Muhammad Budi Mulyawan (Geografi 2007)
“Untuk semua junior yang menjadi BEST FRIEND dan teman-temanku yang terus memberi semangat, I LOVE YOU FULL”

“Ada proyek ya Mas?” Kata tukang ojek. Jawabku: “Proyek apaan?” Dia menjawab santai: “Proyek bangunan”. Dalam hatiku berkata: “Ini tukang ojek keceplosan amat, masa mau kuliah di UI dikira mau nglamar jadi kuli bangunan”. “Memang banyak proyek di sini Bang?” Lanjutku. Abang itu menjawab enteng: “Banyak orang daerah yang proyek disini”. “Lumayan juga nih. Tar kalo jadi kuliah di sini bisa nyambi jadi kuli bangunan” Batinku. Setelah kuperhatikan, rupanya aku salah memakai topi, posisi depan topi kubalik ke arah belakang. Ditambah dengan dandanan seadanya saja. Rupanya imej inilah yang membentuk imej seorang kulproy alias kuli proyek.
Meniru Mas Apip, Prolog ini tidak untuk “Gagah-gagahan”. Prolog tersebut kutulis untuk memberikan gambaran bahwa perjuanganku mungkin berbeda dengan cerita-cerita lain di buku ini yang memunculkan heroisme belajar keras, perjuangan tak kenal lelah, atau memori mengesankan lainnya. Mengingat kekurangan itulah, kemudian aku tertarik untuk menuliskan sisi lain perjuangan ketika aku masuk kampus ini dan hidup di dalamnya. Kelucuan demi kelucuan disertai dengan perjuangan tak kenal ampun terus aku dapati. Ampun dah…
Singkat cerita, di pagi-pagi yang buta, tibalah aku di Depok, Jawa Barat. Setelah turun dari Bus Dewi Sri, aku dan bapak langsung bingung mencari Basecamp SINTESA yang katanya nang ngisor jembatan. Bayangan negatipku keluar lagi, “Nelangsa amat anak-anak Sintesa hidup di bawah jembatan”. Segera saja kunyalakan hp dan langsung mau nelpon salah satu personil Sintesa yang ditugasi untuk menjemput kami. Eh jebule pulsaku tidak cukup buat nelpon. Rupanya aku lupa mengisi pulsa sebelum berangkat. Masya Allah…
Aku dan bapak menyeberang jalan ke arah yang salah. Melewati dua jalan raya dan dua rel kereta api. Sudah salah menyeberang, lalu ada sopir taksi yang sotoy dengan alamat ini. Dengan pedenya supir taksi itu berlagak mengerti alamat Sintesa yang kami tanyakan. Kami pun masuk ke dalam taksi. Kemudian taksi melaju ke arah Pasar Minggu, muter-muter dan tentu saya… Nyasar!
Kami terus menanyakan alamat SINTESA ke orang-orang di sepanjang jalan. Banyak orang yang menjawab nggak tahu. Taksi lalu berjalan perlahan mencari orang yang bisa ditanyai di pinggir jalan. Kemudian tampaklah seorang ibu-ibu. Kami segera keluar dari taksi dan bertanya lagi, ibu separuh baya itu mundur dan tampak ketakutan. “Waduh apa dikira mau ngrampok?” Batinku. Sekejap kami saling bertukar pandang dengan ibu itu. Lalu dia menjawab tidak tahu.
Ternyata aku baru sadar, basecamp SINTESA itu memang benar terletak di gang tepat di jembatan waktu kami turun dari bus. Di Jembatan Biru. Nah, akhirnya bisa ditebak. Taksi berbalik ke tempat semula. Sebelnya minta ampun, tetapi aku harus positive thinking (baca: positip ningkring). Kuanggap naik taksi dengan ongkos puluhan ribu itu jalan-jalan santai di pagi-pagi buta. Esih petheng ndedet soale.
Akhirnya Kami masuk Gang Material lalu memasuki rumah kontrakan. Namanya “Wisma Arjuna” (Wismanya lelaki). Tiba-tiba keluarlah penampakan senior dari dalam kontrakan itu. “Eh lagie bocahe” Batinku. Sebut saja Rofi’i (Teknik Elektro 2006), dia keluar mengenakan sarung dengan kondisi yang masih awut-awutan. Kukira aku mau disambut dengan karpet merah dan ucapan selamat datang diiringi kuntulan, eh ternyata dia cuma menanyakan “Anda siapa ya?”
Aku akhirnya harus menjelaskan bahwa inyong kuwe kandidat untuk karantina SBB. Susah memang ngobrol sama orang kriyep-kriyep. Oh ya, sebentar. SBB adalah satu program SINTESA yang dibuka pertama kali pada angkatanku. Sintesa merekrut sekitar 10 anak yang dipilih se-Kota dan Kabupaten Tegal untuk menjalani karantina di kosan terpencil, di Kukusan Kelurahan alias Kukel. Program ini dibiayai oleh Pemerintah Kota. Biaya kontrakan, formulir SPMB, dan fasilitas lainnya ditanggung oleh Pemerintah Kota Tegal. Harapanku, mudah-mudahan tiap tahunnya Pemerintah Kota dan Kabupaten bisa menyiapkan anggaran yang besar untuk program karantina persiapan SPMB ini. Amin.
Setelah bergas ora kriyep-kriyep maning, senior itu lalu mengantar ke jalan yang tadi. Kami menyeberang jembatan lalu naik ojek Kami naik ojek sampai ke Kukel (lihat paragraf awal). Muzani yang belum adhus menyambutku di gerbang pintu perjuangan. Pintu Kukel. Setelah mengantarku, bapak langsung mampir ke saudara yang berada di sekitar Monas.
Di kontrakan inilah setiap hari kami digembleng dengan soal-soal SPMB selama sebulan lebih. Ratusan bahkan ribuan soal harus kami lahap tanpa kenal lelah. Setiap Minggu kami mengikuti Try Out untuk mengasah skill. Sintesa telah menerjunkan anggota-anggota khusus, para pengajar ahli SPMB beserta pakar bimbingan konseling dan jurusan. Tidak lupa sarana seperti modul, alat belajar mengajar, kompor, panci mini, dan rice cooker disiapkan. Tentu agar kami menjadi “Keminclong lan moncer pikirane”
Di karantina yang mirip “Akademi Fantasi” ini, aku tidak sepintar teman-teman lain. Mereka kuanggap banyak yang jenius. Kemampuanku pas-pasan. Tapi bagiku itu tidak masalah. SPMB itu bukan hanya masalah pintar tapi juga strategi. Lama kelamaan aku menyadari ada sebuah “kemonotonan” dalam teknik pembuatan soal SPMB. Soalnya serupa tapi tak sama dengan soal-soal tahun kemarin. Itu kuncinya.
Setelah kuliah, barulah aku tahu yang bikin soal SPMB itu kadang ada yang males bikin soal. Seorang manusia tidak akan mengurusi pembuatan soal SPMB saja. Dia mempunyai istri yang harus diurusi, rekening telepon, listrik, cicilan mobil, cucian yang numpuk (subyektif, tapi menurut aku ini realitas). Bukalah mata, banyak urusan dibalik pembuatan SPMB. Sehingga “copy-paste” kadang menjadi jawaban para pembuat soal. Itu yang membuat optimisme aku terus bergerak. “Masak udah ngehafal trus mahamin ratusan ampe ribuan soal nggak ada yang keluar sih. Gila kali Ndro?”
Terbukti banyak soal yang sama persis dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalo udah paham dan hapal, ngerjain soal seperti ini bisa sambil “merem-melek” saja. Aku hanya bermodalkan menghapalkan soal, memahami materinya, kemudian menguasai konsepnya. Sederhana tapi canggih. Aku menyebut itu strategi. Orang pintar itu sudah banyak, tapi kadang saking sombongnya, orang pintar lupa ada orang yang punya strategi. Rasain lu…
Kembali ke tempat karantina, di tempat karantina itu aku mulai mengenal banyak Senior. Senior Sintesa rata-rata baik hati. Mereka juga sangat perhatian saat membantu dan mengajar kami. Dulunya Sintesa pernah membantu mereka. Mereka ingin membalas kebaikan Sintesa sebagai wujud terima kasih mereka pada Sintesa. Aku ngefans pada senior seperti Mas Udin (Matematika 2005) yang terus membantu aku sampai saat ini, Mas Pandhu (Fisika 2005), Mas Ipin (Sipil 2005), dan Mas Novel (Hukum 2005). Mas-Mas serta Mbak-Mbak lain yang tidak bisa disebutkan jasanya satu persatu. Semoga Allah membalas kebaikan mereka. Lancar jodoh. Amin.
Dari begitu banyak senior di sana, aku terinspirasi pada seorang senior yang bernama Casmito (Geografi 2005). Dia pernah berkata “Sungguh Sayang sekali ahli Geografi masih sangat sedikit di negeri seluas negeri kita”. Dari kalimat itulah aku teringat bahwa dari SMP sampai SMA, pelajaran yang sangat kucintai adalah pelajaran Geografi, maka aku memutuskan untuk memilih Geografi sebagai jalan hidup aku. The Way of Life…
SPMB tiba, aku mujur 100%. Dapat tempat di dekat kontrakan. Tinggal mencolot sebentar langsung sampai ke lokasi SPMB di Fakultas Teknik. Ada satu pantangan sebelum SPMB. Jangan memakan makanan pedas atau kopi di malam harinya. Kenapa? Karena aku melanggar itu dan merasakan akibatnya. Aku hampir ditinggal kandidat lain karena paginya terlalu lama di kamar mandi. Bahasa Tegale “wetenge mules”
Singkat cerita, akeh nemen pria dan wanita yang mau ikut test SPMB. Ada yang rambutnya dicat, ada yang dandanannya kayak artis. Rupanya ada yang sempet ke salon sebelum SPMB. Marshanda pada waktu itu test bareng aku (meski beda tempat). Sangat membanggakan test bareng artis. Bisa buat cerita di kampuang nan jauh di mato. Di hari-hari selama SPMB tidak lupa aku terus berdoa.
Hari pengumuman (beberapa Minggu setelah SPMB) datang. Aku rundag banget. Aku takut jawabanku salah, aku takut mengecewakan orang tua, aku takut mengecewakan Tegal tercinta, aku takut gagal, dan hanya bisa berpasrah kepada Dzat yang menghilangkan ketakutan, Gusti Allah. Setelah penantian panjang di Tegal, dengan Rahmat Allah Subhanahu Wataa’la akhirnya…
Sujud syukur kulakukan setelah mendengar kabar dari Muzani. Alhamdulillah keterima di Geografi UI !!! Sedihnya banyak teman-temanku yang tidak diterima. Baik yang belajar di NF maupun yang dikarantina bareng aku. Dari 10 orang, hanya beberapa yang lolos. Aku bersyukur kepada Gusti Allah yang telah memberikan kesempatan ini. Peserta SBB 3 orang masuk UI, satu orang masuk IPB (Muzani sing lagi kae durung adhus). Kejadian ini semakin menyadarkan aku bahwa pintar bukan merupakan jaminan.
Beberapa hari setelah pengumuman, tibalah waktu registrasi. Aku disuruh berangkat sendirian dari Tegal ke UI oleh bapak. Katanya biar mandiri. Lalu diberi uang tunai seadanya (ya memang adanya segitu). Kata bapak, “Hati-hati kalo bawa uang tunai ke Jakarta”. Saking hati-hatinya Bapak menyuruh aku menaruh uang di sepatu. Duite bapak mung-munge sekitar tiga setengah juta nempel di sepatu aku buat registrasi. Mantap…
Wow, bayangkan seorang dari desa ke Jakarta sendirian dan membawa uang tunai sebanyak itu karena belum punya ATM. Naik bus Dewi Sri jurusan Kampung Rambutan dan kurang beruntungnya, ternyata bus itu tidak masuk Terminal Kampung Rambutan. Aku diturunkan di jalan yang bercabang-cabang namanya Pasar Rebo di pagi-pagi buta. Setelah diturunkan, aku hanya mlongo bagaikan kebo mau naik lift. Ini Jakarta, mlongo sedikit duit bisa melayang pikirku. Bisa gak jadi kuliah gara-gara dirampok nih. Dengan sedikit sotoy aku berlagak nunggu. Nunggu dan nunggu membuat kecurigaan tukang Ojek.
“Mau kemana Mas?” Kata tukang ojek. “Depok” Jawabku singkat. “Naek ojek aja ayo Mas!” Katanya. Waduh, kebayang berita patroli seorang calon mahasiswa UI tergeletak di tengah kebon dengan kepala ilang. Dengan agak takut-takut aku mengiyakan ketimbang berada di jalan ini ntar tambah runyam. “Berapa duit Pak?” Tanyaku. “Dua lima deh Mas, Depok jauh Mas”. Lalu kutawar “Wah, lima belas ribu aja Pak, gimana?” Tukang ojek itu kemudian mengiyakan setelah lamaaaaaaa berpikir. Tanpa mengenakan helm, terpaksa berang berang makan coklat. Berangkaaaaat…
Dalam hatiku: “Kasian amat ini Bapak, ayam di kandangku belum kukuruyuk dia udah mencari nafkah buat anak istrinya”. Di perjalanan, aku ngobrol banyak dengan bapak ini, sempat hati mungilku merasakan iba. Setelah sampai di depan gang Material, aku membayar tukang ojek ini 15 ribu sesuai perjanjian. Lalu aku menambah 2 ribu lagi karena merasa iba. Aku ceritakan pengalaman ini pada Mas Emil Yakun (Kimia 2005). Aku kaget dan terperangah mendengar pernyataannya. Kata Mas Emil, “Kalo naik angkot dari tempat kamu turun paling cuma bayar 3000 perak”. Waduh, sekali lagi aku menjadi korban transportasi Jakarta.
Kemudian datanglah hari simulasi kuliah yang sudah dimulai sejak awal Ospek. Simulasi ini namanya OBM. Jumlah anak dalam satu kelas sekitar 40 anak bercampur dari berbagai Fakultas dan jurusan. Hari pertama aku tidak masuk karena mengurus keringanan uang pangkal. UI sangat perhatian pada mahasiswanya yang mengurus keringanan uang pangkal sebagaimana pengalaman senior-seniorku. Kemudian hari kedua aku masuk telat dan satu lagi ganjalan, letak kelasku di Engineering Center dan harus naik lift. Tidak kebayang olehku saat itu bagaimana menggunakan lift.
Bisa ditebak, aku hampir putus asa karena hari sudah mulai siang. Di depanku ada satu benda kotak aneh, namanya lift. Aku biasa melihat lift tapi tidak bisa mengoperasikannya. Tiba-tiba ada seorang gadis (pasti gadis mau OBM) berlari-lari dan membuka lift dengan nafas tak beraturan. Aku masuk ke dalamnya. Dia memencet-mencet tombol. Disitu kami saling berkenalan. Adegan ini mirip-mirip iklan Axe. Sayangnya aku gak pake parfum, natural aja. Belajar dari kejadian ini, aku sering berlatih menggunakan lift di Rektorat UI dengan baik dan benar. Sekarang aku sudah expert memakai lift.
Ketika masuk kelas, semua anak melihat ke arahku (maklum telat). Dosennya lalu bertanya: “Dari mana Mas?” Kujawab dengan keras “MIPA Pak!” Dosennya bertanya lagi: “Bukan, dari kota mana maksudnya?” Aku menjawab “TEGAL” (dengan aksen tebbbal). GERRRR… Spontan semua anak yang ada di kelas tertawa terbahak-bahak. “Wong Tegal, Wong Tegal, Warteg, Warteg…” Kata mereka agak meledek.
Ingin rasanya berteriak “Weh, Kalau nggak ada warteg, orang Jakarta bisa mati kelaparan!!!” Dalam hati, aku tetap selalu optimis. Sebentar lagi jangan-jangan yang jaga warteg kuliahnya harus S2. Mungkin itu adalah pertanda jika Warteg akan menguasai dunia.
Aku menjadi terkenal di kelas itu sampai sekarang karena aku orang Tegal yang menurut mereka cukup pede dan unik mungkin. Jadi mereka tertarik denganku. Ada cewek yang sampai histeris tertawa–tawanya dan terus mendekatiku waktu itu. Berusaha memastikan apakah aku memang polos alami atau polos dibuat-buat dan hasilnya aku memang polos alamiah. Selanjutnya kami semua di kelas itu bersahabat sampai sekarang.
“Kamu sih tinggalnya di lantai pira?” Keceletot alias keceplosan sangat sering terjadi mengingat keceletot merupakan proses yang wajar. Tidak jarang kalimat “Daning kamu ke sini?” atau “Perut gue ngelih, mangan dulu yuk!” Kadang keluar dari lisan tanpa sadar. Beginilah transisi bahasa Tegal ke Jakarta. Harap maklum. Ini adalah proses awal wong Tegal hidup di Jakarta.
Aku tinggal pertama kali di asrama UI selama sebulan. Mengingat kata senior, akan banyak kenalan dan pengalaman hidup di asrama. Asrama UI memiliki lebih dari seribu kamar. Menampung ribuan mahasiswa dari Sabang sampai Merauke, dari Jongor sampai desa Jejeg Bumijawa. Aku akrab dengan teman-teman dari berbagai daerah. Berteman dengan siapa saja termasuk penjaga warung.
Saking akrabnya sama si penjaga warung, aku selalu makan tepatnya di belakang etalase lauk pauk. Sementara teman temanku makannya di meja makan asrama. Mungkin teman-temanku mengira aku adalah penjaga warung itu. Mbuh baen yah, Bagi aku, kenal dengan penjaga warung adalah aset yang berharga. Bisa dikasih murah kalo bayar. Jadi ingat tukang ketoprak yang kadang membisikkan: “Biasanya aku jual 5 ribu, tapi karena kita daerahnya sama, buat kamu 4 ribu saja. Aku wong Krandon lho Mas”
Saking penampilannya ndesa mungkin, pernah aku disangka tukang fotokopi. Pada waktu ospek, tempat fotokopian ramai sekali. Aku berada di belakang etalase memakai kaos oblong ukuran L. Lalu ada seorang cewek yang menyuruh aku untuk memfotokopikan kertasnya. Kujawab dengan enteng “Bukan aku Mbak yang foto kopi, itu yang lagi di dalem”. Gadis itu ngacir kabur malu sama aku. Mungkin kalo dilanjut bisa kaya cerita di sinetron-sinetron. Cinta bersemi di fotokopian.
Di asrama aku cuma satu bulan. Nggak betah karena asrama rame banget. Berisik. Kemudian lanjut ngontrak sama temen-temen di Wisma Arjuna, Basecamp Sintesa yang murah meriah. Ada jargon yang mengatakan “Penghuni Wisma Arjuna adalah calon orang sukses”. Memang terbukti. Aku melihat mantan penghuni Wisma yang sudah alumni banyak yang sukses.
Berkaca pada masa lalu, dulu aku sempat kepikiran UI hanya buat kaum borjuis dan konglomerat. Banyak anak pintar dengan kacamata besar dan tebal. Hal-hal seperti inilah yang membuatku mengeluh: “UI itu cuma buat orang kaya, orang desa kayak saya gak mungkin kuliah di situ. Itu sekolahnya artis. Saya mana mungkin bisa jadi artis?” tapi tetap saja kubantah dalam hati, hal yang jaiz, tidak akan berubah menjadi mustahil aqli. “Lha wong Gunung saja bisa njeblug kok, masa gak mungkin kuliah di UI” Batinku.
Lha setelah aku kuliah, anak UI itu ternyata biasa-biasa saja. Kacamatanya nggak setebal yang kubayangkan dulu. Temanku ada yang datang dari Nusa Tenggara Timur (untung dia nggak naik kuda liar ke Jakarta), ada juga dari pucuk gunung di Wonosobo, ada anak tukang bangunan, ada anak nelayan. Ada yang harus lewat belantara hutan di Sumatera buat kuliah di UI. Ada juga yang harus naik pesawat pengangkut barang kalau mudik, macam-macam ras dan suku dari berbagai daerah.
Banyak hal baru dan menarik yang kutemukan di UI. Aku senang sekali bisa kuliah di sini dengan berbagai fasilitas yang sangat lengkap. Ana bis sing bisa muter-muter kampus Jon! Angger nang kampus liya pada bangga nganggo BMW ato Mercy, Kyeh, aku kuliahe nganggo bis len, kancane aku sing Citayam malah mangkat kuliah nganggo sepur…” (tapi tak rasa esih kalah karo nang Tegal, padahal cah wadon, kancane inyong ana sing mangkat SMA-ne MBECAK loh)
Aku jadi lupa masa SMA. Dulu aku termasuk siswa yang gaulnya “cupu”. Aku menyadari keterbatasan dan kekurangan aku dalam beberapa hal termasuk “cupu”. Tapi, di tengah semua keterbatasan yang ada, aku mempunyai satu mimpi yakni bisa kuliah di UI dan menjadi orang yang tidak “cupu” (nggak cupu = ”Berguna bagi nusa dan bangsa”)
Aku seperti sebagian teman-teman di Sintesa, mengajar privat untuk menambah pengalaman dan juga mendapatkan tambahan penghasilan. Mengajar Geografi untuk SIMAK-UMB-SNMPTN menjadi hobiku di sana. Mengajar privat sangat populer di kalangan Sintesa. Nyatanya, memang murid-murid SD sampai SMA di Jakarta banyak yang membutuhkan guru privat. Jumlah murid peminat privat lebih banyak dari guru privatnya. Tidak sebanding. Jadi sangat mudah mendapatkan murid untuk privat. Ini jelas menjawab pertanyaan anak-anak SMA di Tegal yang bingung bagaimana biaya hidup di Jakarta nanti.
Di akhir cerita ini aku teringat desa kecilku. Seperti di Gembong, desa Mas Openg, Orang-orang di desaku sangat sedikit memberikan perhatiannya pada dunia pendidikan. Seakan-akan sudah menjadi budaya bahwa setiap kali lulus SD atau paling banter SMA anak-anak mereka langsung diterjunkan untuk kerja. Laki-laki ke rumah juragan logam, ngepon atau mbubut. Yang perempuan kadang di rumah saja, nunggu dilamar orang. Sungguh memprihatinkan.
Satu waktu, kadang waktu Bapakku cerita ke orang-orang desa, anake inyong kuliah nang UI, mungkin orang-orang hanya mlongo, karena banyak yang tidak tahu UI. Apalagi MIPA, apalagi Geografi. Seolah mereka berkata “So what? This is not my business!” (wong Tegal jebule akeh sing bisa bahasa Inggris)
Aku sangat menyarankan kepada adik-adik yang masih di SMA, kuliah itu tidak harus di UI. Sekarang banyak pondok pesantren, akademi, ikatan dinas, dan Universitas yang bagus serta prospeknya cerah. UI bukan satu-satunya pilihan untuk berkuliah. Tetapi bila sekali lagi UI adalah keyakinanmu dan pilihan hidup yang harus ditempuh, maka persiapkanlah ini baik-baik. Kalau bisa latihan mengerjakan soal SPMB itu harus dimulai dari kelas 3 atau bahkan 2 SMA. Karena semakin ke depan persaingan yang akan terjadi akan semakin berat
Aku mulai latihan mengerjakan soal SPMB semenjak kenaikan kelas 3. Saking asyiknya sampai-sampai aku pernah ketahuan guru sedang mengerjakan soal matematika SPMB padahal saat itu bukan jam pelajaran Matematika. Untung gurunya baik. Aku cuma dinasehati agar jangan membuka buku pelajaran lain di luar jam belajarnya.
Menurut aku, UI itu adalah sebuah menjadi sebuah takdirku. Takdir seorang dari Desa Talang. Dari awal, nggak pernah membayangkan bisa kuliah di UI. Tetapi doa-doa orang tua, guru ngaji, keluargaku, teman-teman, sahabat, dan orang-orang sekitar mengiringi usahaku dalam belajar. Doa diri sendiri dan orang lain itu penting. Tidak bisa dipisahkan dari sebuah usaha. Tidak lupa aku kepada orang tua-tua dulu yang menyuruh banyak bersilaturrohim dan bersedekah. Biar dapet ridhonya Gusti Allah dan cita-cita dipermudah.
Tidak lupa pula dulu aku bersekolah di TK Masyithoh, SD Talang 1, merantau ke SMP 2 Tegal, kemudian ke SMA 1 Tegal. Masuknya aku ke UI tidak lepas dari peran penting guru-guru yang membimbing aku nggambar gunung (waktu TK) sampai belajar Biologine Bu Susi bab pembuahan (SMA). Sungguh guru-guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Apalagi guru yang mengajarnya ikhlas tanpa tendensi. I Love You Full…
Cita-citaku sendiri sederhana. Ora pengin dadi dokter karo pilot kaya jaman SD. Aku ingin pulang, berkontribusi, dan bermanfaat dalam pembangunan Tegal tercinta. Bentuk kontribusinya apakah menjadi seorang ahli masterplan hidrologi, ahli remote sensing, seorang pakar kajian lingkungan hidup strategis (KLHS), ahli pembangunan wilayah dan perkotaan atau menjadi seorang dosen di kota tercinta, semua itu terserah Gusti Allah. Kewajiban aku hanya berusaha maksimal dalam mempelajari Geografi secara holistik dan komprehensif.
Akhir kalimat, mudah-mudahan cerita aku tentang sedikit pengalaman ndesani ini bisa menghibur dan bermanfaat, khususnya bagi yang wong ndesa yang mempunyai cita-cita melanjutkan kuliah di UI. Semangat! Semangat! Tidur! (Semangat terus lupa tidur)
“…dari TK Masyithoh ke UI. Belajarlah, manusia tidak terlahir dalam keadaan pintar”




