terlalu baik dalam fisika dan beberapa bidang eksak lainnya, aku sendiri merasa kurang yakin untuk dapat bertahan di sana. Lagipula, menurut pandanganku ketika itu, Jogja bukan lagi hadir sebagai kota pelajar yang begitu ramah (ini pandangan subjektif aja). Mungkin kota itu juga telah tercemari oleh berbagai pemberitaan yang menyebutkan bahwa banyak praktek-praktek asusila yang melibatkan remaja dalam jumlah yang sangat signifikan berlangsung di kota itu.
Kuliah di Semarang ataupun Purwokerto, aku berpikir kedua kota itu terlalu dekat dengan Tegal. Bisa-bisa pulang tiap Minggu, pikirku pendek ketika itu. Jadi, aku mungkin tidak bisa mengembangkan diri di sana karena pikiran ketika akhir pekan akan selalu tertuju pada pulang ke rumah terus. Hal itu, menurutku sangat tidak baik untuk membentuk mentalitasku sebagai orang yang masih muda dan memerlukan tempat untuk lebih independen dari ketergantungan terhadap siapapun.
Jadilah pilihan itu tertuju ke Jakarta, tepatnya ke Universitas Indonesia. Faktor lain yang mendorongku ke sana, salah satunya mungkin – walaupun saya yakin ini bukan faktor utama – adalah adanya kakak di sana, yang hanya selisih satu tahun.
Tetapi jelas, pilihan itu tidak berhenti sampai di sini. Aku, ketika itu, beranggapan bahwa aku juga harus memilih jurusan apa yang sebetulnya cocok untuk kumasuki. Beberapa pilihan yang terlintas ketika itu adalah Ilmu Komputer dan Akuntansi. Mengapa Ilmu Komputer? Waktu itu mungkin sedikit banyak, ketertarikan mengambil ilmu komputer juga karena kakakku kuliah di jurusan itu juga. Selain itu, mungkin ada sedikit euphoria kenangan pra-Olimpiade Komputer tingkat Jawa Tengah yang baru kuiikuti ketika akhir kelas dua ketika itu. Di jurusan Ilmu Komputer juga tidak ada pelajaran Fisika, pikirku ketika itu. Jadi, kalau sekedar Matematika mungkin masih bisa diikuti.
Pilihan selanjutnya adalah jurusan Akuntansi. Mengapa Akuntansi? Pilihan itu sebetulnya bukan sebuah pilihan yang populer ketika itu. Mengapa? Sebagai anak dari jurusan IPA ketika SMA, pilihan itu terasa tidak wajar di mata teman-teman kelasku. Rata-rata, ya, kalau ambil IPA ketika di SMA berarti mengambil jurusan eksak macam MIPA, Teknik, ataupun Kedokteran.
Pandangan salah yang akhirnya tidak aku turuti kemudian. Sebagai tambahan informasi, ketika itu, ketika masa SMA-ku, terlebih di kelas tiga, ada anggapan jurusan keren atau tidak. Terkadang, aku juga sering salah menganggap suatu jurusan setelah kuliah. Misalnya, ketika itu, kalau orang masuk dari jurusan kedokteran, hal itu dianggap sesuatu yang luar biasa. Dokter, dokter, dan dokter. Menjadi dokter sepertinya harus menjadi impian seseorang yang masuk ke jurusan IPA. Sesuatu yang sangat salah yang kusadari saat itu.
Pada akhirnya aku memutuskan memilih Akuntansi di urutan pertama pilihan SPMB. Mengapa Akuntansi. Pertama, nampaknya jurusan itu, menurutku sangat cocok untukku ketika itu. Aku pernah mengikuti kursus dasar Akuntansi yang disubsidi sekolah. Untuk pelajaran ekonomi, aku juga paling tidak, punya keyakinan, untuk mudah mempelajarinya. Kedua, adanya tantangan. Dengan persaingan yang sangat ketat untuk masuk jurusan Akuntansi UI, hal itu menurutku juga merupakan sebuah tantangan yang harus dicoba. Kompetisi, menurutku pada masa itu, akan menjadikan kita seseorang yang tangguh.

Merumuskan Strategi
Bedanya impian dengan cita-cita adalah satu hal, tindakan. Maka, aku masih bermimpi saja sebenarnya ketika masuk ke Akuntansi UI. Untuk mewujudkannya menjadi cita-cita, aku mulai merumuskan strategi, bagaimana sich cara masuk UI. Beberapa poin yang kususun ketika itu, menemukan dua jalan bagiku yang mungkin untuk masuk UI, PPKB (Program Pemerataan Kesempatan Belajar, populer disebut PMDK) dan SPMB.
PPKB banyak faktor keberuntungannya. Agak susah mengandalkan jalur ini. Akhirnya, berpikir cepat, berarti harus siap SPMB. Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan agar siap SPMB? Belajar soal-soal SPMB tahun-tahun sebelumnya. Maka dimulailah ‘tindakan’ itu. Di sela-sela belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah yang menumpuk, aku menyempatkan waktu untuk belajar soal-soal SPMB. Kebetulan waktu itu juga tidak ikut program bimbingan belajar dengan dua alasan: membuang uang dan melelahkan. Jadilah belajar soal yang dilakukan adalah belajar secara otodidak. Selanjutnya, karena tujuannya Akuntansi UI, maka harus lebih banyak belajar materi-materi SPMB yang untuk IPS, seperti Ekonomi, Geografi, dan Sejarah. Maka, sejak saat itu dimulai juga saat-saat bergerilya mencari soal-soal SPMB di anak-anak IPS plus materi pelajaran anak IPS seperti ekonomi dkk. Fokus belajar ketika itu adalah mengerjakan soal dan kemudian diulang lagi. Terus, sampai bosan.
Malam, tengah malam, dan menjelang dini hari. Itulah waktu yang tepat bagiku untuk belajar mempersiapkan masa depan, belajar soal-soal SPMB itu. Akibatnya, terkadang di kelas ngantuk, terpaksa tidur sore untuk menyimpan energi, dan bahkan tertidur saat belajar malam. Hal yang menurutku wajar, karena kelelahan tak bisa dipaksakan.
Satu hal lain yang menarik adalah jika kita tidak bersemangat melakukan sesuatu, maka carilah pesaing untuk melakukan hal tersebut. Misalnya nich, ketika aku malas belajar untuk SPMB, maka aku ketika itu kemudian mencari beberapa teman yang sama-sama mau diajak berkompetisi untuk belajar SPMB. Jadilah, terkadang malam minggu, kami habiskan dengan berkumpul bersama-sama. Tidak saja sekedar ngobrol, tetapi juga untuk sekedar me-review materi-materi SPMB sulit di Wisma SMAnsagal. Kebetulan ketika itu ada dua pakar mata pelajaran yang sangat qualified, matematika dengan susilo dan fisika oleh acis. Jadilah kedua guru itu menjadi rujukan bagi beberapa teman yang semangat untuk belajar.

Bertemu Sintesa
Sintesa ketika itu dikenal di sekolahku karena dua hal, yaitu kakak-kakak Sintesa sering datang ke sekolah untuk melakukan briefing, yang isinya semacam pengarahan dan memberi motivasi bagi anak-anak kelas 3 yang ingin melanjutkan kuliah. Selain itu, setiap tahun, setahuku ketika itu kakak-kakak Sintesa setiap tahunnya pasti mengadakan try out paling besar se-kota Tegal di GOR Wisanggeni.
Ketika kakak-kakak Sintesa datang ke sekolah untuk briefing, perasaanku ketika itu, alangkah senangnya menjadi mahasiswa Universitas Indonesia yang punya jaket kuning yang keren. Berbeda dengan ketika kakak-kakak Universitas lain yang datang, ketika kakak-kakak dari UI yang datang, biasanya teman-teman akan langsung mengenali, itu kakak-kakak dari UI karena jaket kuningnya yang khas.

Ketika kelas tiga, kedekatan dengan Sintesa makin terasa. Kebetulan aku ditunjuk menjadi ketua kelas dan penanggungjawab untuk penyebaran tiket di kelas 3 IPA 3. Karena berhasil menjual banyak tiket, aku berhasil mendapat bonus mendapatkan tiket itu cuma-cuma.
Kedekatan dengan Sintesa berlanjut ketika kakak-kakak UI menyelenggarakan kegiatan pertamanya, yaitu tour de UI. Kegiatan ini merupakan rangkaian kunjungan ke kampus UI selama 2 hari untuk melihat suasana kampus dan merasakan kehidupan kampus. Ketika itu, aku juga ikut acara itu sehingga bertambah dekatlah aku dengan Sintesa.

Dari Try Out ke Ujian Masuk
Sepulang dari acara tour de UI, semakin tinggi keinginanku untuk memasuki UI. Tekad ini sudah semakin bulat. Harus masuk UI jurusan Akuntansi. Maka, berbagai macam tawaran PMDK (jalur masuk Universitas negeri tanpa tes) yang ditawarkan dari Universitas selain UI, tentunya yang memenuhi persyaratan untukku, tidak menggoyahkan keinginanku masuk UI.
Langkah selanjutnya yang kutempuh adalah dengan mengikuti sebanyak mungkin try out yang ada. Hampir setiap acara try out aku ikuti, mulai dari try out yang diselenggarakan oleh Sintesa, anak-anak Jogja (yang diselenggarakan di SMK Karanganyar), try out anak-anak Semarang (di Gedung Bani Saleh), try out mahasiswa STAN yang tergabung dalam IST (Ikatan Siswa Tegal), dan try out lain yang mungkin sudah aku lupakan.
Beberapa pelajaran yang didapat dari try out antara lain: try out membuat kita terbiasa dengan kondisi ramai saat mengikuti ujian masuk, try out juga membuat aku selalu berusaha mengukur kemampuan dengan teman-teman lain, paling tidak di tingkat kota. Makin banyak ikut try out, menurutku ketika itu, makin terbiasa kita mengerjakan soal dan makin paham aku bagaimana mengalokasikan waktu untuk mengerjakan sebanyak mungkin soal dalam waktu yang ditentukan dan dengan kemungkinan jawaban benar yang semakin banyak.
Setelah mencoba banyak try out, akhirnya aku mencoba satu ujian masuk sebuah perguruan tinggi negeri terbaik di Jogja, dengan mengambil formulir IPA, dan pilihan pertama teknik elektro. Alhamdulillah diterima. Setelah itu, untuk memantapkan langkah, setelah UAN (Ujian Akhir Nasional), aku mengikuti bimbingan belajar khusus untuk persiapaan SPMB di Jakarta yang hanya satu setengah bulan saja.
Pada akhirnya, aku mengikuti SPMB di kota Semarang, tepatnya di Kampus Undip Tembalang di Fakultas Peternakan. Hasilnya didapat sekitar sebulan kemudian. Alhamdulillah, aku diterima di pilihan pertama: Akuntansi UI. Syukur yang luar biasa, aku panjatkan ketika itu, kepada Allah SWT.

Kembali pada Kesadaran
Itu ceritaku ketika itu, cerita yang telah menjadi kereta kenangan yang telah mengantarku sampai di sini sekarang (ketika tulisan ini dibuat), seorang Zulhanief Matsani yang menjadi mahasiswa semester 7, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, jurusan Akuntansi. Bagaimana dengan yang membaca? yang jelas aku tak tahu karena yang membaca tentunya banyak orang dan berbagai latar belakang dan sejarah pribadi yang berbeda. Masing-masing orang punya sejarah hidupnya sendiri.
Lalu, sampai di sini, aku ingin sekedar bercerita bahwa fase perjuangan hidup seseorang, selalu ada tantangan yang dihadapi. Ketika akhir kelas 3 SMA, kupikir setelah masuk UI semuanya telah selesai. Selesai keinginan dan cita-cita. Ternyata sama sekali tidak. Setelah kita masuk ke tahap lain fase hidup kita, selalu saja ada cita-cita baru yang muncul, dan menurutku, semua harus dikejar. Jangan sampai ketika kita sampai di Universitas atau cita-cita apapun yang kita inginkan, kemudian kita kehilangan tujuan berikutnya. Kuharap teman-teman juga berpikir seperti itu.
Setelah euphoria –aku mengartikannya sebagai kegembiraan sesaat- (yaitu diterima di Universitas Indonesia jurusan Akuntansi), sesungguhnya perjuangan yang baru telah dimulai. Harus ada minat dan antusiasme internal atau yang berasal dari kita. Selain minat, antusiasme menurutku sangat penting dalam perjalanan kita ketika kuliah. Antusiasme menentukan harus berapa besar energi yang kita keluarkan untuk mendapatkan sesuatu. Inilah pada akhirnya yang menentukan, dalam setiap langkah hidup kita, kita berhasil melaluinya dengan baik atau tidak.
Pada titik tertentu, aku seringkali miris melihat banyak teman-teman (mungkin salah satunya teman-teman yang ada di Sintesa), yang terlanjur hidup dengan masa lalunya. Mereka selalu memutar kembali kenangan masa lalunya, misalnya ketika masa sekolah menengah atas atau masa-masa sebelumnya atau menceritakannya kembali. Pada satu titik, itu baik. Menemukan kembali siapa diri kita. Tapi, pada banyak titik, itu tidak baik karena melupakan kita dengan masa sekarang, ketika kita harus mengejar mimpi yang harus kita hadapi: sekarang! bukan kemarin.

Kereta kenangan itu, telah selesai mengantar kita sampai hari ini. Entah di titik mana. Dan tugas kita kemudian adalah merancang untuk hari kemudian, apa yang harus kita lakukan. Tidak ada kata lain: kecuali berusaha menjadi yang terbaik di setiap episode kehidupan yang kita lalui dan bertanggungjawab terhadap semua pilihan hidup yang telah kita pilih.
Pada akhir tulisan, aku jadi teringat, berujar: selamat berjuang teman! dan kemudian ingin mengutip kata-kata dalam buku harianku (haha… sejak kapan punya buku harian?)

Hari ini!
Setiap manusia punya mimpi…
dan sekarang, mereka beranjak menjadikan mimpinya menjadi kenyataan…
(Pondok Al Kahfi, Kukusan Teknik, 27 November 2008)

 
Leave a comment

Posted by pada Desember 5, 2009 in Dari Sintesa Buat Adik

 

Kaitkata: , , , , ,

“Kisah Sukses”

Arif Raharto (Manajemen 2005)

Ketika diminta membuat tulisan tentang kisah sukses, sebenarnya saya bingung harus menulis apa. “Enyong durung sukses soale”. Tapi mungkin dengan berbagi pengalaman bisa dijadikan inspirasi oleh rekan-rekan dan adik-adik yang sedang membutuhkan.
Saya punya banyak kenangan yang membuat saya bangga dan bersemangat saat saya mengingatnya kembali. Entah ini disebut keberhasilan atau kesuksesan, namun bagi saya ini adalah keberuntungan yang dilapisi rasa optimis.
Berawal dari SD Negeri Panggung 12 yang tidak memiliki peringkat di Kota Tegal (sekolahe mlosok, tapi cedeke sekolah apik, SD Negeri Panggung 4). Saya lulus dengan nilai pas-pasan, kalau tidak salah dengan NEM 34,08. Kemudian dengan bekal ini mendaftar ke SMP 1 Tegal yang saat itu passing gradenya pada 2 minggu sebelum pengumuman adalah 33,89. Tanpa melakukan percabangan (nekat bae wis, pengene manjing SMP 1 tok)
Alhamdulillah saya berhasil masuk. Kemudian saat lulus SMP 1 Tegal, saya hanya berpikir harus masuk SMA paling bagus di Tegal. Dengan NEM 40,48 saya mendaftar ke SMA 1 Tegal (sing paling apik se dunia) yang memiliki pasing grade 1 Minggu sebelum pengumuman sebesar 39,98 (kalau tidak salah inget). Sekali lagi tanpa nyabang. Alhamdulillah diterima.
Setelah lulus SMA pun saya mencoba mendaftar ke 2 institusi dengan modal nekat. Ke UI dengan nilai Try Out NF tidak pernah menembus jurusan yang saya inginkan (Manajemen UI, paling banter kurang 24 point, skore tertinggi 740an), nekat tetap mengambil jurusan tersebut.
Saya Mendaftar STAN dengan nilai rata-rata 7,04 (syarat minimal daftar 7,00), dan tidak belajar sama sekali (hanya belajar malam sebelum ujian). Saya berangkat ke Jogja malam menjelang ujian, sampai jam 4an dan ujian jam 8an. Dan masuk ke STAN D3 Akuntansi (yang katanya grade tertinggi). Saya tidak tahu ini kisah sukses atau bukan, tapi saya lebih melihatnya sebagai keberuntungan karena optimis.
Setelah di kampus, saya mengidamkan bisa menjadi ketua Sintesa (sung, pengen nemen), tapi melihat umur yang tidak mencukupi, akhirnya saya memilih jadi ketua SGTT VI (even paling apik se Negara Tegal). Hanya unggul 1 suara dari Bang Ipin (calon PO juga) saya kemudian menjadi seorang PO SGTT. Saya juga berkeinginan menjadi seorang GM (General Manager/Manajer Pimpinan) di usia muda (inilah yang memotivasi saya masuk FEUI Manajemen).
Untuk mewujudkan itu, saya membentuk organisasi bawah tanah (alah bahasane serem), tepatnya organisasi bisnis yang disebut Al Mumtaz Progressio (dengan Core Business kursus privat). Disinilah saya menisbatkan diri menjadi seorang GM. Semua ini didorong oleh sebuah kepercayaan bahwa apa yang saya katakan harus saya usaha untuk mewujudkan menjadi kenyataan. Saya pernah mengatakan pada Ibu saya bahwa saya harus masuk UI, Alhamdulillah saya masuk UI.
Saya pernah mengatakan pada teman-teman bahwa saya ingin membuat lembaga privat, saya mewujudkannya, saya pernah mengatakan pada teman-teman bahwa saya ingin menjadi ketua Sintesa, namun tidak terwujud saya gantikan dengan ketua SGTT. Everything is about what you say. Beranggapan bahwa apa yang anda ucapkan adalah sebuah janji dan hutang yang harus anda penuhi akan membuat anda menjadi semakin kuat.
Kini, saya telah memiliki beberapa usaha yang berkembang, private, laundry, dan rental projector. Sesuai dengan ikrar saya pada diri saya pribadi juga agar saya kuliah tanpa bantuan orangtua. Namun saya masih belum bisa menyatakan ini sebagai kisah sukses, karena perjuangan menuju kesuksesan baru saja dimulai. Saya baru saja berniat untuk sukses. Dan mendapatkan kesuksesan di akhirat yang jauh lebih penting.
Untuk rekan-rekan Sintesa. “Jika anda ingin impian anda menjadi kenyataan maka katakanlah, dan berusahalah agar yang anda katakan bisa menjadi kenyataan”. Itulah resep sukses saya selama ini. Tak lupa doa kepada Allah yang selalu mendengarkanmu. Dialah yang selama ini memperhatikan niat dan keinginan kita.

 
Leave a comment

Posted by pada Desember 5, 2009 in Dari Sintesa Buat Adik

 

Kaitkata: , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.